Mengenal Baterai Lithium-ion dan Bahayanya
keren989
- 0
Jika diisi daya secara berlebihan, partikel kimia pada baterai lithium akan bergerak tidak menentu bahkan menimbulkan gelembung yang dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan.
JAKARTA, Indonesia – Dalam dua pekan terakhir, masyarakat global dihebohkan dengan isu keamanan baterai ponsel.
Hal ini bermula dari meledaknya perangkat terbaru Samsung, yakni Galaxy Note 7, beberapa pekan setelah dirilis pada 19 Agustus lalu.
Pada tanggal 1 September, perusahaan teknologi asal Korea Selatan tersebut merilis pernyataan di situs resminya bahwa mereka akan menarik semua Galaxy Note 7 dari peredaran.
Sementara itu dalam keterangannya, Samsung menyebutkan tercatat ada 35 kasus di seluruh dunia terkait produk terbarunya.
Samsung juga akan memberikan kompensasi kepada pengguna yang membeli Galaxy Note 7 berupa produk yang sama dengan baterai baru, atau dengan Galaxy S7 atau S7 Edge.
Ledakan Galaxy Note 7 disebabkan oleh baterai yang terpasang pada perangkat tersebut, yakni baterai lithium ion.
Lalu apa masalahnya dan apa bahayanya baterai jenis ini?
Wadah baterai Samsung
Pada Galaxy Note 7, kasusnya adalah baterai perangkat meledak saat sedang diisi. Ledakan itu berasal dari baterai lithium-ion.
Baterai jenis ini banyak dijumpai dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Umumnya baterai lithium ion digunakan pada ponsel, peralatan rumah tangga, laptop, serta kendaraan kecil dan besar.
Meski umum, baterai lithium-ion juga memiliki kekurangan.
Baterai ini mengandung unsur kimia lithium yang mudah bereaksi dengan oksigen atau air, bahkan guncangan.
Pada baterai terdapat dua elektroda yaitu anoda yang berisi ion negatif dan katoda yang berisi ion positif.
Biasanya, ketika ponsel digunakan, litium pada baterai akan berpindah dari katoda ke anoda, dan sebaliknya, saat sedang diisi, litium akan berpindah dari anoda ke katoda.
Kedua ion tersebut tidak boleh bersentuhan karena akan menyebabkan kebakaran atau ledakan.
Pada baterai lithium-ion pada umumnya, terdapat pemisahan antara dua ion di dalam baterai.
Pada Galaxy Note 7, Samsung mengklaim ledakan terjadi akibat kesalahan produksi baterai sehingga berujung pada ledakan.
Mengapa pengisian daya menyebabkan ledakan?
Dalam kasus Samsung, Galaxy Note 7 dikabarkan meledak saat diisi dayanya.
Baterai lithium-ion pada dasarnya merupakan produk yang aman, namun jika digunakan secara tidak tepat dapat berakibat fatal.
Penyalahgunaan tersebut termasuk membebankan biaya yang berlebihan atau kelebihan muatanatau panas berlebihan.
Jika diisi daya secara berlebihan atau dibiarkan dalam waktu lama, partikel kimia pada baterai akan bergerak tidak menentu bahkan menimbulkan gelembung yang dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan.
Bahaya secara umum
Ketika baterai lithium-ion atau jenis apa pun meledak, tentu bukan hanya kebakaran dan luka bakar saja yang berbahaya bagi manusia.
Justru bahan-bahan kimia yang ada di dalam baterai, seperti timbal, asam sulfat, dan lain-lain, akan membahayakan tubuh manusia.
Saat baterai meledak, bahan kimia tersebut akan bergabung dengan oksigen di sekitarnya, dan dapat terhirup oleh manusia.
Hal ini dapat menyebabkan penyakit seperti gangguan pernafasan, gangguan otak bahkan impotensi. Mereka yang lebih rentan terhadap dampak ledakan baterai adalah anak-anak dan perempuan.
Bahan kimia yang mereka hirup dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, otak dan saraf pada anak-anak, serta gangguan kehamilan dan janin pada wanita.
Oleh karena itu, ada peringatan keras untuk menjauhkan baterai dari jangkauan anak-anak.
Pemegang baterai disarankan untuk segera mencuci tangan dan tidak menyentuh mulut, mata, dan bagian tubuh sensitif lainnya segera setelah menyentuh baterai. – Rappler.com