Apa pendapat cagub-cawagub DKI soal reformasi birokrasi dan pelayanan publik?
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta akan mengikuti debat publik kedua pada Jumat, 27 Januari. Mereka akan berkompetisi selama 1,5 jam pada 3 topik.
Kali ini topik yang dibahas adalah reformasi birokrasi dan pelayanan publik, serta kebijakan tata kota. Tiga pasangan calon akan beradu argumentasi dengan moderator Tina Talisa dan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Eko Prasodjo.
Meski jawaban yang akan diberikan para kandidat masih menjadi misteri, namun rencana dan pandangan mereka terhadap topik tersebut sebenarnya sudah berkali-kali diungkapkan sebelumnya.
Reformasi birokrasi dan pelayanan publik
Program kerja pasangan calon nomor 1, Agus Harimurti Yudhyono dan Sylviana Murni, terkait reformasi birokrasi ada satu. Dalam pidatonya yang disampaikan pada Oktober tahun lalu, ia menyatakan akan memperkuat kualitas pemerintahan dan birokrasi.
Bagi putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, program pemerintah provinsi selama ini sangat buruk. Penting bagi PNS untuk melayani masyarakat dengan penuh kesadaran agar pemerintahan berjalan lancar.
Menurut Agus, salah satu poin pentingnya adalah seni memimpin. “Jangan menciptakan suasana kerja, suasana birokrasi yang penuh rasa takut, takut dipecat,” kata suami Annisa Pohan ini.
Ia juga berpasangan dengan Sylviana Murni yang memiliki pengalaman 31 tahun di birokrasi pemerintahan. Ia yakin perpaduan dirinya dan Sylviana mampu menjelaskan persoalan birokrasi di Jakarta.
Sedangkan pasangan nomor 2, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, tentu juga pengalaman di bidang ini. Berbeda dengan Agus yang menempatkan poin tersebut di bagian bawah programnya, Ahok-Djarot justru menjadikannya sebagai program utama.
“Kami jamin birokrasi Jakarta akan menjadi nomor satu di Indonesia,” kata Ahok pada Desember tahun lalu. Salah satu caranya adalah dengan memberikan jabatan resmi hanya kepada PNS yang benar-benar mengabdi dan menerima gaji besar.
Sesuai dengan gayanya pada masa pemerintahannya, Ahok tak segan-segan memecat pegawai koruptor. Menurut dia, hal tersebut akan menimbulkan permasalahan pada birokrasi lainnya.
Salah satunya adalah keikutsertaannya dalam perumusan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengatur reformasi birokrasi di seluruh Indonesia saat masih duduk di Komisi II DPR RI. Salah satu produknya adalah laporan kinerja atau rapor. Jadi atasan tidak bisa begitu saja memecat bawahannya tanpa melihat rapornya.
Salah satu bukti bahwa program ini lebih baik dari pasangan yang sudah ada juga disampaikan Djarot pada debat pertama.
“Sekarang, ketika tahun ajaran baru dimulai, ibu-ibu datang ke pegadaian untuk menyekolahkan anaknya. Sekarang tidak ada keluhan bagi mereka yang tidak mampu berobat ke rumah sakit karena biaya. Sebab, seluruh biaya rumah sakit kelas tiga akan ditanggung Pemprov DKI. Begitu pula mereka yang kebetulan sakit di rumah dan membutuhkan pertolongan dari pemerintah akan ada untuk membantu mereka,” kata mantan Bupati Blitar ini.
Pasangan calon nomor urut 3, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno, punya rencana tak jauh berbeda dengan Ahok dan Djarot. Mereka berencana melanjutkan sistem perbaikan yang diterapkan petahana.
“Tentunya kami juga akan menggunakan sistem tersebut hadiah Dan hukuman “Seperti yang diterapkan petahana, karena hampir seluruh dunia menggunakan sistem ini,” kata Anies.
Sandi pun mengiyakan ucapan rekannya itu. Namun penilaian apa pun yang mereka berikan tidak akan dipublikasikan.
“Kami pasti akan menghukum mereka yang kinerjanya buruk dalam transfer setelah proses dilakukan periksa kembali dan konfirmasi, tapi tidak perlu membuat heboh masyarakat dengan ekspresi kemarahan yang berlebihan,” kata Sandiaga.
Perencanaan kota
En-Sylvi menilai Pemprov DKI saat ini cenderung lemah dalam perencanaan dan pemanfaatan lahan. Mereka menyoroti rendahnya jumlah ruang publik di ibu kota.
Buruknya ketersediaan ruang publik berdampak jangka panjang terhadap kualitas dan kesehatan mental penghuninya, khususnya tumbuh kembang generasi muda, demikian tertulis dalam 7 permasalahan utama di Jakarta yang telah dijelaskan sebelumnya.
Selain itu, mereka juga menyoroti terputusnya akses masyarakat menuju pantai. Agus juga mengatakan, daur ulang yang ditandatangani Ahok tidak selalu selaras dengan tata ruang dan tata guna lahan.
Oleh karena itu, mereka berencana menambah jumlah ruang terbuka, meningkatkan akses masyarakat terhadap tempat rekreasi dan memanfaatkan lahan terlantar untuk pertanian masyarakat atau perkotaan.
“Dengan dilaksanakannya program aksi ini diharapkan luas ruang terbuka hijau yang saat ini di bawah 10 persen dapat ditingkatkan hingga di atas 15 persen,” tulis Agus-Sylvi.
Pasangan ini juga mengungkapkan rencana membangun desa terapung untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan dan penggusuran.
Ahok dan Djarot memiliki program bertajuk “Perencanaan Kota: Mewujudkan Kota yang Semakin Nyaman Bagi Penduduknya”.
Targetnya mendorong pembangunan ke selatan karena Jakarta Utara terancam tenggelam akibat turunnya permukaan tanah; membangun apartemen terintegrasi dengan akses publik; penyelesaian RTH dan 500 RPTRA; daur ulang terus menerus; perbaikan fasilitas seperti trotoar dan jembatan penyeberangan orang; revitalisasi desa nelayan; dan revitalisasi kawasan pemukiman padat penduduk.
Sementara Adas Manis-PasirSaya berencana untuk melibatkan perencana kota dan aktivis, melibatkan warga dan memprioritaskan keadilan sosial. Mereka juga berencana untuk menerapkan kebijakan mengemudi kota untuk menghindari penggusuran.
Menurut Anda, apakah jawaban mereka akan tetap konsisten atau pasangan calon punya metode dan terobosan baru?—Rappler.com
BACA JUGA: