• May 25, 2026
Mengapa Perancis melarang burkini di tempat umum?

Mengapa Perancis melarang burkini di tempat umum?

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Perancang burkini, warga negara Australia, mengatakan pakaian renang tersebut bisa dikenakan oleh penderita kanker kulit atau ibu yang baru hamil. Burkini tidak melambangkan Islam

JAKARTA, INDONESIA — Penjualan burkini atau burkabikini meningkat setelah pemerintah Prancis memberlakukan larangan pemakaian pakaian renang tersebut di tiga kota; Cannes, Villeneuve-Louber dan Sisco (Korsika).

Polisi kota Corsica bersenjatakan senjata memaksa seorang perempuan, Siam, yang sedang bersantai bersama keluarganya di pantai di Nice, melepas burkini, pada Selasa, 24 Agustus.

Burkini merupakan pakaian olah raga khusus wanita yang menutupi seluruh tubuh dan kepala, biasanya dipakai oleh wanita muslim untuk berenang.

Dilansir dari The Guardian, desainer asal Australia, Aheda Zanetti menceritakan alasan mengapa dia membuat pakaian olahraga khusus untuk wanitayang dia sebut burkini.

“Saya ingin melakukan sesuatu yang positif, dan semua orang bisa memakai pakaian ini, baik Kristen, Yahudi, Hindu, atau seseorang yang menderita kanker kulit, atau ibu baru yang tidak ingin memakai bikini. Burkini tidak melambangkan Islam, kata Aheda.

Burkini mendapat perhatian internasional ketika Surf Life saving Australia meluncurkan program untuk mengintegrasikan pria dan wanita Muslim sebagai penjaga pantai konflik antaretnis di pantai Cronullanegara bagian New South Wales, pada tahun 2007.

Sebelumnya, Prancis melarang pemakaian burqa di tempat umum di negaranya. Peraturan ini dimulai secara perlahan pada tahun 2004, namun pada bulan April 2011 pemerintah sepenuhnya melarang penggunaan cadar atau burqa di tempat umum.

Setiap wanita yang mengenakan burqa di depan umum akan didenda 150 euro atau sekitar Rp 2.200.000.

Larangan ini diterapkan dengan alasan burkini tidak sejalan dengan undang-undang sekularisme Prancis. Namun para kritikus menilai pelarangan tersebut merupakan bentuk meningkatnya permusuhan terhadap simbol-simbol Islam dan agama Islam itu sendiri.

Beragam tanggapan masyarakat Perancis mengenai kebijakan pemerintahnya. Salah satunya, pengusaha Prancis keturunan Aljazair yang juga aktivis HAM di Prancis, Rachid Nekkaz, siap membayar seluruh denda yang diberikan pemerintah Prancis kepada muslimah pemakai burkini.

Namun ada juga yang mendukung program pemerintah Prancis.

Salah satu saksi, Mathilde Cousin, mengatakan tentang insiden orang Siam di pantai Nice: “Semua orang meneriaki wanita itu: ‘Pergi! Pulanglah’, tapi beberapa juga bersorak.”

Perancis bukan satu-satunya negara yang melarang penggunaan burqa di tempat umum. Salah satu contohnya adalah Mesir yang melarang staf akademik mengenakan burqa di kelas Universitas Kairo dengan alasan memudahkan komunikasi dengan mahasiswa. —Rappler.com

Hk Pools