• May 4, 2026
‘Masjid Keliling’ memudahkan umat Islam untuk beribadah dimana saja

‘Masjid Keliling’ memudahkan umat Islam untuk beribadah dimana saja

BANDUNG, Indonesia – Suara azan Maghrib yang terdengar malam itu bukan berasal dari masjid atau musala, melainkan dari pengeras suara darurat yang dipasang di sebuah taman di Kota Bandung, Jawa Barat.

Di belakang muazin, terhampar beberapa karpet sebagai tempat menunaikan salat. Sementara itu, beberapa orang bergegas mengambil air wudhu dari keran yang pipanya terhubung dengan tangki air. Tangki air tersebut berada di dalam minibus berwarna putih dengan tulisan “Masjid Keliling” di badannya.

Masjid keliling atau “masjid keliling” memberikan layanan kepada umat Islam yang ingin menunaikan salat lima waktu di tempat yang jauh dari fasilitas ibadah umat Islam, seperti di Taman Cibeunying pada Rabu malam, 7 Juni.

Di dalam Masjid Keliling terdapat tangki air berkapasitas 500 liter, pipa dan kran untuk menyuplai air wudhu; terpal, sajadah dan sajadah untuk sajadah; generator; serta mukena dan sarung.

Selain tempat sholat dan air wudhu, Masjid Keliling juga menyediakan perlengkapan sholat yaitu sarung dan mukena. Khusus di bulan Ramadhan, tim Masjid Keliling memberikan takjil gratis dalam program bertajuk Tajil On the Road.

“Pada Ramadhan kali ini, jadwal Masjid Keliling juga lebih rutin, menjadi tiga kali dalam seminggu,” ujar Wendy Noorcahyana, salah satu tim Masjid Keliling, saat ditemui di Taman Cibeunying.

Biasanya layanan Masjid Keliling ini sering dijumpai pada pertandingan sepak bola, konser, di lokasi bencana, atau di tempat-tempat yang sulit dijangkau sarana dan prasarana salat. Masjid keliling juga dapat memberikan layanan dalam permintaan bagi masyarakat yang akan mengadakan kegiatan di luar rumah dimana tidak tersedia fasilitas sholat yang memadai. Semua layanan dan fasilitas masjid keliling disediakan secara gratis.

“Namun kami juga menerima sumbangan dari para donatur untuk pengembangan sarana dan perlengkapan Masjid Keliling,” kata Wendy.

Bermula dari kendala akses terhadap fasilitas ibadah

Program ini bermula dari pengalaman tim Masjid Keliling yang kesulitan mencari sarana salat yang nyaman dan bersih saat menonton pertandingan sepak bola atau konser. Pengalaman ini menjadi inspirasi untuk menjadikan layanan masjid tersedia di tempat keramaian.

Pada tahun 2015, layanan Masjid Keliling diluncurkan. Sejauh ini, sudah ada dua unit masjid keliling yang bersiaga di Bandung dan Jakarta.

Di dalam Masjid Keliling terdapat tangki air berkapasitas 500 liter, pipa dan kran untuk menyuplai air wudhu; terpal, sajadah dan sajadah untuk sajadah; generator; serta mukena dan sarung.

“Untuk acara yang berlangsung seharian ini, kami menyediakan delapan gulungan karpet yang mampu menampung 80 hingga 100 orang dalam satu jam salat,” kata Wendy.

Menurut pemuda berusia 25 tahun tersebut, respon masyarakat terhadap layanan Masjid Keliling sangat baik, apalagi hadirnya Masjid Keliling di lokasi bencana.

“Di lokasi bencana di Sumedang tahun lalu banyak terima kasih dari warga dan aparat, karena biasanya di lokasi bencana tidak ada yang menyediakan sarana salat yang bersih, biasanya minim,” kata Wendy.

Salah satu warga Mirna Kusumasari merasakan manfaat Masjid Keliling saat mengikuti kegiatan di luar rumah diselenggarakan oleh masyarakat. Menurutnya, layanan ini sangat bermanfaat, apalagi letak masjid cukup jauh dari tempat kegiatan.

“Jadi dengan Masjid Keliling kita tidak perlu jauh-jauh ke musala dan antri panjang,” kata Mirna, ibu dua anak.

Ia juga memuji perlengkapan salat dan wudhu yang menurutnya cukup lengkap. Namun sayangnya, kata Mirna, fasilitas wudhu bagi umat Islam masih belum memadai. Tempat wudhu yang menyatu dengan laki-laki dan tidak tertutup membuatnya sulit bersuci.

“Kalau berhijab seperti kami, wudunya tidak nyaman,” ujarnya.

Sementara bagi Iman, Masjid Keliling membantu umat Islam yang berada di luar, termasuk dirinya, untuk menunaikan salat tepat waktu. Iman yang saat itu berada di Taman Cibeunying berniat melaksanakan salat Maghrib di rumah. Ia bersyukur ada masjid keliling sehingga bisa menunaikan salat tepat waktu.

“Mudah-mudahan armada Masjid Keliling dan tim bertambah,” kata pria berusia 39 tahun ini.

Bukan hanya masjid keliling

Masjid Keliling merupakan salah satu program Masjid Nusantara, sebuah yayasan yang fokus pada pembangunan sarana dan prasarana masjid serta kegiatan untuk mensejahterakan masjid.

Masjid Nusantara didirikan pada tahun 2012 dan mulai melaksanakan programnya setahun kemudian. Ada tiga program yang dikelola Masjid Nusantara, yaitu pembangunan dan renovasi masjid, bantuan sarana dan prasarana masjid, serta program untuk menyejahterakan masjid.

Masjid keliling termasuk dalam program pembangunan dan renovasi masjid. Dalam program ini, Masjid Nusantara berhasil membangun 50 masjid di berbagai wilayah di Indonesia.

Daerah sasaran pembangunan masjid adalah daerah yang rentan secara ekonomi, rentan secara agama, dan daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

“Kami baru mulai memasuki wilayah yang mayoritas umat Islam minoritas pada tahun 2016, sebelumnya hanya di wilayah yang rentan secara ekonomi,” kata Direktur Masjid Nusantara, Hamzah Fatdri, kepada Rappler.

Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah minoritas yang berhasil dibantu pendirian masjid. Daerah berikutnya adalah Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

“Kabupaten Karo menjadi prioritas kami karena kondisinya memprihatinkan. “Umat Islam di sana salat di tempat yang hanya berupa tenda dan dilapisi kanvas,” kata pria berusia 28 tahun itu.

Dalam program mensejahterakan masjid, Masjid Nusantara ingin mengembalikan fungsi masjid seperti pada zaman Rasulullah, dimana masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga kegiatan masyarakat lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, pengembangan masyarakat. dan musyawarah.

“Dulu Rasul bahkan mengurus negara dan masyarakat di masjid,” kata Hamzah.

Untuk itu, Masjid Nusantara mengadakan pelatihan pengelolaan masjid yang diikuti oleh pengurus Dewan Keluarga Masjid (DKM) dari berbagai daerah. —Rappler.com

Data Hongkong