BNN bekerja sama dengan Tiongkok untuk menghentikan aliran narkoba ke Indonesia
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Budi Waseso mengatakan, sulitnya mencegah obat asal China masuk ke Indonesia karena bahan dasar pembuatannya mudah didapat.
JAKARTA, Indonesia – Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan beberapa negara pemasok obat ke Indonesia untuk menghentikan peredarannya. Salah satu negara yang terlibat adalah China melalui Komisi Pengendalian Narkotika Nasional (NNCC)
Menurut Kepala BNN, Budi Waseso, China belum mengetahui secara pasti siapa saja oknum-oknum di Indonesia yang terlibat dalam bisnis narkoba. Selain itu, bahan dasar pembuatan obat (prekursor) mudah didapat di China karena sering digunakan sebagai bahan obat.
Masalahnya, bahan ini sering dijual dan jatuh ke tangan orang tertentu dan disalahgunakan. Nah, itu masalahnya, kata pria yang kerap disapa Buwas itu saat ditemui di Istana, Rabu, 4 Agustus.
Buwas mengatakan, kerja sama dengan Badan Narkotika China dimulai pada tahun 2012. Namun, ia merasa perlu diperketat karena banyak obat yang masuk ke Indonesia berasal dari negeri tirai bambu, termasuk obat yang dijual terpidana mati Freddy Budiman.
Ia mengatakan narkoba bisa dijadikan senjata dan menghancurkan suatu negara. Oleh karena itu, ia merasa permasalahan ini harus dicarikan solusinya karena peredaran narkoba juga sudah menjadi masalah global.
Bentuklah tim khusus
Sementara terkait pengusutan pengakuan Freddy Budiman, BNN telah membentuk tim khusus untuk menindaklanjuti kasus ini. Namun sejauh ini, kata Buwas, pihaknya belum menerima bukti otentik kisah Freddy yang ditulis koordinator KontraS Haris Azhar di media sosial.
“Belum, kan? Petunjuk tetaplah informasi. Salah satunya adalah bagaimana dia (Haris.red) memperoleh informasi mendiang Freddy dengan menunjukkan adanya oknum yang mengatasnamakan BNN dengan melepas kamera pengawas (CCTV) yang sedang mengawasi Freddy, ujarnya.
Buwas mengatakan, akan menginstruksikan mereka untuk mengusut kapan kejadiannya, di mana lokasinya, dan siapa saja saksi yang melihat kejadian tersebut. Sebab, jika ada CCTV maka penyelidikan akan lebih mudah.
“Kalau tidak, kami akan cari di daftar siapa yang mengatasnamakan dia. Apakah dia punya surat perintah. Kalau memang dia anggota BNN pasti punya surat perintah karena itu prosedurnya. “Kalau masyarakat datang dari mana saja, akan dimintai surat perintah, kepentingan dan kebutuhannya,” ujarnya.
Menurut Buwas, Presiden Joko Widodo belum memberikan perintah khusus terkait kasus Haris. Ia hanya berharap permasalahan narkoba di Indonesia bisa diatasi dengan menghentikan peredarannya dari luar negeri yang menjadi produsen.
Lantas apa komentar Buwas saat pernyataannya disandingkan tempo hari di markas Slank dengan kesaksian Haris soal pengakuan Freddy? Diakuinya, apa yang disampaikannya tempo hari itu berdasarkan bukti.
“Ada orangnya dan saya bisa membuktikannya. Saya tidak hanya berbicara. Ada individu di BNN. Ada oknum di TNI, Panglima TNI buktikan, termasuk oknum di Polri juga membuktikannya. “Saya bicara data dan fakta,” ujar pria yang pernah menjabat Kepala Badan Reserse Kriminal ini.
Sementara menurut Buwas, apa yang disampaikan Haris tidak berdasarkan bukti. Selain itu, pernyataan tersebut bahkan tersebar di media sosial.
“Itu justru berbahaya dan menimbulkan persepsi negatif masyarakat terhadap seseorang atau lembaga. “Jadi sama saja dengan pencemaran nama baik,” ujarnya.
Akibat pernyataan tak berdasar bukti tersebut, tim kuasa hukum TNI, BNN, dan Polri kemudian melaporkan Haris Azhar ke Mabes pada Selasa, 2 Agustus dengan dugaan pencemaran nama baik. Saat ini status Haris masih dilaporkan dan akan dipanggil ke Mabes Polri untuk dimintai keterangan. – Rappler.com
BACA JUGA: