• April 18, 2026

Kehidupan di Marunda pasca relokasi Pasar Ikan

JAKARTA, Indonesia – Hari keenam Muhammad Soleh dan keluarga tinggal di rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Dia merupakan satu dari ratusan warga yang direlokasi dari Pasar Ikan oleh Pemprov DKI Jakarta pada Senin, 11 April.

Keluarga Soleh merupakan satu-satunya eks warga Vismark yang menempati Rusun Marunda blok A4 – atau lebih dikenal dengan blok Hiu. “Yang dari Pasar Ikan tersebar di banyak blok,” kata Soleh kepada Rappler, Jumat, 15 April.

Ia baru pulang setelah dua hari tidak pulang karena sedang bekerja di pasar lain yang terletak di dekat kawasan Kota, Jakarta Utara. Soleh tidak sendirian. Pria berusia 33 tahun ini tinggal bersama ibunya, Sa’arah, yang berusia 76 tahun. Saat bertemu Rappler, mereka sedang menunggu MetroMini dari Terminal Bus Tanjung Priok.

Meski Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama menawarkan layanan bus gratis dari Tanjung Priok hingga Rusunawa Marunda, namun busnya tergolong jarang dan Soleh harus menunggu cukup lama. Karena itu, ia dan ibunya lebih memilih menggunakan angkutan umum dan MetroMini yang lebih cepat dan mudah dijangkau.

Berdasarkan pantauan Rappler, bus gratis tujuan Marunda datang setiap setengah jam sekali, bahkan bisa lebih. Perjalanan dari Tanjung Priok juga memakan waktu lebih dari satu jam karena kondisi jalan dipenuhi truk-truk besar.

Sesampainya di “rumah” barunya, Soleh disambut oleh Siti Laela, istrinya, dan dua anaknya yang masih kecil: Dewi Anjani (6 tahun) dan Qonita (1 tahun). Kelimanya akan menempati kamar di lantai dua seluas 30 meter persegi itu selama tiga bulan ke depan.

Krisis ekonomi

Ruangan tempat tinggal keluarga Soleh sangat sederhana. Terdapat dua kamar tidur yang masing-masing dilengkapi satu kasur.

Selain itu, terdapat dapur sederhana, balkon yang diubah menjadi tempat menjemur, dan kamar mandi. Lantainya masih semen yang dilapisi terpal plastik berwarna biru. Untuk mendapatkan lantai keramik, mereka harus merogoh kocek lebih dalam.

Meski mendapatkannya secara gratis, Siti mengaku tak betah tinggal di rumah barunya tersebut. “Ini benar-benar enak. Air, lampu, semuanya ada di sana. “Tetapi bisnisnya sulit dan lambat,” katanya.

Sebelumnya, perempuan berusia 37 tahun ini bekerja sebagai pembersih ikan yang akan dijual. Ia memiliki dua bos yang mempekerjakannya, yakni di Pasar Ikan dan Muara Angke. Setelah pindah, sang bos memindahkan warungnya ke Muara Angke. Menurut Siti, tidak masalah jika tempat tinggalnya tidak digusur.

“Dulu di Muara Angke biaya angkutnya ditanggung. “Saya hanya jalan kaki 10 menit ke Pasar Ikan,” kata Siti. Namun kepindahannya ke Rusunawa Marunda membuat ia tidak bisa bekerja lagi.

Lokasi apartemennya yang begitu jauh – lebih dari satu jam perjalanan menuju tempat kerjanya – terpaksa ia singgahi. Bosnya enggan mempekerjakannya lagi karena akan membuang waktu dan biaya perjalanan.

“Lagipula, kalau aku bekerja juga, siapa lagi? Sayang Nak?” tambah Siti. Sejak pindah, dia hanya merana di kamarnya.

Jarak yang jauh ini juga menjadi masalah bagi Soleh. Penghasilannya dari bekerja serabutan di pasar, sekitar Rp50-100 ribu per hari, harus diimbangi dengan biaya transportasi yang bisa mencapai Rp20 ribu per hari. Ia berusaha menyiasatinya dengan hanya kembali ke apartemen dua hari sekali. “Tetapi biaya transportasinya masih signifikan,” katanya.

Meski pendapatan menurun, ternyata biaya hidup di Marunda juga lebih tinggi. Dulu, Siti mengaku bisa membeli 20 ekor ikan kecil seharga Rp 10 ribu. “Sekarang cuma dapat 5 bibit, bayarnya juga Rp 12 ribu. Bayam di sini juga kurang,” ujarnya.

