• April 18, 2026
Pelaku penyerangan polisi di Tangerang diambil sumpahnya sekaligus di Nusa Kambangan

Pelaku penyerangan polisi di Tangerang diambil sumpahnya sekaligus di Nusa Kambangan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Polisi menemukan ranjau paku, peluru tajam, kalium belerang, dan bubuk aluminium di rumah SA.

JAKARTA, Indonesia – Kecurigaan pelaku penyerangan polisi di Tangerang terkait dengan jaringan teroris ternyata tidak salah. Hasil pemeriksaan polisi menemukan SA, pelaku penyerangan, merupakan anggota Jamaah Ansorat Daulet (JAD).

SA bergabung dengan jaringan sel Aman Abdurrahman, kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Boy Rafli Amar di Gedung Humas Polri, Jakarta, Jumat, 21 Oktober 2016.

Aman merupakan kepanjangan tangan pendiri ISIS: Abu Bakr Al Baghdadi. Selain mendirikan JAD, Aman Abdurrahman juga mendirikan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Dari JAT inilah lahirlah pejuang-pejuang teror, salah satunya Bahrun Naim yang kini berada di Suriah.

Aman juga diduga menyuplai senjata kepada kelompok radikal Mujahidin Indonesia Barat (MIB) pimpinan Abu Roba pada seri 2011-2012. Aman Abdurrahman juga terdeteksi menyuplai senjata ke Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso, kata Boy.

Perkenalan SA dengan Aman, lanjut Boy Rafli, melalui pimpinan Pondok Pesantren Tahfid Al Anshorullah Al Anshorullah, Ciamis, Fauzan Al Anshori. Keduanya bertemu cukup intens pada Juni-Oktober 2015. Fauzan bahkan mengajak SA bertemu Aman pada Juni 2015 di Lapas Pasir Putih Nusa Kambangan.

Kedatangan SA ke Nusa Kambangan, lanjut Boy Rafli, untuk mendapatkan baiat langsung dari Aman sebagai syarat menjadi anggota ISIS. “Jadi kami diikutsertakan dalam kegiatan tersebut,” kata Boy.

Fauzan kemudian meninggal dunia pada akhir tahun 2015. Setelahnya, tak ada yang mengetahui kiprah SA di dunia terorisme hingga akhirnya muncul di Polsek Yupentek, Jalan Perintis Kemerdekaan, Tangerang pada Kamis pagi, 20 Oktober 2016.

SA langsung menyerang petugas polisi tersebut sebelum akhirnya roboh terkena peluru. Akibat aksi brutal tersebut, Kapolres Tangerang Kota Kompol Efendi dan dua anak buahnya yakni Iptu Bambang Haryadi dan Bripka Sukardi menjadi korban luka tusuk.

Beberapa saat setelah kejadian, polisi langsung menggerebek rumah SA di kediaman polisi, Kota Tangerang. Dari sana, polisi menemukan seorang samurai, dua pisau, ranjau paku, peluru tajam, kalium belerang, dan bubuk aluminium.

Selain itu, polisi juga menemukan pipa sepanjang 50 cm, potongan pipa bom dengan panjang berbeda-beda, baterai untuk meledakkan bahan peledak, alat komunikasi, dan buku berjudul Bencana Akhir Zaman.

Saat ini, kata Boy Rafli, SA dimakamkan di Taman Makam Tigaraksa, Tangerang. Ia meninggal karena kehabisan darah setelah tiga peluru bersarang di tubuhnya. Keinginan pihak keluarga untuk dimakamkan bersama dibantu unsur pengamanan Polres Tangerang, kata Boy.—Rappler.com

link alternatif sbobet