Isi pidato Anies Baswedan tidak etis
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Siapa pun dapat dikualifikasikan melanggar semangat etik UU 40/2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis.
JAKARTA, Indonesia – Ketua SETARA Institute Herdardi menyayangkan isi pidato politik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menurutnya tidak etis karena berbau rasisme.
Pidato yang penuh paradoks: di satu sisi mengutip pernyataan Bung Karno tentang negara untuk semua, namun di sisi lain mengedepankan supremasi etnis, kata Hernadri dalam keterangan tertulis, Selasa, 17 Oktober 2017.
Anies Baswedan menyampaikan pidato politik pertamanya pada Senin malam tak lama setelah pelantikan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Pidato ini disampaikan usai serah terima jabatan di balai kota.
Dalam pidatonya tersebut, Anies menggunakan istilah ‘pribumi’. Dalam salah satu kalimatnya, misalnya, Anies mengatakan: “Dulu seluruh pribumi kita tertindas dan kalah, sekarang kita sudah merdeka, sekarang saatnya kita menjadi tuan rumah di negara kita sendiri.”.
Herdardi mengatakan, Anies dinilai sudah mengikuti Instruksi Presiden No. 26/1998 yang melarang penggunaan istilah swasta dan non-swasta untuk menyebut warga negara. Anies juga bisa dikualifikasikan melanggar semangat etik UU 40/2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis.
Selain itu, lanjut Hendardi, pernyataan Anies juga bisa membangun segregasi baru berdasarkan ras. Faktanya, kebencian rasial merupakan awal dari praktik genosida. “Genosida tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk pengingkaran terhadap ras dan etnis lain dalam pembangunan Jakarta,” kata Herndardi.
Hendardi juga meyakini penggunaan kata pribumi juga akan memperkuat hambatan sosial berdasarkan ras dan etnis. “Pada hari pertama kerja, kita harus melakukan penyembuhan emosional atas perpecahan warga Jakarta akibat politisasi identitas,” kata Herndardi.
Anies Baswedan membantah isi pidatonya dianggap rasis. Menurutnya, istilah ‘pribumi’ ia gunakan dalam konteks kolonialisme. Karena saya menulisnya pada masa kolonial, kata Anies, Selasa 17 Oktober 2017 di Stadsaal.
(Baca: Kontroversi Istilah ‘Pribumi’, Ini Penjelasan Anies Baswedan)
Anies mengatakan Jakarta merupakan salah satu kota yang paling merasakan dampak penjajahan Belanda. “Siapa yang pernah melihat Belanda dari dekat? Jakarta. Kita coba di daerah terpencil, kita tahu ada Belanda tapi apakah kita bisa melihatnya di depan mata? TIDAK. “Yang kita lihat di depan mata adalah Jakarta,” ujarnya.
—Rappler.com