Duel tim yang monoton melawan tim yang tidak stabil
keren989
- 0
Sebuah tim tidak bisa berubah dari gaya lamanya. Tim lain masih seperti tim roller coaster.
JAKARTA, Indonesia – Leicester City menjalani awal musim yang sulit. Setelah awal musim yang sangat mulus tahun lalu, tim mendapat julukan tersebut Rubah Sekarang ini adalah liga dengan situasi yang berbeda.
Tim-tim besar mulai kembali ke jalur kemenangannya. Tak ada lagi kekalahan tim kecil yang dialami Manchester City, Manchester United, Chelsea, dan Arsenal. Musim ini, persaingan sepak bola di negeri Ratu Elizabeth itu sudah kembali “normal”. Kisah David vs Goliath yang digemari musim lalu mulai memudar.
Masalahnya, di saat tim-tim lain sedang membangun kembali skuadnya, pasukan Claudio Ranieri tak banyak melakukan perubahan dalam cara bermainnya. Juru taktik asal Italia itu masih hanya mengandalkan pertahanan ketat dan serangan balik cepat.
Dalam laga melawan Arsenal misalnya. Wes Morgan dan kawan-kawan meninggalkan Jamie Vardy di depan dan bertahan sepenuhnya. Saat permainan lawan terganggu, bola langsung dikirim ke depan dengan cepat.
Namun, skema tersebut tidak berhasil. Garis pertahanan Arsenal sedikit menurun ke dalam. Artinya, Vardy tidak bisa bergerak banyak di belakang pemain bertahan. Sayap Riyad Mahrez yang biasa menerobos pertahanan lawan tak berdaya di bawah tekanan ketat sang bek. Penembak.
Beruntung tim asal London Utara itu gagal mengkonversi beberapa peluang menjadi gol. Leicester masih “aman” dan bisa menyelamatkan mukanya di hadapan pendukungnya sendiri.
Ranieri sebenarnya menggunakan skema permainan yang sama di laga pembuka melawan Hull City. Jika melawan Arsenal mereka akan lebih senang jika bermain imbang, kali ini mereka benar-benar tidak berdaya. Nama panggilan tim Harimau itu mengalahkan Leicester 1-2.
Dalam tiga laga perdananya musim ini, pasukan Claudio Ranieri sebenarnya baru sekali menang, yakni melawan Swansea City (2-1). Catatan tersebut jelas berbanding terbalik dengan performa mereka musim lalu. Mereka tidak terkalahkan dalam 6 pertandingan pertama mereka.
Dan dalam situasi ini, Ranieri sepertinya belum bisa melakukan banyak perubahan. Salah satu alasannya adalah musim panas lalu tak banyak pilihan talenta untuk merekrut pemain di bursa transfer.
Nampalys Mendy didatangkan dari Nice untuk menggantikan Kante. Ketika sayap Ahmed Musa didatangkan untuk menambahkan tempo di lini serang tim. Sementara delapan pemain baru lainnya tak banyak memberikan variasi permainan.
Merekrut pemain “siap pakai” untuk Leicester adalah hal yang mustahil. Begitu pula memaksa tim untuk bermain di luar kebiasaannya. Yang bisa Anda lakukan hanyalah memanfaatkan peluang kecil yang muncul karena kelalaian lawan.
Tentu saja Ranieri menolak gagasan tersebut. Menurutnya, Leicester tetap menjadi tim juara. Performa mereka memang sedang menurun.
“Kami adalah juara musim lalu dan kami meraih gelar juara dengan kerja keras. Ini bukan sekadar keberuntungan,” kata Ranieri dikutip oleh BBC.
Soalnya lawan yang akan dihadapi Leicester pada pekan keempat, Sabtu 10 September pukul 23:30 WIB adalah Liverpool. Tanpa ragu sang juara bertahan akan dijamu di Anfield. Dan ini adalah pertandingan pertama mereka di kandang sendiri.
Faktanya, Liverpool tak kalah labil dibandingkan Leicester musim ini. Dalam tiga pertandingan pertama mereka menang, seri dan kalah masing-masing satu kali.
Tapi, setidaknya Liverpool mulai menunjukkan karakter barunya musim ini: agresivitas.
Pada laga pertama, pasukan Juergen Klopp mengalahkan Arsenal 4-3. Laga yang digelar di Emirates Stadium berlangsung flamboyan melawan tekanan dalam performa terbaiknya. Tim menyerang dengan cepat ketika bola dikuasai lawan dan langsung melepaskan tembakan ke gawang lawan.
Oleh karena itu, tak heran jika mereka mampu unggul 2-1, 3-1, 4-1. Permasalahan mulai muncul di sektor belakang. Tim yang sangat agresif itu keropos. Seringkali mereka lambat untuk lepas. Terutama sektor sayap yang seharusnya bisa turun lebih cepat. Arsenal nyaris menyamakan kedudukan sebelum peluit akhir akhirnya dibunyikan. Pertandingan berakhir 4-3.
Performa Liverpool yang tidak stabil tidak bisa ditangani Klopp. Namun pada laga malam ini, mantan manajer Borussia Dortmund itu optimistis. Pasalnya mereka akan bermain dengan dukungan penuh seluruh stadion.
“8 ribu orang akan mendukung kami. Ini adalah kekuatan ekstra yang tidak akan bisa mereka tandingi.” kata Klopp. —Rappler.com