• April 27, 2026
Mengapa kita harus berhenti menertawakan humor seksis?

Mengapa kita harus berhenti menertawakan humor seksis?

“Ah kamu mah Relaxa. Iya Relaxa alias bersedia diperkosa.”

Ingat lelucon di atas? Saya mendengarnya pertama kali ketika saya masih di sekolah dasar. Lelucon yang didasarkan pada permainan kata-kata merek permen ini sangat populer di kalangan pelajar. Saya pikir itu lucu saat itu karena saya tidak begitu mengerti maksudnya, saya juga tidak begitu mengerti tentang pemerkosaan, apalagi seksisme dan feminisme.

Tapi sekarang, mendengarnya saja membuatku menangis dan merasa tidak bisa diterima. Dan tentu saja itu tidak lucu. Ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak lelucon seksis yang diceritakan tidak hanya oleh orang dewasa, tapi juga oleh anak di bawah umur.

Hal ini menunjukkan bahwa lelucon sehari-hari di kalangan masyarakat masih mengandung muatan seksis dan misoginis. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, anak-anak sudah terbiasa mendengar dan menertawakan lelucon-lelucon seksis. Bayangkan betapa kacaunya jika ketika mereka dewasa mereka juga menganggap seksisme dan misogini adalah hal yang normal dan dapat diterima?

Di era digital seperti sekarang, lelucon-lelucon dengan konten seksis dan misoginis sepertinya semakin banyak ditemui. Komedian Kemal Palevi baru-baru ini dikritik karena membuat video yang ditayangkan di YouTube, berisi konten seksis dan melecehkan karena menanyakan ukuran bra kepada para gadis, dan salah satunya ternyata adalah gadis berusia 14 tahun.

Kemal sepertinya belum paham apa itu seksisme dan pelecehan seksual. Bahkan, dalam cuitannya di Twitter, ia menyebarkannya video penggoda dengan menyoroti fakta bahwa dia menanyakan ukuran bra seorang gadis berusia 14 tahun, bangga dan menganggapnya lucu.

Tidak hanya umum dalam budaya populer, lelucon seksis masih dianggap normal di semua lapisan masyarakat di Indonesia, seperti dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, politik, dan hubungan sehari-hari.

Saya masih ingat ketika salah satu guru saya membuat lelucon di depan kelas tentang betapa menariknya penampilan teman perempuan saya ketika rambutnya basah. Seluruh kelas tertawa atas dasar “itu hanya lelucon”. Padahal, lelucon tersebut bernuansa seksual dan tidak pantas untuk diucapkan, apalagi oleh seorang guru kepada muridnya.

(BACA: Komedi Indonesia Penuh Testosteron)

Di lain waktu, seorang rekannya bercanda tentang seorang jurnalis perempuan yang berhasil memperoleh informasi eksklusif. Leluconnya cukup banyak mengatakan bahwa jurnalis perempuan ini mungkin tidur dengan sumbernya untuk mendapatkan informasi tersebut. Tentu saja semua orang tertawa, sekali lagi berdasarkan “lelucon”.

Saya pikir humor seksis terhadap perempuan sama tidak dapat diterimanya dengan humor seksis terhadap laki-laki. Misalnya saja humor bahwa laki-laki bodoh jika diminta belanja bulanan atau humor bahwa laki-laki hanya bertindak mengikuti dorongan seksual. Humornya tidak lucu sekaligus diskriminatif.

Humor memiliki kekuatan

Mengapa kita tidak boleh menoleransi humor seksis? Karena humor mempunyai kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh. Fakta bahwa saya sering diterpa lelucon seksis sejak saya masih berseragam putih dan merah menunjukkan ada yang tidak beres di masyarakat kita.

Humor seksis yang dianggap lumrah akan membuat seksisme dan pelecehan seksual menjadi hal biasa.

Humor pemerkosaan yang dianggap biasa akan melahirkan budaya pemerkosaan – budaya yang mendukung kekerasan terhadap perempuan, dimana perempuan dipandang sebagai objek dan komentar serta lelucon seksual yang bersifat diskriminatif dan menyakitkan dianggap lucu.

