Hentikan tindakan kekerasan terhadap mahasiswa Papua
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – (UPDATED) Mahasiswa Papua di Yogyakarta kini hidup dalam tekanan. Sejak Jumat 15 Juli, ormas dan polisi setempat mengepung kediaman tempat mereka tinggal.
Jefry Wenda, Koordinator Mahasiswa Papua Jawa Bali, menceritakan kondisi teman-temannya di kota pelajar yang saat ini tidak bisa keluar dari kediamannya. Bahkan, membeli bahan makanan yang jumlahnya hampir habis pun tidak diperbolehkan.
“Saat ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa. “Saya hanya mendengar makian dan hinaan yang diteriakkan pejabat dan ormas,” kata Jefry, Sabtu 16 Juli di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.
Kondisi saat ini, masih ada 7 truk polisi yang bersiaga di sekitar APondok Pesantren Papua Kamasan I Yogyakarta. Beberapa pelajar dan warga juga harus mendaftar. Bahkan ada satu orang bernama Obi Kogaya yang ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menghina pejabat.
Pengacara LBH Jakarta Veronica Koman mengatakan pihak berwenang melarang mahasiswa keluar asrama. Mereka yang berani keluar akan ditangkap karena dianggap melakukan perlawanan.
Baginya tindakan ini terlalu berlebihan. “Kalau orang mau makan dicegat dan ditangkap, apalagi ini rumahnya. Bahkan orang-orang di penjara pun tetap diberi makanan. “Kenapa polisi kita seperti itu,” kata Veronica.
Bahkan, bantuan pangan yang dihimpun masyarakat Yogyakarta dan Palang Merah Indonesia (PMI) juga tidak diperbolehkan. Saat ini, kata Vero, mahasiswa Papua hanya bergantung pada pasokan air.
Dinodai oleh tindakan kekerasan
Selain tindakan represif, sejumlah pelanggaran hak asasi manusia juga menjadi ciri pengepungan tersebut. Pihak berwenang bahkan menutup mata ketika Obi Kogoya, salah satu mahasiswa, dianiaya oleh organisasi masyarakat yang juga mengepung asrama.
Puluhan massa berseragam Pemuda Pancasila, Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia, dan Paksi Katon ikut berunjuk rasa di depan kediaman, Jumat pekan lalu.
“Aparat hanya menonton dan ikut massa, buktinya ada dalam video yang beredar luas,” kata Veronica.
Tidak berhenti pada hinaan dan pemblokiran akses pangan. Ormas yang dimaksud juga dikabarkan mengintimidasi mahasiswa dan warga sekitar dengan senjata tajam. Jefry mengatakan, teman-temannya mendapat hinaan seperti “anjing, babi” dan kata-kata hinaan lainnya yang bernuansa rasial.
Dua unit sepeda motor milik Obi dan seorang pelajar lainnya, Debi, juga disita secara sewenang-wenang oleh aparat. Berdasarkan kronologi LBH, pelaku penyitaan adalah polisi sipil.
Tindakan main hakim sendiri, atau waspada Hal ini juga mendapat pengabaian dari pihak berwenang. Untuk itu, LBH mengecam keras kejadian tersebut.
‘Presiden, jangan tutup matamu’
LBH Jakarta mengimbau Presiden Joko Widodo selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan meminta Polri dan TNI menghentikan tindakan opresif terhadap masyarakat dan pelajar Papua di mana pun.
“Presiden Jokowi Harus Segera Bertindak, Berapa Lama Tunggu? “Tunggu sampai ada banjir darah baru bertindak,” kata Veronica. Indonesia yang menamakan dirinya negara demokrasi sudah seharusnya membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa dan masyarakat Papua untuk menyampaikan aspirasinya.
Mereka juga meminta Sultan Hamenkubuwono X, selaku Gubernur Yogyakarta, memberikan jaminan keamanan dan perlindungan hak asasi manusia. Kapolda DIY, Brigjen Pol. Prasta Wahyu Hidayat agar menindak tegas pejabat yang melakukan kekerasan dan penganiayaan. Bubarkan juga aparat keamanan dan kelompok reaksioner di asrama dan sekitarnya, lanjut Veronica.
Terakhir, mereka meminta polisi melepaskan 11 orang yang terpaksa melapor dan Obi yang berstatus tersangka.
Polda DIY membantah adanya tindakan kekerasan
Sementara itu, Juru Bicara Polda DIY Anny Pudjiastuti membantah melakukan tindakan kekerasan terhadap mahasiswa Papua. Bahkan, menurut Anny, dua anggota polisi dipukuli dengan senjata tajam oleh mahasiswa Papua.
“Setelah 8 orang itu diperiksa, terbukti ada yang memukul dengan senjata tajam. Bahkan setelah diproses, kami tidak melakukan penahanan, kami hanya melapor dua kali dalam seminggu,” kata Anny kepada Rappler melalui pesan singkat, Minggu, 17 Juli.
Anny pun mengimbau masyarakat tidak mudah percaya dengan beredarnya foto-foto aksi kekerasan di media sosial. Ia menjelaskan, semua foto itu tidak benar alias berita palsu.
“Rekayasa foto bisa terjadi saat ini dengan kecanggihan teknologi informasi. “Di Yogyakarta belum pernah ada kejadian (kekerasan) seperti itu,” ujarnya lagi.
Lalu bagaimana dengan pernyataan mahasiswa Papua yang mengatakan tidak ada akses membeli makanan di luar asrama karena lokasinya dikepung aparat? Anny mengulangi jawaban Kabag Ops Kompol Sigit Hariyadi yang kalimatnya hanya berlebihan.
“Sebenarnya polisi mengizinkan mereka pergi. Bahkan kami meminta mereka keluar dari kediaman karena perbuatannya tidak mendapat izin dari polisi, kata Anny.
Polisi berdalih sengaja memberikan pengamanan lebih karena mahasiswa Papua akan melakukan makar dengan turun ke jalan bersimbol Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Polisi menegaskan situasi di Yogyakarta tetap aman dan kondusif pasca kejadian di depan kediaman Papua.
“Mohon masyarakat Yogyakarta dapat beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Kejadian ini bermula dari sebuah rencana Aksi Persatuan Rakyat untuk Pembebasan West Papua digelar sejak Rabu 13 Juli. Mereka menggelar panggung budaya, mimbar bebas, dan protes damai hingga Sabtu.
Acara tersebut terkait dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Melanesia Spearhead Group (MSG) di Honiara, Pulau Solomon yang diselenggarakan pada 14-16 Juli mendatang. Salah satu agenda KTT tersebut adalah membahas keanggotaan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Organisasi ini ingin menjadi anggota penuh kelompok negara MSG.
Aksi tersebut juga bertepatan dengan peringatan 47 tahun Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 14 Juli lalu. – dengan pelaporan oleh Santi Dewi/Rappler.com
BACA JUGA: