Menunggu bioskop Islam di Aceh
keren989
- 0
BANDA ACEH, Indonesia — Jam baru saja menunjukkan pukul 20:05 WIB ketika ratusan pemuda kota Banda Aceh berdiri dan berjalan-jalan di halaman gedung Taman Budaya, Banda Aceh pada Sabtu malam, 9 Desember 2017.
“Saya mau nonton film, kawan,” kata salah satu warga kepada Rappler. Ia harus menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebelum dapat memasuki gedung dan menikmati suguhan gratis ini.
Di dalam gedung, layar besar dipajang di depan. Deretan kursi tertata rapi. Warga yang ingin menonton terus berdesak-desakan untuk masuk. Namun, laki-laki dan perempuan dipisahkan.
Musik menjadi lebih lambat dan lebih keras. Tak lama kemudian, semua lampu di gedung itu dimatikan. Suasana menjadi gelap.
Perlahan, layar lebar mulai menyala diiringi alunan musik pembuka sebuah film. Penonton terdiam, hanya suara film yang semakin nyaring.
Malam itu film yang diputar adalah film nasional ‘Bus Malam’. Pemutaran film ini merupakan salah satu rangkaian acara Festival Film Aceh (AFF) 2017 yang digelar 8-10 Desember 2017.
Ratusan warga antusias menyambut festival film ini, padahal bangunan di Taman Budaya Banda Aceh sebenarnya bukan bioskop, melainkan hanya bangunan biasa yang dialihfungsikan menjadi bioskop.
Sejak tsunami melanda Aceh pada tahun 2004, bioskop-bioskop tenggelam dan seakan tak mampu dihidupkan kembali hingga saat ini.
Sejumlah film lokal Aceh dan nasional diputar di sana. Festival tahunan ini menjadi ajang memamerkan dan mengapresiasi karya-karya sineas muda Aceh. Acara promosi film ini pertama kali diadakan di lokasi yang sama pada tahun 2014.
“Acara ini diadakan sebagai bentuk apresiasi kepada para sineas muda Aceh, baik nasional maupun internasional. “Kami melihat perkembangan komunitas film di Aceh terus meningkat,” kata sutradara Festival Film Aceh 2017, Jamaluddin Phonna (26), kepada Rappler, 9 Desember 2017.
Menurut Jamal, AFF sudah sepatutnya menjadi wadah bagi para sineas muda Aceh yang saat ini sedang berkembang. Apalagi belum adanya bioskop di Aceh membuat dunia film Aceh bergerak sangat lambat. “Di sinilah kita bisa memamerkan karya-karya mereka,” ujarnya.
Presiden AFF 2017, Fauzan Santa (41), mengatakan festival ini khusus diadakan oleh para sineas muda Aceh yang tergabung dalam berbagai komunitas film. Mereka mencari film terbaru di bioskop sebagai alternatif bioskop di Aceh.
“Film terbaru kita cari di bioskop, kita tayangkan di sini. “Kita akan jadikan seperti bioskop,” kata Fauzan.
Pembuatan film di Aceh, kata Fauzan, mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Meski lambat, dia memastikan akan terus meningkat. “Kita butuh energi, kawan-kawan yang punya vitalitas tinggi,” ujarnya.
Fauzan juga mengatakan, ke depannya akan didirikan sekolah film di Aceh. Namun, ia sedikit khawatir dengan minimnya bioskop di Aceh. Menurutnya, sinematografi menjadi insentif untuk menghasilkan karya baru.
“Ketika masyarakat menonton dalam suasana yang luar biasa seperti di bioskop, maka antusiasme para sineas muda ini akan meningkat,” jelas Fauzan.
Cerminan
Festival Film Aceh 2017 mengusung tema refleksi. Tema ini mengajak penonton untuk berpikir kembali tentang dunia perfilman di Aceh. Pasca tsunami tahun 2004, bioskop tersebut hilang ditelan ombak. Kehausan masyarakat Aceh terhadap film terlihat dari panjangnya antrean saat menonton bioskop sulap.
