Mengenal Karakter Pemilih di Pilkada DKI Jakarta
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Setiap orang memiliki alasan berbeda dalam menentukan pilihan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan umum (election). Ada yang memilih berdasarkan penampilan, kesamaan karakter, serta visi misi dan program kerja.
Pengamat politik Hanta Yuda menjelaskan tentang 3 tipe pemilih berdasarkan kesukaannya. “Ada pemilih rasional yang memilih berdasarkan kinerja, visi misi, dan program,” kata Hanta di Jakarta, Kamis, 19 Januari.
Lalu ada juga psikologis pemilih yang melihat dari penampilan, tingkah laku, dan tingkah laku calon calon. Mereka tidak terlalu mengkhawatirkan hal-hal teknis seperti pengalaman atau program yang ditawarkan.
Tipe ketiga adalah pemilih sosiologis, atau mereka yang mengutamakan kesamaan karakter dengan calonnya. Faktor yang melingkupinya adalah kesamaan agama, daerah asal dan pandangan.
Pemilih di Jakarta
Menurut Direktur Eksekutif Poltracking Institute ini, karakteristik pemilih dari 3 calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017 terpetakan dalam kategori tersebut. Masing-masing kandidat memiliki kelebihan di masing-masing tipenya.
Misalnya saja calon nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang mayoritas pendukungnya bersifat psikologis. Dalam jajak pendapat Poltracking yang dirilis Kamis pekan ini, tertulis salah satu hal yang disukai pemilih dari Agus adalah ketampanannya.
“Dia dipanggil baik, sopan juga,” kata Hanta. Sedangkan poin lain seperti program tidak terlalu penting.
Untuk pemilih rasional, mayoritas mendukung pasangan nomor urut 2, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Selain menawarkan program kerja dan visi misi yang terukur, keduanya juga diuntungkan oleh faktor kepuasan.
“Tidak bisa dipungkiri kepuasan masyarakat terhadap kinerja petahana terbukti tinggi,” ujarnya. Menurut Hanta, pemilih yang rasional memang menjadi sumber kekuatan Ahok-Djarot pada pilkada kali ini.
Pasangan nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sejatinya didukung kelompok sosiologi. Menurut Hanta, strategi kampanye mereka juga menyasar kelompok tersebut.
Pertama, salah satu cara Anies berbicara adalah dengan berdandan. Anies selalu menggunakan bahasa retorika dan keagamaan. Pakaiannya juga mengacu pada ras tertentu, yang memakai kemeja putih dan topi.
“Kami melihat dia ingin mewakili bagian dari kelompok sosiologis itu,” ujarnya. Bagi Jakarta sendiri, isu sosial yang paling kuat adalah agama.
Hanta menilai Anies cukup sukses dengan strateginya, terbukti dengan tren elektabilitasnya yang meningkat hingga 8 persen. Dalam survei bulan November lalu, ia hanya mendapat 20 persen; untuk Januari 2017 elektabilitasnya sebesar 28 persen.
Meski demikian, Hanta menegaskan tidak semua jenis pemilih berbondong-bondong memilih satu calon tertentu. “Ini tidak berarti semua pemilih yang rasional memilih Pak Basuki,” ujarnya.
Persaingan untuk mendapatkan suara
Karakteristik ini penting dalam menentukan kampanye seperti apa yang bisa memenangkan hati mereka. Jajak pendapat Poltracking menunjukkan masih ada 12,9% pemilih yang belum menentukan pasangan calon yang akan dipilihnya.
Selain itu, belum semua suporter menyatakan konsisten dalam seleksi hingga D-Day pada 15 Februari mendatang. Pemilih yang bingung ini berjumlah sekitar 27 persen.
“Calon masih harus bekerja keras untuk merebut suara dari ceruk ini,” kata Hanta. Hal ini dinilai menguntungkan karena perbedaan tren elektabilitas antar kandidat cenderung tipis.
Namun, ia menilai Ahok-Djarot akan kesulitan merebut suara pemilih sosiologis. Apalagi setelah ada kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Ahok.
Berdasarkan tren survei, Hanta menilai Ahok bakal kesulitan di putaran kedua. “Masalahnya disk pendukung 1 dan 2 sangat tipis. Sedangkan 3 di tengah, katanya.
Dia menjelaskan, jika salah satu Agus dan Anies lolos ke putaran kedua dan berhadapan dengan Ahok, maka pendukungnya akan saling berpindah. Kecil kemungkinan Ahok-Djarot memperoleh suara lebih banyak dibandingkan salah satu calon yang gagal.
Jika memanfaatkan momen debat calon, Anies justru diuntungkan. Meski penguasaannya terhadap masalah berada di bawah Ahok, namun penguasaannya terhadap panggung dan cara berkomunikasi sangat tinggi.
Meski demikian, Hanta mengatakan, hal tersebut bukan berarti hasil pilkada sudah ditentukan. Tren mungkin masih terus berubah, terutama untuk putaran kedua yang jika dilaksanakan akan memiliki jeda hampir 3 bulan dari putaran pertama.
Apalagi setiap pemilih tidak terpaku pada satu jenis saja. Ada hal-hal yang bersinggungan, seperti rasional dan psikologis, sehingga pilihan bisa berubah tergantung pendekatan kandidat.
Berdasarkan hasil survei tersebut, Juru Bicara Tim Sukses Ahok-Djarot Maruarar Sirait mengungkapkan kepercayaannya terhadap masyarakat Jakarta. “Saya yakin pemilih di Jakarta cerdas. Basuki-Djarot sudah diuji, ujarnya.
Sementara itu, perwakilan tim Anies-Sandi, Riza Patria dari Partai Gerindra meyakinkan calonnya akan memenangkan perdebatan. “Debatnya ada pengaruhnya, masih ada dua lagi. “Tidak harus ilmunya, tapi bagaimana menguasai forumnya,” kata Riza.
Menurutnya, penting bagi seorang pemimpin untuk bersikap sopan dan berintegritas. Dalam hal menguasai isu dan permasalahan kota, Anda bisa belajar dengan cepat.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo mengatakan penemuan Agus-Sylvi menjadi vitamin pahit bagi timnya. “Kami diingatkan pasti ada kejutan saat kampanye. “Jangan lengah, nanti ada kejutan baru,” ujarnya.
Jadi kamu tipe pemilih yang seperti apa?—Rappler.com