• April 17, 2026
Naik turunnya buruh migran mengirimkan uang ke kampung halaman

Naik turunnya buruh migran mengirimkan uang ke kampung halaman

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Bagaimana sistem pengiriman uang melalui Western Union?

Pernahkah Anda menonton film? Minggu pagi di Victoria Park? Film yang disutradarai oleh Lola Amaria ini bercerita tentang kehidupan para pekerja migran Indonesia di Hong Kong.

Dulu, saya sering memandang kehidupan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) hanya sekedar bekerja dan bekerja. Tapi setelah menonton filmnya, saya tahu mereka juga punya waktu mengunjungi dengan sesama pekerja migran, berbelanja, dan tentunya berbagai intrik selama tinggal di luar negeri.

Salah satu kekhawatiran pemerintah Indonesia saat ini adalah kurang mahirnya pekerja migran dalam mengelola keuangannya. Sehingga pada akhirnya banyak dari mereka yang harus tetap bekerja di luar negeri tanpa perencanaan yang matang.

Bahkan, idealnya mereka dikatakan hanya perlu bekerja beberapa tahun sebelum kembali ke negara asalnya dan mempunyai modal untuk membuka usaha di daerah asalnya. Hal ini pasti akan terjadi jika mereka memiliki pengetahuan tentang keuangan.

Ya, ini memang kondisi ideal. Tapi apa kenyataannya?

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan sejumlah keluarga TKI di sebuah acara Serikat Barat. Acara ini merupakan tindak lanjut dari kampanye mereka pada Ramadhan lalu yaitu “30 Hari untuk Kebaikan”.

Nah, dalam kampanye ini mereka menarik keluar pengguna layanan Western Union untuk mendapatkan dana pendidikan. Lalu apa hubungan Western Union dan TKI?

Ini sangat menarik.

Bagi kita yang tinggal di kota besar, kita merasakan bahwa transaksi keuangan sangatlah mudah. Menerima atau mengirim uang ke luar negeri (baik untuk keluarga atau sekedar belanja). on line) semudah belanja di Indomaret. Bagaimana dengan pekerja migran dan keluarganya, yang sebagian besar tinggal di desa terpencil, dimana jumlah bank tidak sebanyak di kota besar, apalagi ATM?

Ternyata pekerja migran merupakan konsumen terbesar Western Union. Kemudahan dalam mengirim dan menerima uang membuat pengiriman uang dari TKI ke luar negeri menjadi lebih mudah bagi keluarganya.

Mengapa?

Sejujurnya, pada awalnya saya pribadi kurang begitu memahami cara kerja sistem pengiriman uang melalui Western Union. Namun kemarin saya benar-benar memahami cara kerja sistem pengiriman uang melalui Western Union. Gampang, mirip dengan sistem wesel yang sempat ngetren di era pra 90an.

Lantas, apakah masih ada masyarakat yang membutuhkan sistem pengiriman uang melalui sistem serupa wesel?

Bagi kita yang berada di kota besar mungkin tidak terlalu membutuhkannya. Namun coba bayangkan saudara-saudara kita, pahlawan devisa yang bekerja di luar negeri ketika ingin mengirimkan uang kepada keluarganya di desa-desa terpencil yang minim akses terhadap layanan perbankan. Dengan sistem yang lebih canggih, keluarga pekerja migran bisa menerima kiriman uang dari luar negeri dalam hitungan jam!

Kembali lagi ke persoalan buruh migran. Berdasarkan hasil survei Western Union terhadap penggunanya, terlihat bahwa TKI paling banyak mengirimkan uang kepada keluarganya untuk pendidikan anak-anaknya.

Namun sayang, ketika saya bertanya kepada sejumlah keluarga pekerja migran yang datang untuk mengambil bingkisan dana pendidikan dari Western Union mengenai jadwal pengiriman uang dari keluarga yang bekerja di luar negeri, jawabannya adalah, “Belum tentu mbak.” Tergantung kapan majikan yang membayar mereka,” adalah rata-rata jawaban mereka.

“Kadang bisa tiga bulan sekali, tapi kadang sampai 5 bulan baru bisa dibayar. Jadi kakakku hanya bisa mengirimkan uangnya.”

Duh, kalau iya aku harus mengadu ke siapa ya? Bahkan kita yang bekerja dekat dengan keluarga pun akan geram jika gaji kita terlambat 1-2 hari. Bagaimana dengan mereka? —Rappler.com

Togel HK