(BACA: Alasan Saya Buka Suara Soal Pelecehan Seksual yang Saya Alami)

Terpaparnya humor seksis pada diri seseorang juga akan mempengaruhi perilaku orang tersebut. Sebuah studi dari Western California University menunjukkan bahwa orang yang sering terpapar humor seksis dapat menyebabkan orang tersebut mentolerir perilaku yang memusuhi perempuan dan mendiskriminasi perempuan.

Tak hanya itu, penelitian yang sama juga menemukan bahwa orang-orang yang terpapar gambar dan humor seksis juga lebih cenderung setuju dengan pemotongan pendanaan pada organisasi perempuan.

Jadi ya, humor mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi pemikiran dan tindakan seseorang. Sayangnya, humor seksis masih menjadi bagian dari dunia komedi Indonesia. Humor seperti itu menjadikan perempuan sebagai objek dan sasaran. Kemal Palevi hanyalah satu dari sekian banyak YouTuber yang menjadikan seksisme sebagai lelucon.

Yang miris, sosok Kemal justru menjadi idola di kalangan anak muda tertentu dan menjadi panutan bagi generasi muda yang ingin berkarir sebagai komedian melalui kompetisi Stand Up Comedy atau YouTube. Saat saya mencoba mencari tahu seperti apa YouTuber lain yang baru mulai membuat video, ternyata tidak jarang mereka membuat video seksis seperti Kemal.

Beberapa YouTuber Indonesia yang saya temukan menyertakan konten berjudul “candaandengan menjadikan perempuan sebagai objek. Misalnya tantangan meminta nomor ponsel perempuan, tantangan “menembak” perempuan, dan tantangan mencium perempuan. Segala sesuatu yang melecehkan perempuan dianggap wajar dengan alasan “bercanda”.

Berhentilah menertawakan humor seksis

Selama ini kita sering menoleransi humor seksis dengan alasan hanya sekedar humor. Tapi tidak, kita tidak boleh membuatnya alami. Faktanya, bukan hanya laki-laki yang bisa menertawakan lelucon seksis, tapi juga perempuan.

Mereka yang menertawakan humor seksis ini sebenarnya sedang menunjukkan bahwa jauh di lubuk hati dan pikiran mereka terdapat prasangka negatif terhadap perempuan, yang pada akhirnya berujung pada diskriminasi terhadap perempuan.

Banyak yang terpaksa tertawa karena takut dianggap “tidak menyenangkan” atau “terlalu serius”. Tapi lelucon seksis sama sekali tidak lucu. Mereka bermusuhan dan merendahkan. Menertawakan humor seksis sama saja dengan menerima begitu saja seksisme dan diskriminasi terhadap perempuan.

Apa jadinya jika orang-orang yang bertoleransi terhadap humor seksis menjadi pengambil kebijakan di Indonesia?

Tentu saja hal ini akan berdampak negatif terhadap kesetaraan gender yang diusung oleh para aktivis kesetaraan gender. Bahkan saat ini, kita tahu bahwa beberapa politisi justru melontarkan komentar yang menyalahkan korban pemerkosaan. Misalnya Marzuki Alie dan Fauzi Bowo yang menyalahkan cara berpakaian perempuan.

Sangat mudah untuk membuat humor dari konten seksis. Tapi tidak ada komedian hebat seperti itu. Komedian yang berhasil menciptakan materi kreatif dengan cara yang tidak seksis bisa disebut komedian hebat. Dengan begitu, tidak ada pihak yang perlu dilecehkan atau dihina.

Kemarahan netizen saat video Kemal dibagikan justru membuktikan masyarakat Indonesia tidak menyukai konten seksis. Meski demikian, saya tidak memaklumi masih banyaknya komentar seksis yang mendukung pelecehan dan diskriminasi terhadap perempuan.

Cepat atau lambat, jangan biarkan humor seksis menjadi hal biasa. Tolak dan jangan menertawakan humor yang mengandung konten seksis. —Rappler.com

Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di www.magdalena.co

Yohannie Linggasari adalah mantan jurnalis ibu kota yang mempunyai cita-cita untuk menulis buku sendiri. Dia mulai mempelajari dan mempelajari isu gender dan feminisme di universitas. Sekarang berdomisili di Singapura dan memilih bekerja dari jam sembilan sampai jam enam.