Kunjungi Masjid Raya Labui peninggalan Sultan Aceh
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Masjid tua ini akan dibongkar
PIDIE, Indonesia — Setiap masjid mempunyai sejarahnya masing-masing. Begitu pula dengan Masjid Raya Labui yang berdiri di sebelah barat Kota Pidie, Aceh.
Masjid ini cukup unik karena memiliki kubah besar berwarna biru. Terletak sekitar 4 km dari Kota Sigli, masjid ini konon dibangun atas perintah langsung Sultan Iskandar Muda.
Artinya masjid ini dibangun antara tahun 1607-1636, masa Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya. Keterkaitan Sultan Iskandar Muda dengan masjid ini dijelaskan langsung oleh pengurus masjid Teungku Muhammad Yasin Yunus.
Menurut cerita, sebagaimana dikisahkan Muhammad Yasin Yunus, Sultan Iskandar Muda berangkat ke wilayah kekuasaannya untuk memantau langsung kehidupan masyarakat dengan menggunakan seekor gajah putih.
Sesampainya di wilayah Kerajaan Pedir (kerajaan kecil di bawah Kesultanan Aceh Darussalam yang kelak menjadi Kabupaten Pidie), sultan memutuskan untuk singgah. “Sultan singgah lama di Pedir (Pidie),” kata Yasin Yunus kepada Rappler, pertengahan pekan lalu.
Di persinggahan itulah Sultan kemudian memerintahkan warga setempat untuk membangun masjid. Awalnya masjid ini dibangun hanya berdinding kayu dan beratap jerami.
Kemudian pada tahun 1612 M, Sultan Iskandar Muda atau Po Teumeureuhom membangun masjid ini dengan bahan batu kapur. Ia bahkan mendatangkan arsitek dari Tiongkok untuk pembangunannya.
Untuk mengumpulkan batu kapur tersebut, sultan memerintahkan penduduknya untuk bekerja sama dengan satu pemukiman per hari. Kemukiman merupakan pemerintahan adat di Aceh yang berada di bawah Bupati.
Pengambilan batu kapur dilakukan di kawasan Laweung, Pidie, 30 km dari masjid. “Makanya warga berebut dari Laweung ke Labui untuk mengangkut batu untuk pembangunan masjid,” kata Yunus, yang sudah 33 tahun menjadi pengurus Masjid Raya Labui.
Selain masjid, kata Yunus, juga dibangun benteng pertahanan atau diwai dari batu tersebut di sekitar masjid. “Benteng itu kini sudah dibongkar,” katanya.
Tongkat Po Teumeureuhom
Selain membangun masjid, Sultan Iskandar Muda saat singgah di sana juga meninggalkan sebuah tongkat tembaga berukuran panjang 1,2 meter dan berat 5 kilogram serta berbentuk seperti tebu.
Tongkat itu kini disimpan di lemari masjid. Tongkat ini masih digunakan sebagai pegangan para khatib saat menyampaikan khutbah Jumat.
“Tongkat ini masih digunakan sampai saat ini ketika khatib menyampaikan khutbah Jumat. “Kecuali hari Jumat kita simpan di lemari, kalau ada yang mau lihat kita keluarkan saja,” jelas Yunus.
Barang peninggalan sultan lainnya adalah mimbar kayu berukir berusia ratusan tahun hasil karya pengrajin Tiongkok. Mimbar ini masih digunakan sampai sekarang.
Hanya pada bagian bawah mimbar saja ditambahkan beberapa meter sehingga mimbar tampak lebih tinggi. Selain itu, mimbarnya masih sama dengan bentuk aslinya.
Mimbar lama tidak terlihat kalau hanya dilihat sekilas. Pasalnya, selalu dicat coklat dan kuning keemasan agar tampak baru.
“Mimbar aslinya hanya yang di atas. “Kami menambahkan beberapa meter pada bagian bawahnya agar terlihat lebih tinggi dari model mimbar yang ada saat ini,” kata Yunus.
Masjid Agung Labui awalnya bernama Masjid Po Teumeureuhom. Kemudian pada tahun 1984 M, dibangunlah masjid baru di lokasi masjid ini yang sekarang disebut Masjid Raya Labui.
Sedangkan masjid pertama, Masjid Po Teumeureuhom, dipindahkan beberapa meter ke samping. “Kami awalnya ingin membongkar masjid tua ini, namun karena mendapat tentangan dari berbagai pihak, masjid lama tersebut dipindahkan beberapa meter ke samping,” kata Yunus.
Yunus mengatakan, tidak main-main jika masjid lama ingin dibongkar, tembok pertahanan di sekitar masjid dibongkar hanya untuk pembangunan masjid baru.
Kini masjid peninggalan Sultan Iskandar Muda atau Po Teumeureuhom ini dikenal luas dengan nama Masjid Raya Labui yang bersebelahan dengan masjid baru. —Rappler.com