Bisakah Jokowi menyamakan harga BBM di Papua dan Jawa?
keren989
- 0
Dengan adanya keseragaman harga, Jokowi berharap bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat
JAKARTA, Indonesia – Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan kembali mengunjungi Papua mulai Senin 17 Oktober. Dalam kunjungannya selama tiga hari, mantan Gubernur DKI ini mempunyai tiga program kerja, yakni peresmian harga bahan bakar minyak (BBM), peresmian bandara Nop Goliat, Dekai, dan proyek PLN.
Untuk program pertamanya, Jokowi cukup ambisius. Dalam pidatonya ia ingin ada kesetaraan harga BBM di Papua dan di Pulau Jawa.
“Di Jawa (BBM) hanya Rp 7.000 per liter, sedangkan di sini sampai Rp 100 ribu per liter. Di Wamena (harga BBM) per liternya Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu per liter. Saya tidak bisa seperti itu. “Di (wilayah) barat dan tengah (Rp 7.000), di sini harganya harus sama,” kata Jokowi seperti dikutip dari keterangan tertulis dari Biro Pers Istana pada hari Senin, 17 Oktober.
Ia meminta Direktur Utama Pertamina mencari solusi agar keinginan tersebut bisa segera terwujud. Tantangan yang dihadapi, kata Jokowi, bukanlah soal untung dan rugi. Padahal, dengan keseragaman harga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Harganya harus sama dan diharapkan ada pergerakan ekonomi di sini. “Kelebihan (pasokan) listrik, harga BBM sama, maka akan ada pergerakan ekonomi,” ujarnya.
langkah pertamina
Menanggapi permintaan tersebut, PT Pertamina menyatakan wilayah di Papua bisa mendapatkan bahan bakar premium dengan harga nasional Rp 6.450 per liter dan solar Rp 5.150 per liter. Hal ini dilakukan dengan menyediakan lembaga distribusi seperti SPBU atau Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di berbagai wilayah di Papua.
Pertamina kemudian berinisiatif membuka beberapa APMS yang akan membuat harga BBM sama dengan SPBU. Perusahaan pelat merah itu juga akan menanggung biaya transportasi menuju lokasi APMS di mana pun berada.
“Melalui efisiensi, Pertamina memberikan subsidi biaya transportasi ke APMS. Bukan hanya Papua saja, tapi seluruh Indonesia. “Harga APMS sama dengan SPBU tahap pertama ini,” kata Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang. media saat persiapan peresmian BBM satu harga di Jayapura, Senin lalu.
Saat ini terdapat sekitar 8 daerah di Papua yang harga BBM per liternya jauh dari harga normal, karena belum tersedianya lembaga distribusi. Kedelapan wilayah tersebut adalah Pegunungan Arfak di Papua Barat, Illaga di Kabupaten Puncak, Kabupaten Tolikora, Yahukimo, Nduga, Memberamo Tengah, Memberamo Jaya, dan Kabupaten Intan Jaya.
Kedelapan wilayah ini sulit diakses untuk distribusi BBM baik melalui laut, sungai, darat maupun udara.
“Akibatnya harga pasti naik, dari SPBU ditambah biaya transportasi. Makanya ada daerah yang (harga BBM) per liternya mencapai Rp 20 ribu, ada yang sampai Rp 60 ribu per liter, bahkan ada yang sampai Rp 100 ribu per liter, ”kata Ahmad.
Lantas bagaimana cara Pertamina mendistribusikan BBM ke wilayah di Papua yang medannya sulit? Ahmad menjelaskan, Pertamina telah berinvestasi pada sejumlah transportasi pendukung. Jika bepergian ke luar negeri, bahan bakarnya dikirim dengan mobil 4X4 (off-road).
“Beberapa daerah juga bisa disuplai melalui laut, kemudian dialirkan ke sungai. Itu terjadi di Iluga, Membrano Tengah. “Yang lain harus naik pesawat,” katanya.
Untuk menghindari kerugian, Pertamina kini menggunakan konsep subsidi silang, dimana keuntungan dari daerah lain di Indonesia digunakan untuk mensubsidi biaya transportasi BBM di daerah perbatasan, terluar, dan terpencil di Indonesia.
“Di mana pun perusahaan berpikir mereka ingin mendapat untung. Dari sana, keuntungan dapat diinvestasikan kembali keberlanjutan. “Polanya akan kita ubah tidak hanya berkelanjutan, tapi juga berdampak sosial,” kata Ahmad lagi.
Ia berharap penurunan harga bahan bakar di berbagai daerah dapat membantu menekan biaya produksi, transportasi, dan logistik. – Rappler.com