Mengubah persepsi terhadap kota agar tidak ketinggalan jaman
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Kota seringkali dipandang negatif, namun dengan visi yang tepat, kota dapat diubah menjadi manfaat bagi penghuninya
JAKARTA, Indonesia — Dalam istilah pembangunan perkotaan, kata “kampung” seringkali memiliki asosiasi negatif seperti keterbelakangan, permukiman kumuh, dan infrastruktur yang buruk.
Kini semakin banyak upaya untuk mengubah pandangan tersebut dan mengajak masyarakat untuk melihat lebih dekat potensi perkotaan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Bagaimana perkembangan kota saat ini? Simak uraiannya di Sketsa Cerita Rappler Indonesia.
Dalam lingkungan kota, desa merupakan suatu kesatuan sosial yang penuh dengan identitas dan nilai-nilai budaya yang terikat dalam konteks keruangan. Kita dapat mengartikan bahwa kota ini kaya modal sosial; dan dengan memperkuat kapasitas, hal ini dapat menghasilkan keuntungan bersama.
Dalam kerangka kota kreatif, warga yang berdaya merupakan pemain peran penting dalam pengelolaan aset dan potensi kota yang memberikan nilai tambah bagi kota.
Beberapa lensa kota kreatif adalah sebagai berikut:
1. Desa unggulan pengembangan produk perekonomian lokal dari berbagai sektor, seperti fesyen (contoh: batik, blangkon), masakan (contoh: Kue Apem Solo, Lumpia Semarang, Bakpia Jogja), kerajinan tangan dan kerajinan tangan (contoh: Kota Gede perak, tas dan sepatu kulit bandung).
Perspektif ini melihat potensi suatu barang atau jasa yang dapat diproduksi dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai suatu identitas. Dengan memperkenalkan identitas dan keunikan desa, inisiatif ini mampu menciptakan lapangan kerja bagi warga.
2. Desa hijau sebagai solusi masyarakat mengatasi keterbatasan lahan. Upaya penghijauan menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat perkotaan untuk berkreasi dalam meningkatkan kualitas lingkungan kota agar lebih nyaman, bersih dan layak huni. Inovasi desa juga dapat memperkuat kemandirian masyarakat dalam upaya ketahanan pangan.
3. Mengelola kawasan perkotaan sebagai destinasi wisata berdasarkan pengelolaan masyarakat. Inisiatif baik seperti desain ulang berbagai sisi kota, dokumentasi narasi dan sejarah kota, serta dinamika keseharian warga, serta peningkatan nilai estetika dapat menunjang potensi sebuah kota. Namun inisiatif ini tidak bisa berakhir hanya dengan pemulihan kulit terluar saja, semua proses harus melibatkan warga kota sebagai aktor utama dan memiliki visi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial warga.
Desa kreatif dan upaya pelestariannya harus menggandeng warga sebagai pelaku utama dan pengkonsep, agar desa tidak berakhir menjadi ikon kota semu yang lambat laun terlupakan oleh zaman.
Lalu bagaimana kita bisa melihat dan mengkaji fenomena kota kreatif secara lebih kritis dan mendalam dalam konteks penguatan komunitas perkotaan? Ikuti pembahasan dan berbagai permasalahan perkotaan lainnya serta solusinya di Die 5st Forum Sosial Perkotaan. Acara akan dilaksanakan di Bandung 16 Desember 2017 di SMAN 3 Bandung. Forum ini gratis dan terbuka dengan pendaftaran di www.urbansocialforum.or.id. —Rappler.com
Sketsatorial adalah kolom mingguan Rappler tentang isu-isu penting yang dibahas menggunakan sketsa video, yang dibuat oleh Iwan Hikmawan. Ikuti Iwan di Twitter @Sketgram.