Komentar Sapardi Djoko Damono soal Film ‘Hujan Juni’
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Sapardi mengaku tidak ikut campur dalam pembuatan film yang diadaptasi dari karyanya tersebut
JAKARTA, Indonesia —Pada tanggal 2 November, salah satu film Indonesia yang paling ditunggu-tunggu, Hujan di bulan Juni, akan dirilis secara resmi. Seluruh pendukung film ramai menggelar promosi menjelang penayangan film ini, termasuk penyair Sapardi Djoko Damono sebagai penulis puisi dan novel. Hujan di bulan Juni.
Namun Sapardi mengatakan saat ditemui, semuanya sudah usai pertunjukan film Hujan di bulan Juniapakah dia sama sekali tidak terlibat dalam proses produksi film yang disutradarai olehnya Reni Nurcahyo Hestu Saputra.
“Aku bilang aku tidak mau. Artinya saya tinggalkan semuanya, apa tafsirnya? Terserah kalian semua. Masalahnya, saya tidak menyukainya karena itu keyakinan saya. Jika saya mengambil sesuatu yang ditulis seseorang, maka saya mempunyai kebebasan. “Jika masyarakat ingin membuat film sekarang, maka mereka harus memiliki kebebasan,” kata penyair yang tahun ini berusia 77 tahun itu.
(BACA JUGA: ’77 Tahun Sapardi Djoko Damono’: Kelahiran Kembali Sang Maestro Puisi)
Meski karyanya sudah dikenal luas, Sapardi masih belum paham kenapa banyak orang yang menyukai karyanya khususnya Hujan di bulan Juni. “Ya, itu mungkin suatu kebetulan, entahlah. Sudah sulit bagiku untuk beralih dari puisi ke novel. terengah-engah Oh begitu. Lalu saya tidak tahu mengapa ini begitu populer, bukan? Makanya diminta dibuat film. Ya, aku baik-baik saja, aku tidak punya masalah. Bahkan ketika saya beralih dari puisi ke novel, situasinya berbeda. Saya tidak lagi mengikuti puisi itu. Aku memang menulis novel.”
Satu hal yang Sapardi ingin ingatkan kepada calon penonton bioskop Hujan di bulan Juni Belakangan, tidak pantas membandingkan karya tulisnya dengan film.
“Tidak sama sekali. Film dengan film, buku dengan buku. Haram, tidak boleh. Jadi kalau kita mau bilang film bagus atau tidak, jangan mengandalkan bukunya. Bukunya bisa lebih bagus, itu boleh lebih laris, tapi bukan itu masalahnya, film lain bagus atau tidak,” kata Sapardi.
“Bukuku sama, kalau filmnya jelek, apakah bukuku juga jelek? Bukan itu. Ya, itu sama saja. Jadi kalau mau belajar ya bandingkan itu film dengan film, buku dengan buku. Inilah prinsipnya. Tidak mungkin membandingkan gambar dengan kata-kata. Kata-kata ini tidak memiliki gambar.”
Sebenarnya, kata Sapardi, selain itu Hujan di bulan Junibeberapa karyanya yang lain juga sedang dipertimbangkan untuk adaptasi film layar lebar.
“Saya menulis berapa ya, 5-6 novel pendek. Yang lainnya agak sulit. Saya sedikit terkejut juga, ini novel yang sulit. Hujan di bulan Juni Memang bukan novel yang mudah, tapi kenapa banyak orang yang menyukainya? Saya juga terkejut. Terutama jenis trilogi bingkai pencarian itu bahkan lebih sulit. Tapi kalau dijadikan film, bisa jadi ampuh. Karena sekarang banyak sekali, lebih baik ambil dari novel saja daripada repot-repot mengarang cerita. Membuat cerita lebih sulit daripada membuat film.”
Puisi Hujan di Bulan Juni diakui Sapardi sebagai kisah nyata dalam hidupnya. “Ke adegan pertama Hujan di bulan Juni itu terjadi dalam hidupku. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan novel. “Dan ini memang bulan Juni, saya masih ingat tanggal 24 Juni di Jogja,” kata maestro puisi itu sambil terus bercerita tentang puisi terkenalnya.
“Ini sangat sederhana. Bahwa tidak ada hujan di bulan Juni. Lalu kalau hujan, itu yang saya tangkap. Jadi kalau saya gambarkan saja. Saya tidak punya pesan sama sekali, tidak. Haram bagiku menyampaikan pesan dalam bentuk puisi, tidak boleh.”
(BACA JUGA: 5 Puisi Sapardi Djoko Damono yang Paling Mengharukan)
Kini setelah karyanya terlihat diangkat ke layar lebar, bagaimana reaksi Sapardi? “Iya, Estu (sutradara) punya kecerdasan yang luar biasa Kamu tahu. Itu benar. dia memiliki keberanian minum. Itu sebabnya dia menulis puisi dengan gambar, tapi saya menulis dengan kata-kata. Dan dibantu oleh seorang tukang juru kamera. Ini adalah seorang juara juru kamera– miliknya. Ambillah dari sini sudut– miliknya. Sungguh luar biasa.”
June Rain dibintangi oleh sederet aktor dan aktris ternama tanah air seperti Adipati Doken, Veloxe Vexia, Baim Wong, Surya Saputra, Koutaro Kakimoto dan masih banyak lagi. —Rappler.com