Menunggu hari-hari kembalinya Cristiano Ronaldo ke Old Trafford
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Tidak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah. Dan rumah bagi Cristiano Ronaldo adalah Manchester United. Di tempat lain, dia hanya diperlakukan sebagai mesin gol dan mesin gelar yang dipaksa memberikan trofi untuk klub.
Di United, dia seolah-olah telah menemukan sebuah keluarga. Untuk menemukan sosok yang telah lama hilang dalam hidupnya, seorang ayah. Hari-hari Ronaldo di United ketika ia pindah dari Sporting Lisbon pada tahun 2003 adalah masa-masa yang penuh pelipur lara.
“Pemain kami sering diundang makan siang dan minum teh di rumahnya. Rasanya seperti benar-benar berada dalam sebuah keluarga. “Dia adalah ayah saya di sepakbola,” kata Ronaldo saat itu dikutip oleh ESPN.
Sejak ayahnya meninggal karena alkoholisme, Ronaldo menemukan kembali sosok ayahnya dalam diri Sir Alex Ferguson. Manajer tersukses di Premier League bisa mengisi kekosongan sosok ayah di salah satu pemain terbaik dunia.
Fergie juga memiliki Ronaldo, nama keluarga keahlian Rou, pesepakbola yang kerap menunjukkan kepiawaiannya mengolah bola, menjadi sosok yang lebih efektif di lapangan.
Di United, Fergie juga memperlakukan Ronaldo secara berbeda. Saat pemain kelahiran Madeira itu terlibat konflik dengan Wayne Rooney saat Portugal dan Inggris bentrok di perempat final Piala Dunia 2006 di Jerman, Fergie seorang diri membujuk “anak kecil” itu untuk bertahan di United.
Sebenarnya konflik antara Rooney dan Ronaldo bukan sembarangan. Sebagai rekan satu tim, Rooney patut kesal karena Ronaldo justru meminta wasit memberinya kartu merah. Akibatnya Inggris harus bermain dengan 10 orang dan kalah adu penalti.
Konflik saat itu cukup serius karena Rooney juga menjadi simbol United. Di puncak karirnya, mantan pemain Everton itu menjadi ikon tidak hanya bagi United tapi juga bagi The Three Lions, negara yang tak hanya memperkuat Rooney tapi juga menjadi tempat Ronaldo mencari nafkah.
Sang “ayah” Fergie mampu meredakan konflik tersebut. Pertengkaran di lapangan tidak meningkat. Usai Piala Dunia 2006, Ronaldo bertahan tiga musim di Old Trafford sebelum akhirnya hengkang ke Real Madrid.
Yang juga patut mendapat pujian atas upaya menghentikan kepergian Ronaldo tentu saja adalah para pendukung United. Pemain yang kini berusia 32 tahun itu sempat dianggap sebagai “musuh negara” karena mendorong wasit agar memberikan kartu merah kepada Rooney. Namun, tidak ada satu pun huuu dan tidak ada peluit. Ronaldo masih dipuji sebagai pahlawan di Old Trafford.
Bandingkan situasi tersebut dengan kondisi di dunia nyata. Hubungan Madridista dan Ronaldo tidak selalu harmonis. Di awal musim Divisi Primera, pemain terbaik dunia empat kali itu kerap menjadi sasaran kritik publik di Santiago Bernabeu. Salah satu penyebabnya tentu saja buruknya performa di lapangan.
Spanyol tidak akan pernah menjadi rumah yang nyaman bagi orang Portugis. Bahkan Ronaldo pun tidak. Pendahulunya, Jose Mourinho, bahkan lebih buruk lagi. Tak hanya menjadi musuh Madridista, ia juga menjadi bulan-bulanan pers hingga akhirnya hijrah ke Inggris.
Meski berada di semenanjung yang sama, Spanyol dan Portugal kerap tak harmonis. Portugal selalu membawa stereotip sebagai negara kecil dan miskin. Yang melakukan perjalanan di Semenanjung Iberia. Yang seringkali hanya menjadi tempat “buang” bagi orang-orang yang tidak diterima di Spanyol.
Secara historis, kebijakan luar negeri Portugal seringkali tidak sejalan dengan kebijakan Spanyol. Portugal dulunya merupakan wilayah Spanyol dengan nama Uni Iberia sebelum akhirnya memperoleh kemerdekaan dari kekuasaan Spanyol pada tahun 1640.
Hubungan buruk kedua negara juga mempengaruhi hubungan emosional kedua warganya hingga saat ini. Dan Ronaldo memang tersinggung ketika dia dituduh menghindari pajak sebesar 14,7 juta euro oleh otoritas Spanyol.
Namun Ronaldo punya cara untuk menjaga kebersihannya: klub harus membayar pajak jika ingin dia bertahan.
Tindakan Ronaldo jelas menghina klub sebesar Real. Kalangan elit klub bingung antara memenuhi keinginan sang striker untuk mencetak dua gol di final Liga Champions 2016-2017 atau membiarkannya pergi.
Pencarian untuk warisan
Meski demikian, biaya kepergian Ronaldo dari Santiago Bernabeu tidak akan murah. Setidaknya Real meminta €150 juta. United dikabarkan siap menebusnya dengan mendatangkan David De Gea, kiper yang sudah sangat dekat bergabung dengan Madrid sejak dua musim lalu.
Klub seperti Paris Saint-Germain dan Chelsea juga siap menebusnya.
Dimana dia akan berlabuh?
Di usianya yang ke-32, seorang pesepakbola sebenarnya sudah memasuki masa tuanya. Lambat menit bermain dia akan dikecilkan, digantikan oleh talenta baru yang lebih muda.
Ronaldo mungkin juga memikirkan bagaimana dia ingin dikenang di masa depan. Di Real Madrid, ia akan tetap menjadi pilihan utama selama mampu meraih trofi. Masalahnya, hal itu tidak akan bertahan lama.
Dalam dua atau tiga musim, ketika ia tak lagi berlari secepat sekarang, tak ada lagi karpet merah untuknya di Santiago Bernabeu.
Di United dia akan selalu diterima. Seburuk apapun kondisinya, klub selalu bisa mencarikan posisi baru untuknya. Wayne Rooney bisa menjadi contoh ideal. Pemain yang kehilangan kemampuannya mencetak gol masih dipertahankan untuk mengisi posisi di lini tengah.
Bersama klub berjuluk Setan Merah itu, Ronaldo bisa saja hengkang warisan di tempat yang benar-benar layak menerimanya. Tempat yang sering ia sebut sebagai keluarga.
Terlebih, United saat ini sedang berusaha membangun kembali klub pemburu gelar tersebut. Dan Ronaldo bisa menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kekuatan yang telah lama hilang.
Dengan cara ini, mungkin Ronaldo akan dikenang. Jika dia benar-benar pindah ke Old Trafford.—Rappler.com