Dari asal muasal Mr Happy hingga Kelapa Sunda
keren989
- 0
Penggusuran dan birokrasi menjadi isu terhangat dalam perdebatan ini
JAKARTA, Indonesia – Debat dua calon gubernur DKI Jakarta yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan telah berakhir. Topik penggusuran menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan dalam perdebatan ini.
Perdebatan diawali dengan pertanyaan calon wakil gubernur Djarot Saiful Hidayat hingga pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.
Bagaimana cara membangun tanpa memindahkan dan menertibkan bangunan agar warga di bantaran sungai yang melanggar mendapatkan rumah yang layak huni, tanya Djarot.
Agus menjawab, dirinya yakin warga di bantaran sungai bisa dikelola tanpa harus menggusurnya. Penggusuran, kata Agus, merupakan tindakan sewenang-wenang.
Kita semua bisa menata Jakarta tanpa harus menggusur warganya secara sewenang-wenang, kata Agus Harimurti. “Ini adalah komitmen dan kami akan memperjuangkannya.”
Jalannya sudah selesai, lanjut Agus peningkatan situs web. Cara lainnya adalah dengan melakukan peremajaan desa di tempat yang sama, tanpa perlu mencabut warga dari habitat aslinya.
Ia juga akan mengalokasikan lahan untuk mempromosikan konsep tersebut perumahan horisontal menjadi vertikal. “Tentu saja tanpa mengganggu aliran sungai.” kata Agus.
Jawaban Agus kembali dipertanyakan calon gubernur petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. Ahok mempertanyakan bagaimana Agus bisa membangun rumah di bantaran sungai padahal ada aturan yang melarang pembangunan bangunan di bantaran sungai.
Aturan tersebut, kata Ahok, ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011. Dalam aturan tersebut, bangunan yang berdiri di bantaran sungai harus ditertibkan. Pertanyaannya, bagaimana cara membangun tanpa melanggar PP nomor 38 tahun 2011 yang mengatur bangunan di bantaran sungai? tanya Ahok.
Agus tak menjawab tegas pertanyaan Ahok. Baginya itu yang paling penting niat baik dari pemerintah. “Yang penting kreatif dan terbuka terhadap berbagai masukan dari berbagai pihak,” kata Agus.
Selain persoalan penggusuran, topik lain yang hangat diperbincangkan dalam perdebatan ini adalah persoalan birokrasi. Ahok dan Djarot sebagai petahana merupakan pasangan yang paling disorot.
Agus Harimurti menuding Ahok menebar ketakutan pada anak buahnya dengan menggusur dan memecat mereka. Cara seperti ini, kata Agus, akan membuat bawahannya cenderung melaporkan hal-hal baik kepada atasannya.
Akibatnya, banyak daerah di Jakarta yang kondisinya memprihatinkan tidak pernah dilaporkan kepada atasannya karena takut dipindahkan atau dipecat.
Saya menduga hal ini terjadi karena birokrasi yang dibangun selama ini penuh ketakutan, kata Agus. “Maka akan sangat mudah baginya untuk melapor selama kamu senang.”
Agus menilai birokrasi yang penuh ketakutan ini tidak konstruktif. Rupanya, angka kinerja aparatur sipil negara di DKI Jakarta berada di peringkat 16 dari 34 provinsi. “Kalau di NTT, padahal anggarannya besar sekali,” kata Agus.
Di akhir perdebatan, Ahok mengatakan sikap kerasnya hanya berlaku bagi PNS tertentu yang suka memberikan tekanan, mempersulit, dan tidak melayani masyarakat.
“Ketika pejabat pemerintah mengingkari sumpah jabatan mereka, menekan mereka, mempersulit keadaan, kita semua melawan, kita menyingkirkan mereka.” ujar Ahok. Sebagai PNS, lanjut Ahok, harus melayani dengan penuh empati.
Anies Baswedan juga mengkritik birokrasi yang “tidak ramah” terhadap aparatur. Menurut dia, pimpinan Jakarta harus bersikap ramah agar birokrat bisa bekerja dengan tenang. Timbal itu merangkul, bukan memukul, kata Anies.
Jakarta, kata Anies, perlu dorongan positif untuk menjadi lebih baik. Bukan energi negatif. “Yang berprestasi akan mendapat imbalan positif dan tidak menghukum birokrat dengan segala korupsinya,” kata Anies.
Anies pun menyasar Ahok yang kerap sesumbar soal Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta yang saat ini tertinggi di Indonesia.
“Kami selalu bangga dengan IPM tertinggi di ibu kota. Yang aneh adalah pertumbuhan Jakarta termasuk yang paling lambat di Indonesia. Artinya, tinggi badan itu warisan, bukan buatan sendiri, kata Anies.
Memang indeks pembangunan manusia Jakarta tinggi dalam 5 tahun terakhir. Data yang dirilis BPS pada tahun 2010 – 2015 menempatkan Jakarta sebagai provinsi dengan skor tertinggi.
Artinya, Jakarta menjadi provinsi yang paling berhasil mengelola sumber daya manusia dan akses terhadap pembangunan lainnya. Namun, Anies mempertanyakan mengapa pertumbuhan Jakarta lambat.
Anies juga menyoroti penderitaan warga Jakarta yang tidak bisa menikmati pantai. “Warga Jakarta tidak pernah merasa punya pantai. Namanya Sunda Kelapa, tapi warganya tidak berminat, kata Anies. —Rappler.com