• April 7, 2026
Mengapa bazar buku Big Bad Wolf ramai dikunjungi padahal minat baca rendah?

Mengapa bazar buku Big Bad Wolf ramai dikunjungi padahal minat baca rendah?

Menurut laporan UNESCO, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang gemar membaca

JAKARTA, Indonesia — Mulai tanggal 30 April hingga hari ini, 9 Mei, diadakan bazar buku impor terbesar di Indonesia di Indonesia Convention and Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten.

Minat masyarakat untuk mengunjungi bazar Serigala Jahat Besar Indonesia (BBW) sangat besar. Hingga 6 Mei, BBW Indonesia diperkirakan dihadiri 100 ribu pengunjung. Bahkan, pameran yang sedianya berakhir pada Minggu, 8 Mei, diperpanjang hingga Senin, 9 Mei, pukul 23.00 WIB.

Terdapat jutaan buku yang tersusun dalam puluhan meja, mulai dari buku cerita anak, novel dewasa muda, hingga buku sastra dewasa.

Berdasarkan observasi, hampir semua buku yang dijual merupakan buku impor berbahasa Inggris, hanya ada satu atau dua meja di pojok yang menjual buku fiksi berbahasa Indonesia.

Dari jutaan buku tersebut, sekitar 30 persennya merupakan buku anak-anak. Jika biasanya satu buku cerita anak impor harus dibeli dengan harga lebih dari Rp 200 ribu, maka harga di pameran ini kurang dari Rp 100 ribu.

Bahkan buku fotografi berukuran besar yang biasanya berharga lebih dari setengah juta rupiah, bisa dibeli hanya dengan harga seratus hingga dua ratus ribu rupiah.

Rappler mengunjungi BBW Indonesia pada Minggu, 1 Mei dan harus mengantri lebih dari 15 menit hanya untuk bisa masuk. aula 10 tempat pameran berlangsung. Bahkan di hari-hari lain, khususnya saat libur panjang Isra Mi’raj dan Kenaikan Isa Almasih, pada pekan lalu, banyak pengunjung lain yang harus mengantri berjam-jam untuk bisa masuk.

Setelah kami selesai berbelanja selama kurang lebih dua setengah jam (ditemani ibu saya yang lupa waktu melihat buku), kami mengantri di kasir selama hampir 30 menit.

Ketika saya sampai di sana, suasananya tidak sesibuk dulu akhir minggu yang panjang. Namun tetap saja ada ratusan pengunjung yang membeli banyak buku berbahasa Inggris di pameran tersebut.

Saat itu aku berpikir, “Sepertinya masih banyak orang yang suka membaca buku ya.”

Faktanya, menurut laporan UNESCO, hanya 1 dari 1.000 penduduk Indonesia yang memiliki minat membaca. Dengan kata lain, indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Sangat rendah, bukan?

Sedangkan berdasarkan laporan Kantor Perpustakaan Nasional RI, 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun suka menonton televisi namun tidak suka membaca buku.

Fakta ini membuat saya berpikir ulang, apakah fenomena hebohnya festival buku asal Malaysia ini benar-benar karena minat membaca masyarakat yang mulai membaik?

Akhir pekan lalu, ada yang mengaku harus antri selama dua jam hanya untuk membayar buku belanjaannya. Saya punya teman yang datang pada jam 4 pagi agar dia bisa memilih buku dengan lebih tenang (walaupun masih cukup sibuk).

Saya mengetahui situasi banyaknya BBW dari media sosial karena banyak teman saya yang menggunakannya linimasa Facebook dan Pad apa mendaftar di BBW. Saya baru sadar kalau pameran BBW merupakan wadah foto-foto baru yang cukup bagus untuk diunggah ke media sosial.

Ini mengingatkan saya pada fenomena IKEA—supermarket mebel Swedia dibuka di Alam Sutera, Tangerang – yang lebih dikenal sebagai lokasi foto ala #OOTD (pakaian hari ini).

Banyak orang datang ke IKEA karena ingin mengambil foto dengan latar belakang rak tinggi yang berisi kotak dan peralatan mebel lainnya. Sangat Instagramable.

Sedangkan BBW kalau dipikir-pikir memang begitu Jalan mumpuni banget. Berjalan di antara tumpukan buku, rela antri berjam-jam demi mendapatkan lektur impor dengan harga murah, memberi kesan seperti seorang kutu buku sejati.

Pada-penempatan di Facebook juga menarik. Anak-anak duduk di keranjang yang ditarik orang tuanya sambil melihat jutaan buku lainnya.

Saat ini, segala sesuatu yang menarik untuk diunggah di media sosial sepertinya menarik. Mulai dari makanan, restoran hingga tempat wisata.

Namun di balik itu semua, dengan banyaknya orang yang mengunjungi BBW, tujuan penyelenggara yang ingin mendorong minat masyarakat Indonesia untuk membaca pameran ini bisa sukses.

Semoga banyaknya orang yang membeli dan membaca buku tidak berhenti di BBW dan media sosial.—Rappler.com

BACA JUGA:

HK Prize