• May 3, 2026

Kisah relawan Indonesia di Masjid Gold Coast

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

WNI bersaing memperebutkan reward di Negeri Kanguru selama bulan Ramadhan

JAKARTA, Indonesia — Sore itu, matahari condong ke barat. Sejumlah orang dengan penampilan khas Timur Tengah mulai bergegas menyiapkan makanan.

Hidangannya terdiri dari ‘couscous’, atau makanan utama Timur Tengah yang dimasak dalam panci besar, kari kambing, serta sejumlah makanan pembuka cepat seperti kurma dan buah segar yang dipotong-potong.

Assalamualaikum kakak,” sapaan ini sering digunakan saat sesama umat Islam bertemu di Masjid Gold Coast, Queensland, Australia.

Sapaannya dilanjutkan dengan saling mencium pipi kiri dan kanan lalu menanyakan kabar sehari-hari. Sesekali terdengar canda dan tawa.

Keramahan tersebut terlihat saat umat Islam memulai rangkaian ibadah di Masjid Gold Coast pada awal bulan Ramadhan.

Umat ​​Islam di Gold Coast berjumlah sekitar 8.000 orang yang berasal dari sekitar 60 negara, termasuk Indonesia. Di antara sekian banyak umat Islam, sejumlah warga Indonesia memutuskan menjadi relawan masjid.

Tugas relawan masjid adalah membantu pengurus masjid setiap hari Jumat di bulan biasa dan setiap hari di bulan Ramadhan. Para relawan ini tentunya tidak menerima imbalan secara materi, namun mengharapkan keberkahan dan pahala dengan berbuat baik kepada sesama manusia adalah tujuan dari para relawan.

Dari 12 relawan masjid di masjid Gold Coast, ada sejumlah warga Indonesia yang sibuk selama Ramadhan.

Jika pada bulan-bulan biasa relawan masjid hanya mempersiapkan pasar Jumat yang dilaksanakan sebelum dan sesudah salat Jumat, maka pada bulan Ramadhan relawan mempunyai tugas tambahan yaitu menyiapkan makanan untuk buka puasa atau buka puasa bagi seluruh umat islam yang datang ke Masjid Gold Coast.

Anak-anak juga berbuka puasa saat azan Maghrib dikumandangkan.  Foto oleh Rosa Panggabean/Antara

Conny Kurniawati (48 tahun) atau sering disapa Bu Wati merupakan salah satu relawan masjid yang paling aktif. Wati yang masih berstatus WNI ini pun melibatkan kedua anaknya yakni Putri Aqilla Zafira dan Fathina Khairunnisa untuk membantu menyiapkan buka puasa bersama dan makanan gratis bagi yang datang ke Masjid Gold Coast.

Wati telah tinggal di Australia selama beberapa dekade dan memiliki suami yang berkewarganegaraan Australia. Dalam dua tahun terakhir, Wati memutuskan untuk tinggal di Gold Coast dan selama dua tahun berturut-turut ia dan kedua anaknya menjadi sukarelawan di Masjid Gold Coast.

Putri Wati, Putri Aqilla Zafira, usai membersihkan tempat umat Islam berbuka puasa.  Foto oleh Rosa Panggabean/Antara

Sedangkan Hamdi Bahar (70 tahun), pria asal Indonesia, menjadi muazin di Masjid Gold Coast. Sejak pertama kali dibangun, masyarakat Indonesia selalu terpilih menjadi muazin di masjid tersebut. Selain tugasnya mengumandangkan azan, Hamdi juga menyiapkan berbagai hal jika ada jenazah umat Islam yang akan disalat di masjid.

Wati (paling kiri) dan putrinya Fathina Khairunnisa (kiri) melaksanakan salat Tarawih bersama umat Islam lainnya di Masjid Gold Coast.  Foto oleh Rosa Panggabean/Antara

“Iya, saya bantu persiapkan saat jenazah tiba, mandikan, hingga siap disalat oleh Imam masjid,” kata pria berkulit sawo matang itu sambil menunjukkan kamar jenazah yang berada di dalam masjid.

Selain mereka yang menjadi relawan, masyarakat Indonesia juga sering datang ke masjid. Dibangun pada tahun 1996, masjid ini menjadi tempat bertemu dan bersantai bersama sesama imigran dari tanah air yang berkunjung ke Queensland. —Antara/Rappler.com

situs judi bola