• May 25, 2026
Aktivis kembali turun ke jalan dan memprotes proyek reklamasi Teluk Benoa

Aktivis kembali turun ke jalan dan memprotes proyek reklamasi Teluk Benoa

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Ironisnya, proyek daur ulang tersebut justru disetujui oleh Gubernur Bali sendiri

BALI, Indonesia – Ribuan massa Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali turun ke jalan pada Kamis 25 Agustus. Mereka berdemonstrasi besar-besaran menolak rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektare yang dilakukan PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI).

Aksi yang dimulai pada sore hari ini digelar dengan pentas perjalanan panjang. Mereka memilih berdemonstrasi di depan gedung DPRD Bali.

Selain berorasi secara bergantian, massa juga menyerbu rumah warga. Mereka bahkan naik ke atap gedung yang terletak di kawasan Renon, Denpasar. Selain isu penolakan pemulihan Teluk Benoa, mereka juga menolak upaya kriminalisasi koordinator mereka, I Wayan Gendo Suardana.

Menurut koordinator ForBALI, I Wayan Gendo Suardana, aksi ini untuk kembali menunjukkan tekad perjuangan masyarakat Bali menolak reklamasi Teluk Benoa. TWBI berencana membangun 12 pulau buatan dan menjadikannya resor, pusat perbelanjaan, dan taman bertema khusus.

“Kami mendesak agar reklamasi Teluk Benoa dibatalkan,” ujarnya.

Usai berunjuk rasa di depan Gedung DPRD, massa kemudian membubarkan diri. Namun, hal ini tidak berarti protes telah berakhir.

Mereka justru menggelar aksi lain di berbagai titik. Di sejumlah kawasan, massa terlihat membakar ban bekas untuk menutup jalan. Hal ini terlihat di sekitar pintu masuk kawasan Kuta.

Proyek mewah

Pada tahun 2014, sebelum meninggalkan jabatannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan keputusan presiden untuk menjadikan Teluk Benua sebagai kawasan revitalisasi. Pengembang TWBI kemudian mengumumkan akan melakukan proyek daur ulang besar-besaran.

Menurut TWBI, dengan terealisasinya proyek ini akan menciptakan kurang lebih 200 ribu lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian Pulau Bali. Selain itu, akses menuju kawasan proyek menjadi lebih mudah setelah diresmikan Tol Mandara pada tahun 2013.

Menurut pakar lingkungan hidup, kawasan hutan bakau, terumbu karang, dan pantai di Teluk Benoa harus dilindungi. Belum lagi, terdapat 24 candi yang dianggap suci bagi umat Hindu.

“Hubungan antara manusia dan alam sangat kuat. “Harus dipertahankan,” kata juru bicara LSM Conservation International, I Made Iwan Dewantama.

Aktivis organisasi ForBALI membantah adanya dampak positif yang bisa dirasakan masyarakat Bali melalui proyek tersebut. Mereka bilang, justru angka pengangguran di pulau tak berpenghuni dekat Teluk Benoa itu.

ForBALI menilai pulau berjuluk 1000 Pura itu tak lagi membutuhkan resor baru karena pembangunan gedung akomodasi berlangsung sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak kamar hotel yang justru kosong pada waktu-waktu tertentu.

Didukung oleh Gubernur

Namun ternyata proyek tersebut mendapat dukungan penuh dari Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Menurut dia, Teluk Benoa kini berlumpur, dipenuhi sampah, dan perlu revitalisasi. Ia bahkan yakin proyek tersebut tidak akan menimbulkan banjir.

“Kalau permukaan air laut naik, kenaikannya tidak drastis,” ujarnya.

Menurutnya, kekhawatiran tersebut tidak terjadi di negara lain yang telah melakukan proyek daur ulang.

“Singapura terus konsisten melakukan reklamasi lahannya, begitu pula Belanda. Mereka melakukan daur ulang di seluruh provinsi. Apakah mereka tenggelam? Tidak,” kata Pastika.

Dia mengatakan, di pulau buatan tersebut, pengembang akan menanam hutan bakau di sekitarnya yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap peristiwa alam seperti tsunami. – dengan pelaporan AFP/Rappler.com

Togel SDY