“AFF sebenarnya menjadi bukti adanya rasa haus terhadap penonton bioskop di Aceh yang pasca tsunami sudah tidak lagi merasakan bioskop di Aceh,” kata Jamal.
Ketika ribuan penonton memenuhi gedung, cerminan keberadaan bioskop di Aceh kembali terlihat. Meski begitu, Jamal mengaku belum bisa menyamakan kondisi gedung yang terbatas dengan bioskop.
“Kita tidak bisa menandingi film nasional hadir di sini karena keterbatasan teknis,” kata Jamal. Karena keterbatasan tersebut, beberapa dialog film kurang terdengar baik oleh penonton.
Hingga hari kedua AFF digelar, Fauzan menyebut refleksi yang diharapkan belum sepenuhnya tercapai.
Masyarakat Aceh belum terbiasa menonton film seperti di bioskop sehingga membuat mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang. Misalnya mengambil gambar saat film sedang diputar atau berbisik-bisik yang mungkin mengganggu penonton lain.
“Ini akibat sudah lama kita tidak menikmati tayangan yang memiliki kualitas emosional dan dramatis yang baik,” kata Fauzan. “Saya pikir kita harus menayangkan lebih banyak film seperti ini di tempat yang bagus.”
sinema Islam
Wacana pendirian bioskop di Aceh berkali-kali diutarakan oleh para sineas muda. Ini juga seperti mimpi yang naik dan turun. Seringkali wacana ini bertentangan dengan aturan hukum Islam yang berlaku di Aceh.
Fauzan Santa membantah teater tidak sesuai dengan nilai syariat Islam. Ia menjelaskan, film sebenarnya mengajarkan hal yang paling sederhana.
“Misalnya tidak boleh berisik, tidak boleh ini dan itu, tidak boleh merekam,” kata Fauzan. Menurutnya, kehadiran bioskop sangat bertentangan dengan nilai-nilai budaya Islam di Aceh.
Karena Islam adalah sebuah nilai, kata Fauzan, selebihnya adalah budaya Islam yang berbeda-beda di setiap daerah.
“Budaya berbeda-beda di setiap daerah. “Saya kira masih bisa ada dialog, seperti penonton laki-laki dan perempuan dipisah, film kita disensor, kita potong total,” kata Fauzan.
Fauzan memastikan teater Islam tidak punya alasan untuk melakukan perbuatan maksiat. “Saya kira cukup baik kita menciptakan bioskop Islami di Aceh,” ujarnya.
Sinema Islami ini akan menerapkan nilai-nilai Islam. Film-film yang diputar juga akan bersifat misionaris atau kemanusiaan. Prinsip Islam adalah menutup aurat, jika menyangkut warna pakaian yang disukai pemakainya.
Sinema sebenarnya bukan hal baru di Aceh. Masa kejayaannya pernah terjadi di kota Banda Aceh pada tahun 2000an (sebelum terjadinya tsunami). Beberapa bekas gedung bioskop kini telah dialihfungsikan menjadi pertokoan atau keperluan lainnya.
Misalnya Bioskop Sinar Indah (SIB) di Peunayong, Bioskop Jelita di Beurawe, Bioskop Garuda di Jalan Muhammad Jam, Bioskop Gajah di Simpang Lima, dan Pas 21 di Pasar Aceh.
“Bioskop hilang di Aceh, bukan karena dilarang, tapi mati dengan sendirinya karena televisi dan DVD keluar saat itu. Sekarang kita mau menganimasikan polanya lagi, apa masalahnya? kita bisa bernegosiasi,” kata Fauzan.
Tidak masalah tidak ada bioskop selama ada Festival Film Aceh, kata Jamal sambil tersenyum. Festival ini ibarat penerang dalam gelapnya dunia perfilman di Aceh. Beliau menjadi energi baru bagi semangat para sineas muda Aceh untuk terus berkarya.
Malam semakin larut karena penonton berangsur-angsur bubar setelah film selesai diputar. Rasa haus mereka akan bioskop di depan pintu Mekah terbayar. Dalam hati mereka tersimpan harapan akan hadirnya sinema Islam di dunia Islam. —Rappler.com