Jokowi-Duterte membahas aksi teroris di Marawi melalui telepon
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Duterte ingin membahas banyaknya WNI yang masuk ke Filipina dan berperang dengan kelompok Maute
JAKARTA, Indonesia – Istana Kepresidenan Malacanang Filipina memastikan Presiden Rodrigo Duterte dan Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan membahas isu konflik di Marawi melalui telepon. Kemungkinan besar perbincangan lewat telepon itu akan terjadi pada Kamis, 22 Juni, karena hari ini digelar pertemuan trilateral dengan Malaysia dan Singapura.
Juru bicara kepresidenan Filipina Ernesto Abella hari Rabu mengkonfirmasi bahwa kedua pemimpin kemungkinan akan membicarakan masalah keamanan.
“Saya yakin mereka akan membicarakan masalah keamanan, tapi kami belum memiliki rincian dan rencana pembicaraan itu,” kata Abella di Istana saat konferensi pers.
Abella juga belum bisa memastikan apakah Duterte atau Jokowi akan menelepon terlebih dahulu. Kepastian itu muncul sehari setelah Duterte mengatakan kepada wartawan di Cagayan de Oro bahwa dirinya akan membahas isu terorisme dengan Jokowi.
“Saya akan berbicara dengan Presiden Joko Widodo besok. Jadi, dia mengajukan pertanyaan dan saya punya banyak pertanyaan untuknya. “Karena pejuang asing di sana sebagian besar adalah warga negara Indonesia,” ujarnya.
Duterte merujuk pada teroris asal Indonesia yang berperang di Filipina, khususnya di kota Marawi. Mereka juga membantu kelompok militan Filipina yang berjanji setia kepada ISIS.
Militer Filipina mengakui ada WNI di antara pejuang asing yang bergabung dengan kelompok Maute. Akhirnya pasukan pemerintah terpaksa ikut membasmi mereka di Kota Marawi.
Pembicaraan Jokowi-Duterte
Presiden Jokowi dan Presiden Rodrigo Duterte berbicara melalui telepon pada Rabu malam, 21 Juni 2017. Ernesto Abella, juru bicara kepresidenan Filipina, mengatakan pembicaraan antara pemimpin kedua negara cukup produktif.
Keduanya kembali menegaskan perlunya meningkatkan kerja sama untuk mengatasi ancaman terorisme dan ekstremisme, kata Ernesto Abella, Kamis, 22 Juni 2017.
Dalam perbincangan tersebut, lanjut Abella, Presiden Jokowi menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk mendukung Filipina dalam memerangi terorisme, termasuk pemulihan perdamaian dan stabilitas di Filipina Selatan.
Presiden Duterte menyambut baik komitmen Indonesia dalam memerangi terorisme. Filipina juga menyatakan tekadnya untuk bekerja sama dengan Indonesia dan negara-negara serupa untuk menangani masalah terorisme.
Indonesia, Filipina dan Malaysia memantau gerakan teroris
Pada awal Juni, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memperkirakan ada sekitar 40 WNI yang berperang bersama kelompok militan di Filipina. Sedangkan total militan yang bertempur di sana mencapai 1.200 orang.
Menteri Pertahanan Filipina Delfina Lorenzana mengatakan dari 12 militan asing yang tewas dalam pertempuran di Marawi, dua di antaranya adalah warga negara Indonesia. Sebagian besar masuk ke wilayah Filipina melalui perairan Sulu yang dekat dengan Malaysia dan Indonesia. Teroris lokal Filipina juga membangun basis di sana.
Untuk mencegah lalu lintas lintas kelompok teroris, tiga negara sepakat untuk melakukan patroli di wilayah perairan. Indonesia, Filipina, dan Malaysia telah mengerahkan kapal untuk memantau pergerakan para teroris. – Rappler.com