• April 14, 2026
Buat detektor uang kertas untuk orang buta

Buat detektor uang kertas untuk orang buta

Tiga siswa SMA menciptakan alat pendeteksi uang kertas berbentuk tas pinggang yang memiliki sensor warna. Orang buta dapat mengetahui dari suaranya berapa banyak uang yang menempel pada sensor

BANDUNG, Indonesia – Karena keprihatinan atas penderitaan para penyandang tunanetra yang sering ditipu, tiga siswa SMA memulai alat pelacak uang kertas. Mereka adalah Arya Indrajaya Lukmana, Freddy Milenia, dan Prasista Ariadna Kusumadewi.

Alat pendeteksi uang kertas berupa tas pinggang yang dilengkapi sensor pendeteksi warna.

“Kami melihat ada eksperimen sosial di YouTube memperlihatkan orang buta ditipu. Yang seharusnya Rp 20 ribu malah dikasih Rp 2 ribu. Kemudian penukaran uang seringkali tidak tepat. Jadi kami berpikir, apa yang bisa kami lakukan untuk membantu, kata Arya kepada Rappler yang ditemuinya di Bandung, Minggu, 15 Oktober.

Motivasi ketiga remaja tersebut semakin terpacu ketika Yayasan Syamsi Dhuha (SDF) mengadakan Lomba Desain Alat Bantu Visual (LDABDN) dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2017 yang diperingati setiap hari Kamis kedua bulan Oktober setiap tahunnya. Ketiganya kemudian mendaftar dan berhasil menjadi salah satu finalis.

Dengan dana yang disediakan panitia, ketiganya membuat prototipe kantong jenazah pendeteksi uang kertas yang kemudian diberi nama Stromer, kependekan dari Penyimpanan uang portabel yang cerdas. Waktu yang diberikan hanya dua minggu, namun siswa kelas III SMA Negeri MH Thamrin Jakarta ini berhasil menyelesaikan prototipe Stormer.

“Tetapi karena waktu yang terbatas, Stromer hanya dapat Rp. 100 ribu hingga Rp. Pelacakan tunai 20 ribu. “Kalau waktunya lebih lama, kita bisa lacak Rp 10 ribu dan Rp 5 ribu,” kata Arya.

Steamer dapat membantu penyandang tuna netra mengenali kertas lebih cepat dibandingkan dengan sentuhan. Cara kerja Stromer adalah dengan mendeteksi warna uang kertas yang ditempelkan pada sensor.

Sensor warna dipasang pada bagian depan tas yang dapat mendeteksi warna Merah, hijau, biruDan Tampak. Saat sensornya dihidupkan, Stromer bisa mendeteksi uang mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu, baik uang lama, baru, usang, atau baru.

Penyandang tunanetra akan mengetahui jumlah nominal uang kertas yang dipasang pada sensor Stormer dari suara yang didengarnya.

“Ada sirene di sana, memberi diketahui dari pola bunyi. “Polanya saya buat sendiri sedemikian rupa sehingga tidak ribet,” ujar Arya, Ketua Tim Robotika SMANU MH Thamrin.

Sensor Stromer dirakit oleh Arya dan Freddy. Sedangkan Prasista bertanggung jawab atas desain tas yang juga berfungsi sebagai dompet. Di dalam tas terdapat kantong untuk menyimpan uang sesuai jumlah nominalnya.

Setiap kantong dilengkapi dengan jumlah nominal uang yang ditulis dalam huruf Braille sebagai penanda. Misalnya tas pertama diberi tanda braille dengan nominal Rp 100 ribu, artinya tas tersebut khusus untuk menyimpan uang Rp 100 ribu.

“Hal ini untuk memudahkan penyandang tunanetra dalam mengambil atau menyimpan uang ketika melakukan pembelian atau kegiatan yang berhubungan dengan uang,” kata remaja berusia 16 tahun ini.

Arya mengaku bangga bisa menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan timnya secara mandiri. Bahkan, dalam proses perakitannya, ia belajar sendiri melalui internet.

“Inilah yang disebut dengan The Power of Google. Untuk pengkodean“Kami belajar sendiri, otodidak,” ujar pemuda yang pernah mengikuti beberapa kompetisi robotika di dalam dan luar negeri ini.

Memenangkan tempat ketiga

Berkat inovasi dan kreativitasnya, Arya dan kawan-kawan berhasil meraih juara ketiga LDABDN 2017. Stromer dinilai sebagai karya yang inovatif.

“Kami mengapresiasi Stromer karena dialah yang menjadikan siswa SMA. “Mereka masih muda, tapi ingin memikirkan kebutuhan para tunanetra,” kata Ketua SDF Dian Syarief kepada Rappler.

Meski hanya menempati posisi ketiga, Arya bersyukur karena perjuangan untuk mendapatkan posisi tersebut tidak mudah. Ia dan kawan-kawan harus bersaing dengan puluhan kontestan yang sebagian besar adalah pelajar.

Namun yang terpenting, Arya beruntung mendapatkan pengalaman berharga setelah melihat sendiri kondisi para tunanetra. Ia terharu dengan antusiasme orang-orang yang memiliki keterbatasan penglihatan namun tetap mampu berkreasi.

Ia mengaku senang bisa menghasilkan karya yang bisa membantu para tunanetra.

“Kompetisi ini juga menjadi ajang kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.

Arya berharap suatu saat nanti ada investor yang ingin memproduksi Stromer secara massal agar bisa dijual di pasaran.

“Niat saya adalah membantu orang buta. Harapannya akan ada investor. “Kalau kita sendiri, tanpa investor kita tidak bisa berkembang,” kata Arya penuh harap. —Rappler.com

slot demo