Terkadang mereka bisa menghemat bahan makanan. Soleh bisa memancing bersama teman-temannya dan membawa pulang ikan yang sangat banyak sehingga Siti tidak perlu lagi membelinya di pasar. “Dulu saya juga suka membaginya ke tetangga saya,” kata Soleh sambil menunjukkan alat tangkap yang biasa ia gunakan. Kini alat-alat tersebut tersimpan rapi di dalam kotak berbahan jerigen air, entah kapan bisa mencicipi air laut lagi.

Selama berada di Pasar Ikan, mereka juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa tempat menginap. Di sana, keluarga Soleh tinggal di sebuah gudang yang digunakan untuk menyimpan perlengkapan kapal. Meski belum bisa memperkirakan luas pastinya, menurut Soleh, tempatnya lebih luas dibandingkan kamarnya saat ini.

“Ini rumah ibuku,” katanya. Sa’arah membenarkan perkataan putranya.

‘Lebih baik di Pasar Ikan’

Ia telah tinggal di gudang ini sejak tahun 1945, saat ia masih kecil. Sa’arah mengaku tidak memiliki sertifikat tanah. Namun, menurutnya, tidak ada seorang pun yang pernah mempermasalahkan hal tersebut.

Saat masih muda, ia bekerja sebagai tukang sapu di Pasar Ikan, menjadi pegawai PD Pasar Jaya. Namun, setelah pensiun, dia menghasilkan uang tambahan dengan mengampelas botol bekas. Hal ini dapat membantu penghidupan anak-anaknya yang juga berpenghasilan kecil.

Sa’arah berjalan-jalan di pasar dekat tempat tinggalnya setiap hari. “Cukup 10 menit kalau jalan kaki,” jelas Siti.

Namun setelah direlokasi, dia tidak pernah turun lagi. Seperti halnya menantunya, Sa’arah lebih banyak tinggal di apartemen. Ia tak ingin penghasilannya yang kecil terpotong oleh biaya transportasi lagi.

Belum lagi, jarak yang harus ia tempuh untuk sampai ke pasar tersebut sangat jauh. Tubuhnya yang langsing tentu tidak bisa sering membawanya di angkutan umum, atau menunggu dalam waktu lama.

Pindah ke apartemen membuatnya sedih. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena jauh. Jika saya punya pekerjaan, apa pun yang saya inginkan. “Cuci piring di warung, terserah, biar bisa sesuap nasi,” ujarnya.

Memberikan kesempatan kerja

APARTEMEN MARUNDA.  Tempat pemukiman kembali warga kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.  Warga yang mengungsi mulai menduduki Marunda hampir sepekan lalu.  Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Gubernur Ahok menjanjikan uang sewa gratis bagi warga yang dimukimkan kembali. Soleh dan keluarga harus memikirkan tempat tinggal hingga Juni mendatang. Namun, Siti tak bisa membayangkan bagaimana ia dan suaminya harus menanggung biaya sewa bulan keempat dan seterusnya.

Kamar yang ditempati Siti saat ini disewakan dengan harga Rp 151 ribu per bulan, belum termasuk listrik dan air. Jika dihitung secara kasar, mereka perlu menyediakan sekitar Rp300 ribu untuk biaya hidup setiap bulannya. “Kalau saya tidak bekerja seperti ini, saya tidak tahu uang (sewa) saya dapat dari mana,” kata Siti.

Ia berharap Ahok bisa memberikan pekerjaan di dekat Rusunawa Marunda. Dengan cara ini, mereka tidak perlu lagi membuang-buang uang untuk transportasi, dan bisa menabung untuk melanjutkan hidup.

Sebelumnya, Ahok sempat mengatakan langkah ini tidak akan berdampak pada mereka yang bekerja sebagai nelayan. “Rusun Marunda punya saluran timur, dan ada nelayan di Cilincing, Cakung. Maksud saya, kalau profesinya memancing, kenapa tidak pindah saja ke Marunda, dekat saja, katanya di Balai Kota, Senin pekan lalu.

Faktanya, tidak semua orang yang tinggal di dekat laut berprofesi sebagai nelayan. Ada juga yang mendapat penghasilan dari profesi lain, seperti Soleh dan Siti. Inilah orang-orang yang kehidupan ekonominya juga harus diperhitungkan.

Jika tidak, keluarga Soleh terpaksa hengkang karena tidak mampu membayar uang sewa. —Rappler.com

BACA JUGA:

Togel Hongkong Hari Ini