• April 20, 2026
Pemerintah mulai merehabilitasi korban vaksin palsu

Pemerintah mulai merehabilitasi korban vaksin palsu

JAKARTA, Indonesia – Pada Senin, 18 Juli, pemerintah mulai melakukan pelatihan ulang terhadap anak-anak yang diduga menjadi korban vaksin palsu di tengah tekanan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Rumah Sakit Indonesia (ARSI), dan Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI). menangkap aktor intelektual di balik kasus tersebut.

“Kami meminta Kementerian Kesehatan dan Kejahatan untuk menangkap aktor intelektual tersebut. Tenaga medis dalam undang-undang tidak mengatakan bahwa dokter tidak wajib bertanggung jawab terhadap pasiennya. Tidak ada yang perlu dihubungkan. Tapi selain itu, dokter juga harus membantu pasiennya, kata Ketua Pengurus Besar IDI Ilham Oetama Marsis, saat konferensi pers bersama PB-IDI di Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin 18 Juli.

Ilham menilai Bareskrim harus menemukan pelaku di balik peredaran vaksin palsu. Jangan menangkap tenaga medis, seperti dokter dan bidan. Menurutnya, hal tersebut merusak citra profesi dokter Indonesia.

Menurut Ilham, bukan hanya dokter atau tenaga medis yang patut disalahkan atas beredarnya vaksin palsu ini. Menurut dia, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga harus bertanggung jawab karena tidak melakukan pengawasan ketat.

“Ibarat Kementerian Kesehatan yang menjatuhkan bola, dengan menyudutkan profesi dokter. Padahal pemerintah punya peran penting untuk mencegah kasus seperti ini terjadi,” kata Ilham.

Sementara itu, Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminta masyarakat bersabar dan menunggu hasil pemeriksaan Polri dan Kementerian Kesehatan.

“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat untuk tetap tenang karena kejadian ini akan berlangsung lama. “Kita harus hati-hati (dalam) deteksinya, supaya kita bisa menangani pihak-pihak yang dirugikan,” kata Jokowi saat mengunjungi salah satu puskesmas tempat vaksinasi ulang di Ciracas, Jakarta Timur, Senin, 18 Juli.

“Saya datang ke sini (karena) ingin memastikan masyarakat mendapat informasi yang benar, mendapat penjelasan yang baik dari Puskesmas, dan dari Kementerian serta Dinas Kesehatan di DKI,” kata Jokowi.

Setidaknya ada 167 orang di Ciracas yang terdaftar untuk vaksinasi ulang, namun hari ini hanya 36 orang yang datang ke Puskesmas. Menurut Jokowi, sebagian besar korban vaksin palsu di Ciracas merupakan pasien bidan yang sudah berstatus tersangka.

Bareskrim Polri menetapkan 23 tersangka, termasuk tiga dokter dan dua bidan. Kamis lalu, Kementerian Kesehatan mengumumkan nama 14 rumah sakit dan 8 bidan yang terlibat dalam peredaran dan penggunaan vaksin palsu.

Menurut Jokowi, kasus vaksin palsu ini merupakan momen yang tepat untuk memperbaiki manajemen industri dan distribusi obat-obatan, termasuk vaksin.

Jokowi tidak menyampaikan perbaikan apa saja yang akan dilakukan pada proses distribusi obat di Indonesia.

Jangan mengambil keputusan sendiri

Sementara itu, kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian Kasus penganiayaan dan kekerasan yang dilakukan orang tua terhadap dokter dan fasilitas kesehatan terkait vaksin palsu belakangan ini sudah melintasi batas negara.

Dia meminta masyarakat tidak main hakim sendiri karena Indonesia adalah sebuah aturan hukum.

“Kalau mau mengadu ke pihak manajemen, silakan. Namun jangan menggunakan cara-cara kekerasan yang inkonstitusional. “Kalau pakai kekerasan, kami akan tegaskan hukumnya,” kata Tito, Senin, 18 Juli di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Sementara itu, Tito berharap masyarakat yang menjadi korban vaksin palsu bisa melapor ke polisi dengan membawa bukti-bukti yang ada. Sebab tidak semua dokter dan fasilitas kesehatan menggunakan vaksin palsu.

“Gunakan jalur hukum, misalnya menggugat. Dia (dokter) belum tentu mengetahui apakah barang tersebut palsu atau tidak. Asal disediakan rumah sakit ya,” ujarnya.

Seperti diketahui, sejumlah orang tua korban vaksin palsu bertindak anarkis terhadap dokter dan berbagai fasilitas kesehatan. Sejauh ini, aksi anarkis terjadi di RS Harapan Bunda, Jakarta Timur pada 15 Juli, RS Mutiara Bunda Ciledug pada 16 Juli, dan di RS Santa Elisabeth Bekasi pada 16 Juli. ‎ Rappler.com

BACA JUGA:

Keluaran Hongkong