Liverpool vs Tottenham Hotspur: Akhiri rasa penasaran
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Salah satu mantan striker kenamaan Liverpool, Fernando Torres, pernah bercerita kenapa dia begitu mencintainya Kepala. Salah satu alasannya, mereka mempunyai mental pejuang.
“Di Liverpool tidak ada yang menyerah. Dan tidak ada yang mustahil,” kata Torres dalam biografinya, Torres El Nino: Kisah Saya.
Salah satu striker produktif Liverpool ini mengacu pada kenangan masa lalunya. Torres, yang saat itu berusia 21 tahun, menyaksikan tim Anfield bangkit dari ketertinggalan 0-3 dari AC Milan pada 2004-05. Mereka akhirnya membawa Si Si Telinga Besar – sebutan untuk trofi Liga Champions – ke Liverpool.
Torres yang saat itu masih berseragam Atleti—demikian Ateltico disapa— penasaran dan akhirnya pindah ke kota sepakbola ketiga setelah London dan Manchester.
HARI PERTANDINGAN pic.twitter.com/MFPmlY8qhv
— Kekaisaran Kop (@empireofthekop) 25 Oktober 2016
Setelah 12 tahun berlalu, mentalitas yang sama mulai kembali muncul sejak kedatangan pahlawan baru di Anfield, Juergen Klopp. Di musim pertamanya, pelatih Jerman nyaris mengantarkan Jordan Henderson meraih dua trofi: Final Piala Liga dan Liga Europa—sebelum akhirnya dikalahkan Manchester City dan Sevilla dengan skor sama 1-3.
Masalahnya, sepak bola hampir tidak mengenal kata itu. Liverpool tidak dihitung sebagai pemenang, meski berada di puncak dua acara tersebut. Namun kedua prestasi tersebut sudah bisa dianggap “prestasi”. Pasalnya Klopp baru menangani Liverpool di musim pertamanya.
Itupun terhitung setengah musim karena dia datang di pertengahan musim saat ini. Perubahan yang diusulkannya belum signifikan. Melawan tekanan belum dilaksanakan sepenuhnya.
Selamat pagi! Ini hari pertandingan! Liverpool tandang di #EFLCup. 19:45 dimulai. #SUKACITA pic.twitter.com/zGUjRFF1lk
— Tottenham Hotspur (@SpursOfficial) 25 Oktober 2016
Lalu bagaimana dengan musim ini?
Dalam 9 pertandingan Liga Inggris, Liverpool meraih 6 kemenangan. Tiga lainnya berakhir dengan dua hasil imbang dan satu kekalahan. Awal Itu cukup bagus mengingat mereka bertukar posisi di 3 game pertama. Buktinya, juara Liga Champions 5 kali itu kini menempati posisi 3 besar klasemen.
Namun pasukan Klopp hampir selalu meninggalkan lubang. Sepanjang 9 pertandingan ini, mereka hanya mencetak satu gol lembar bersih alias nol kebobolan. Total, gawang Loris Karius ditembus lawan sebanyak 11 kali.
Jumlah tersebut cukup banyak dibandingkan kompetitor mereka yang berada di papan atas. Tottenham Hotspur hanya kebobolan 4 kali, sedangkan Everton dan Southampton sama-sama hanya kebobolan 8 kali.
Faktanya, dua klub terakhir masih belum mencapai posisi 5 besar klasemen.
Situasi tersebut cukup berbahaya bagi Liverpool saat harus menjamu Spurs di stadion yang dianggap sebagai salah satu “katedral” sepakbola dunia, Anfield. Di Piala Liga, kedua tim dijadwalkan bentrok pada Rabu 26 Oktober pukul 01:45 WIB dini hari.
Kesulitannya agak menakutkan Kepala Pasalnya, kiper utama pertandingan Jordan Henderson akan absen karena akumulasi kartu. Posisinya akan digantikan oleh Lucas Leiva yang cenderung lebih bertahan dan lamban.
Namun keberuntungan masih berpihak pada Klopp. Daniel Sturridge, Simon Mignolet, Alberto Moreno dan Ragnar Klavan bisa digunakan. Danny Ings kemungkinan besar juga akan menjalaninya awal yang pertama di bawah Klopp.
Mignolet lebih berpeluang bermain di ajang ini. Sebab, Klopp memutuskan kiper asal Belgia itu menjadi orang nomor dua di bawah Mister. Ia kalah bersaing dengan Karius, kiper baru yang didatangkan dari klub lama Klopp, Mainz 05.
“Mignolet tentu saja tidak senang, tapi dia terus bekerja keras untuk mendapatkan tempatnya kembali,” kata Klopp. dikutip oleh BBC.
Liverpool agresif, Spurs mandul
Meski tuan rumah punya masalah di lini belakang, namun lini depan mereka jauh lebih tajam dibandingkan Spurs. Faktanya, Liverpool menjadi tim paling produktif di Liga Inggris dengan 20 gol. Di semua kompetisi, mereka total mencetak 28 gol dalam 11 pertandingan.
Peran striker juga lebih bervariasi. Para pemain yang bertugas di lini depan dan lini kedua hampir semuanya beberapa kali mencetak gol. Mereka adalah James Milner, Philippe Coutinho, Sado Mane, Adam Lallana, dan Roberto Firmino.
Seperti ayah seperti anak pic.twitter.com/ulwJPeuIsN
— Kekaisaran Kop (@empireofthekop) 25 Oktober 2016
Gelandang Jordan Henderson menyumbang satu gol bersama bek Dejan Lovren.
Situasi ini menunjukkan bahwa Liverpool tidak hanya produktif tetapi juga memiliki sebaran pemain yang memiliki naluri mencetak gol.
Sebaliknya, Spurs cukup efisien. Di Premier League mereka hanya mampu mencetak 13 gol. Jumlah golnya di semua kompetisi juga tak jauh berbeda, hanya 20 gol.
Produktivitas semakin tertinggal karena peran striker didominasi oleh 3 pemain yaitu Son Heung-min, Delle Ali dan Harry Kane. Erik Lamela yang berperan sebagai sayap hanya menyumbang 1 gol.
Situasi ini akan sulit Bunga Lily Putih. Sebab di saat yang sama Harry Kane dan Toby Alderweireld tepat waktu memperbaiki cedera pergelangan kaki dan lutut. Begitu pula Moussa Sissoko yang dihukum FA (PSSI Inggris) karena menyikut Harry Arter pada laga melawan Bournemouth.
Sebab, Liverpool jelas berada di atas angin untuk mengalahkan Spurs. Apalagi pertemuan terakhir kedua tim di Premier League berakhir imbang, 1-1. Klopp jelas tertarik untuk mengejar Spurs. Selain itu, ia jelas ingin menuntaskan rasa penasarannya untuk merebut trofi Piala Liga.
Jika tidak, ia bisa saja terkena “kutukan” yang sama seperti Torres. Pemain yang mencetak begitu banyak gol untuk Liverpool tetapi tidak pernah memenangkan gelar.
Jangan sampai Klopp menjadi sosok yang begitu dicintai menyalin, tapi tidak pernah sekalipun memenangkan trofi.—Rappler.com