• April 27, 2026

Buruh berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Filipina, menuntut pembebasan 10 WNI

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Organisasi buruh mengancam jika pemerintah Filipina tidak segera melepaskan 10 WNI dari kelompok Abu Sayyaf, maka mereka akan kembali melakukan protes dengan massa yang lebih besar.

JAKARTA, Indonesia – Massa yang terdiri dari berbagai organisasi buruh seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Serikat Pekerja Nasional, dan Rumah Rakyat Indonesia (RRI) melakukan aksi protes di depan gedung Kedutaan Besar Filipina di Jakarta pada Kamis, 14 Juli . . Mereka menuntut pemerintah Filipina membebaskan 10 WNI yang masih ditahan kelompok Abu Sayyaf.

“Terulangnya kasus anak buah kapal Indonesia (ABK) yang disandera dari Filipina oleh kelompok Abu Sayyaf sebanyak 4 kali dalam 4 bulan terakhir menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia dan Filipina gagal menjaga perairan Indonesia dan Filipina. “Baik pemerintah Indonesia maupun Filipina ibarat keledai karena belajar dan tidak mengulangi kesalahan dan kelalaian yang sama,” kata Sekretaris Jenderal KSPI Muhammad Rusdi saat membacakan pernyataan organisasi buruh tersebut.

Untuk itu, KSPI mengecam kelalaian dan keseriusan pemerintah Filipina terkait penyanderaan yang berulang kali terjadi di perairan Filipina. KSPI meminta pemerintah Indonesia dan Panglima TNI tidak takut mengerahkan pasukan dan membebaskan 10 WNI yang masih disandera.

Selain itu, kami juga meminta pemerintah Indonesia mengeluarkan travel warning dan menjamin keamanan perairan dari dan ke Filipina, kata Rusdi.

Dalam aksi unjuk rasa yang dihadiri ratusan orang tersebut, organisasi buruh juga membentangkan spanduk bertuliskan berbagai kitab suci. Diantaranya adalah tulisan “masuk neraka Filipina dan Abu Sayyaf” dan “Sayang. Panglima TNI akan segera melakukan operasi militer dan membebaskan para sandera TKI tersebut.

Rusdi dan perwakilan organisasi buruh diterima oleh Wakil Duta Besar Filipina di Indonesia. Dalam lima menit pertemuan mereka, Rusdi mengaku menyampaikan 3 poin tuntutan organisasi buruh, yakni meminta pemerintah Filipina aktif membebaskan 10 awak kapal yang masih disandera, dan pihak Filipina meminta pihak militer segera bekerja sama dengan Indonesia dan memastikan perairan Filipina aman.

Wakil Duta Besar Filipina berjanji akan menyampaikan tuntutan tersebut kepada pemerintah pusatnya di Manila, kata Rusdi.

Mengancam akan memobilisasi massa yang lebih besar

Rusdi meminta agar tuntutan mereka dipenuhi dalam beberapa hari ke depan. Sebab, jika tidak, mereka akan kembali ke gedung Kedutaan Besar Filipina pada pekan depan dan berdemonstrasi dengan massa yang lebih besar.

“Biasanya kita demo dengan minimal 1.000 orang,” ujarnya.

Namun muncul pertanyaan dari masyarakat, mengapa KSPI tiba-tiba prihatin dengan isu ABK yang disandera kelompok militan Abu Sayyaf? Rusdi merespons karena 10 awak kapal yang disandera termasuk pekerja. Bahkan, 3 orang diantaranya merupakan pekerja migran yang saat ini masih bekerja di perusahaan perikanan Malaysia.

“Kami tidak ingin nasib mereka berakhir seperti warga Kanada yang kemarin dipenggal kepalanya karena pemerintah terlambat memberikan bantuan,” kata Rusdi.

Usai berunjuk rasa di depan Gedung Kedutaan Besar Filipina, massa kemudian berpindah ke Gedung Kementerian Ketenagakerjaan. Organisasi buruh mengaku prihatin dan marah karena Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri tak pernah berkomentar sedikit pun sejak awal insiden penculikan ABK WNI tersebut.

Kalau perlu hari ini Menaker mundur saja, ujarnya.

Berikut video pernyataan organisasi buruh KSPI yang menuntut pembebasan 10 WNI:

—Rappler.com

BACA JUGA:

HK Malam Ini