• April 17, 2026
Karya inovatif anak bangsa untuk tunanetra

Karya inovatif anak bangsa untuk tunanetra

Ada 26 desain yang diikutsertakan dalam kompetisi pembuatan alat bantu low vision

BANDUNG, Indonesia – Yayasan Syamsi Dhuha (SDF) menyelenggarakan beberapa kegiatan yang bertemakan “Penglihatanku, Berkahku dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia yang diperingati setiap hari Kamis kedua di bulan Oktober. yang mempunyai penglihatan melihat, mengajak untuk lebih mensyukuri pemberian Tuhan.

“Jadi teman-teman yang mempunyai keterbatasan penglihatan tetap bisa mensyukuri sekecil apapun penglihatannya. Sedangkan yang belum punya (visi) sama sekali, punya kesadaran yang ingin kita bangun. Mereka tidak bisa melihat, tapi mereka masih bisa bekerja. “Untuk masyarakat awas, kami lebih bersyukur lagi,” kata Ketua SDF Dian Syarief kepada Rappler saat ditemui, Sabtu, 14 Oktober di acara di Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran.

SDF tahun ini mengadakan Kompetisi Desain Alat Bantu Disabilitas Netra (LDABDN) 2017. Kompetisi ini untuk merangsang para inovator menciptakan Alat Bantu Low Vision (Lovi) yang hingga saat ini masih harus diimpor.

“Tahun ini lebih banyak karya yang dihasilkan. Bagi kami yang terpenting adalah memiliki alat terobosan, karena selama ini kami mengandalkan alat yang sudah jadi. Kalau peralatannya sudah jadi, kita harus impor dari luar. Meski hanya prototipe, kami membuatnya sendiri. NilaiBeda banget, kata Dian yang juga punya Lovi.

Kompetisi ini mendapat respon positif. Meski terbatas hanya untuk peserta dari Pulau Jawa, kompetisi ini berhasil menarik 30 peserta yang mendaftar dengan berbagai desain alat Lovi. Mereka berasal dari Bandung, Jabodetabek, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Dari 26 desain yang dikirimkan, 8 finalis dipilih oleh juri. Kemudian mereka memutuskan tiga finalis terbaik untuk mendapatkan hadiah berupa uang.

Kompetisi ini dimenangkan oleh tiga mahasiswa ITB dengan alatnya yang bernama PiCirclet. Alat ini diciptakan untuk membantu penyandang tunanetra dan Lovi dalam membaca buku.

Pemenang kedua, alat Lovi bernama iStick, merupakan tongkat pendeteksi rintangan, panas dan air hasil rancangan 2 mahasiswa ITB. Sedangkan juara ketiga diraih oleh 3 siswa SMA Negeri Unggul MH Thamrin Jakarta yang berhasil menciptakan Stormer, tas pinggang yang dapat membedakan pecahan uang kertas.

“Memang lebih mudah mengimpor barang dari China atau India. Transfer saja, kebaikan akan datang. Tapi tidak bisakah kita membuat sendiri alat yang kita perlukan? Yang coba dihidupkan kembali oleh SDF adalah semangat kreativitas dan inovasi. “Tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah dengan situasi dan kondisi negeri ini yang terkadang kurang menguntungkan,” ujarnya.

Dengan terus berkarya, menurut Dian, Indonesia kelak bisa menjadi bangsa yang penuh ide-ide kreatif dan inovatif.

Pada puncak acara WSD tahun ini, ratusan penyandang tunanetra mengikuti berbagai acara yang diadakan panitia. Mereka memanfaatkan kesempatan konsultasi mata gratis dengan dokter spesialis mata dari berbagai spesialisasi, seperti retina, infeksi, dan glaukoma. Ada pula peluncuran audiobook ‘Belajar Kebahagiaan’, penggalan renungan Eko Pratomo dan Dian Syarief yang diambil dari buku setebal 400 halaman berjudul sama. Buku audio ini dipersembahkan bagi mereka yang mempunyai keterbatasan penglihatan dan juga bagi mereka yang mempunyai waktu terbatas untuk membaca.

Untuk mengasah kemampuan finansial para tunanetra, SDF juga mengadakan Kelas Cerdas Finansial.

“Tujuannya agar penyandang tuna netra dapat teredukasi mengenai kecerdasan finansial. “Sehingga mereka bisa mengatur keuangannya, baik yang berasal dari usahanya maupun memperoleh penghasilan sebagai karyawan,” kata Dian.

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan tari Aceh ‘Ratoh Duek’ yang dibawakan oleh para sahabat dan relawan Lovi, serta lagu tematik The LuLo yang beranggotakan para penderita Lupus, Lovi dan para relawan serta penampilan spesial dari para pemenang. Kompetisi Lagu dan Musik yang diadakan oleh SDF pada tahun 2016. .

Pada acara WSD ini, peserta yang datang diajak untuk mendonasikan e-waste (sampah elektronik) yang akan didaur ulang untuk mencegah pencemaran lingkungan yang mungkin terjadi jika sampah elektronik dibuang sembarangan. Sampah elektronik ini dapat berupa komputer, printer, dan aksesorisnya, serta aksesoris berupa adaptor, kabel, power bank, dan charger yang sudah tidak terpakai atau rusak. – Rappler.com

slot online pragmatic