Kirimkan dampak negatif Liga Inggris
keren989
- 0
Tanpa trofi, tanpa lolos ke Liga Champions, apa lagi alibi sang profesor?
JAKARTA, Indonesia – Apa lagi yang bisa diharapkan dari Arsenal musim ini. Tidak perlu bicara soal gelar juara. Bahkan untuk masuk zona Liga Champions peluang mereka nyaris tertutup. Tim London utara itu harus bersaing dengan Liverpool, Manchester City, dan Manchester United untuk finis di empat besar di akhir musim.
Ketiga tim tersebut bukanlah rival yang mudah. Mereka juga tidak kalah gigihnya. Manchester United misalnya. Mereka tidak bisa lagi melewatkan kesempatan untuk mengakhiri episode negatif segera setelah kepergian Sir Alex Ferguson. Dan salah satu cara tercepat untuk mewujudkannya adalah kembali ke kompetisi level teratas Eropa.
Jika mereka kembali absen musim ini, kerugian komersial dan spiritual yang dialami penghuni Old Trafford akan terus menumpuk. Mereka benar-benar bisa lepas dari masa lalu gemilang bersama Fergie. Hanya Liverpool yang mengalaminya.
Begitu pula Manchester City. Melihat manajer dengan reputasi hebat seperti Josep “Pep” Guardiola berpartisipasi di Liga Europa tentu sangat aneh. Ia tentu akan mati-matian mempertahankan satu-satunya peluang yang bisa menyelamatkan mukanya musim ini.
Banyak yang memperkirakan satu-satunya tim yang rawan ketinggalan ke Liga Champions adalah Liverpool. Mereka kini berada di peringkat ketiga dengan 66 poin. Unggul 2 poin dari City. Masyarakat memiliki satu pertandingan tersisa untuk melompat ke tempat ketiga.
Soalnya lima laga sisa Liverpool di Liga Inggris tidak sesulit dua rival sekota itu. Lima pesaing Orang Komunis bukan tim di lima besar. Jika pasukan Juergen Klopp benar-benar ingin masuk zona Liga Champions, lawan seperti Crystal Palace, Watford FC, Southampton, West Ham United, dan Middlesbrough bisa dengan mudah ditumpas.
Di sisi lain, City dan United masih memiliki duel di antara mereka. United sebenarnya menghadapi agenda yang lebih berat. Pasukan Jose Mourinho masih harus menghadapi City, Arsenal, dan Spurs. Sementara itu, City hanya perlu bermain aman melawan United untuk mempermudah lima pertandingan dengan kemenangan.
Laga alot ini benar-benar mengganggu peluang United. Namun, Setan Merah bisa berpikir dengan paradigma berbeda. Bahkan, dengan bentrok langsung dengan tim-tim yang berada di posisi lima besar, efek kemenangan bisa langsung terasa. Mereka tak harus bergantung pada hasil pertandingan di partai lain.
Apalagi, Mourinho baru saja mengirimkan pesan kepada para pengkritiknya. Bahwa dia tetaplah Mourinho yang spesial. Mereka adalah satu dari sedikit tim yang bisa mengalahkan Chelsea di Liga Inggris. Kepercayaan diri Wayne Rooney dan kawan-kawan usai mengalahkan Chelsea bisa menjadi modal untuk menjalani laga “hidup dan mati” di penghujung kompetisi.
Beban berat untuk lolos ke Liga Champions
Bagaimana dengan Arsenal?
Agenda mereka lainnya di Liga Premier jauh lebih sulit. Mereka tidak hanya harus menghadapi United tetapi juga memainkan laga derby London Utara melawan Tottenham Hotspur. Per Mertesacker dan kawan-kawan pun harus menghadapi juara bertahan yang baru menemukan kembali semangatnya, Leicester City.
Dengan mentalitas penghuni liar yang khas penghuni Emirates Stadium, hampir mustahil bagi Arsenal untuk keluar dari situasi sulit tersebut. Para pemain tidak terbiasa menghadapi tekanan besar dalam sebuah pertandingan. Penyakit ini sudah menjadi penyakit kronis pada pasukan Wenger dan jika kondisinya terlihat sulit mereka akan semakin putus asa.
Nyatanya, akibat gagal masuk zona liga antar juara Eropa itu tidak ringan. Itu akan menjadi aib terburuk dalam sejarah Arsene Wenger di klub London utara tersebut. Sejak memimpin klub, Wenger tidak pernah meninggalkan empat besar. Inilah salah satu alasan mengapa kursi profesor begitu awet di Emirates Stadium.
Namun, musim ini bisa jadi menjadi tahun terburuk bagi manajer asal Prancis tersebut. Suara penolakannya untuk meninggalkan Arsenal pun langsung memenuhi udara. Sementara itu, performa tim juga kurang meyakinkan. Dalam 9 laga terakhir di Premier League, mereka hanya menang 3 kali.
Lima pertandingan berakhir dengan kekalahan. Kekalahan dari Chelsea dan Liverpool dengan skor masing-masing 1-3 masih bisa ditanggung. Namun saat kalah melawan klub-klub kecil seperti Crystal Palace (0-3), Watford (1-2) dan West Bromwich Albion (1-3), Wenger seolah membenamkan dirinya di hadapan para pendukungnya.
Wenger sebenarnya tidak tinggal diam. Ia mencoba merespons dengan menyuntikkan kesegaran ke dalam tim. Yakni sistem permainan mereka berubah menjadi tiga bek.
Pada laga melawan Middlesbrough, Wenger menggunakan trio bek dalam format 3-4-2-1 untuk pertama kalinya dalam 20 tahun karir kepelatihannya. Akibatnya, episode negatif bisa dihentikan. Arsenal menang 2-1 atas The Boro.
Yang jadi pertanyaan apakah suasana serupa akan terjadi di Piala FA saat menghadapi Manchester City di semifinal Piala FA, Minggu 23 April pukul 21.00 WIB di Stadion Wembley. Apalagi lawan yang mereka hadapi bukanlah lawan yang mudah. Pep Guardiola juga mencari gelar yang menyelamatkan mukanya setelah Liga Premier tidak memberinya gelar apa pun.
Wenger berharap fase negatif di Liga Inggris tidak meluas ke Piala FA. Piala FA adalah kompetisi yang berbeda, kata Wenger membela diri seperti dilansir ESPN.
Wenger mengakui suasana negatif dalam tim bisa berdampak buruk. Namun bukan berarti tidak ada hal positif yang bisa diambil.
“Kondisi ini dapat berarti dua hal. Pasukan akan semakin terpecah karena tidak mempercayai rekan satu tim, permainannya, dan lain sebagainya. Atau malah jadi lebih solid karena sekarang punya target yang sama,” ujarnya.
Melawan City, Wenger berharap kemungkinan kedua terjadi pada timnya. Namun, jika kemungkinan pertama terjadi, apakah itu cukup untuk membuat Anda hengkang? Pak?—Rappler.com