Pengalaman orang tua saat memvaksinasi anak di rumah sakit: Kami masih khawatir
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Puluhan orang tua memenuhi ruang pengaduan Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB) pada Jumat, 15 Juli lalu, untuk mengetahui apakah anaknya mendapat vaksin palsu.
Sebab nama rumah sakit di Jakarta Timur dicantumkan daftar 14 fasilitas dan layanan kesehatan yang menggunakan vaksin palsu, dirilis sehari sebelumnya, Kamis 14 Juli, oleh Menteri Kesehatan dan Bareskrim Polri.
Orang tua tersebut dilayani oleh tiga petugas RS Harapan Bunda sehingga menyebabkan beberapa orang tua berteriak dan marah karena menunggu lama untuk menerima layanan.
Pihak rumah sakit tidak bisa langsung memastikan apakah vaksin yang diberikan kepada setiap pasiennya asli atau palsu karena harus mengecek data rekam medis terlebih dahulu.
Namun orang tua yang berkunjung ke RSHB diminta menuliskan nama anaknya, nama dokter anak, nomor telepon, dan nomor kartu rumah sakit pada selembar kertas putih.
Respon RS Harapan Bunda
Kepala Humas RSHB Mira Restyawati mengaku pihaknya kaget dengan kasus vaksin palsu tersebut. Menurut Mira, vaksin palsu itulah yang disebut Pediacelyang mungkin beredar di RSHB pada bulan Maret hingga Juni 2016.
Ya memastikan pasien yang membayar vaksin di kasir resmi rawat jalan menerima vaksin dari distributor resmi.
Selain datang langsung ke rumah sakit, orang tua dapat menyampaikan data anak yang sudah mendapat vaksin ke RSHB melalui (021) 8400-259 ekstensi 330. Jalur pengaduan dibuka hingga pukul sembilan malam.
Rumah sakit dan orang tua berada dalam kekacauan. Pasalnya, saat para orang tua hendak menemui petugas rumah sakit di lantai empat gedung RSHB, karena tak sabar menunggu pernyataan manajemen rumah sakit, mereka dihadang petugas keamanan di tangga darurat.
Pada akhirnya, lima hingga enam perwakilan orang tua pasien bisa bertemu dengan pejabat rumah sakit.
Sementara itu, pihak rumah sakit juga mengeluarkan pernyataan pada Kamis malam tentang kesiapannya bertanggung jawab atas pembayaran vaksinasi ulang jika terbukti pasien menerima vaksinasi palsu.
Surat tersebut dibubuhi stempel dan stempel pihak rumah sakit, serta ditandatangani oleh Direktur RSHB, Dr. Finna, pihak rumah sakit menyatakan akan menanggung biaya vaksinasi ulang jika terbukti pasien menerima vaksinasi palsu di RSHB.
Rumah sakit juga janji “akan bertanggung jawab atas dampak vaksin palsu terhadap pasien di masa depan.”
Kwitansi resmi dan tidak resmi
Intan Nugraha (26 tahun) mengaku menerimanya tanda terima tidak resmi dari seorang perawat di RSHB saat anaknya divaksinasi pada bulan April.
“Saya disuntik dulu, lalu diberitahu dokter kehabisan vaksin dan ini (vaksin) pribadi,” kata Intan di RSHB.
Intan menambahkan, biasanya semua pembayaran dilakukan ke kasir rumah sakit, namun saat itu uangnya langsung dibayarkan ke perawat.
Saat itu, Intan tidak bisa mendampingi anaknya sehingga sang anak dibawa untuk divaksin oleh neneknya.
Intan membayar Rp1.750.000, namun nominal di kwitansi yang ditulis tangan dan dicap dokter adalah Rp750.000.
“Kata perawat, sisa jutanya akan dibayarkan ke kasir,” kata Intan seraya menambahkan, biasanya ia mendapat kwitansi asli berlogo resmi rumah sakit sebagai bukti pembayaran vaksin.
“Awalnya saya tidak mendapat kwitansi, tapi saya tetap bertahan lewat telepon minta kuitansinya,” kata Intan yang kini membawa beberapa kuitansi pembayaran vaksin, baik resmi maupun tidak resmi, ke RSHB untuk dimintai penjelasan.
‘Sebagai orang tua kami tetap prihatin’
Hanna Marsinta (26 tahun), putri yang kini berusia 1,5 tahun, melakukan vaksinasi anaknya di RSHB pada awal tahun 2015.
Ia tidak sepenuhnya percaya dengan pernyataan pihak rumah sakit yang menyebutkan ada kemungkinan vaksin palsu masuk ke RSHB pada Maret hingga Juni 2016 dan khawatir anaknya mendapat vaksin palsu.
Hanna mendatangi rumah sakit pada Jumat pagi untuk meminta data rekam medis anaknya, namun ia mengaku belum mengetahui kapan pihak rumah sakit akan memberikan data tersebut.
“Informasinya masih membingungkan,” kata Hanna media.
Sementara itu, Eva Masrieva yang memvaksinasi anak-anaknya di Indonesia pada saat vaksin palsu beredar dan diperdagangkan, meminta pemerintah bertanggung jawab.
Eva sekarang tinggal di Amerika Serikat, dan dia berbagi kekhawatiran, kegelisahan dan tuntutan hukumnya di akun Facebook-nya.
Seorang ibu lainnya yang enggan disebutkan namanya, menilai pernyataan Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman B. Pulungan, yang menyebutkan kandungan vaksin yang selama ini diketahui adalah salah. tidak memiliki efek samping untuk anak-anak. Namun, anak-anak yang menerima vaksin palsu tidak mendapatkan kekebalan yang seharusnya.
“Sejauh ini saya percaya pada Dr Aman. Mudah-mudahan tidak berbahaya. Kalau masalahnya mudah tertular, itu masalah imunitas. Anak tidak pernah kepanasan setelah divaksin karena minta yang tidak (membuat) panas. Um, aku tidak tahu berita itu palsu, kan?” kata ibu berusia 31 tahun itu.
Kedua anaknya mendapat lima imunisasi dasar pada tahun pertama di RSHB. Anak pertamanya, kini berusia 4 tahun, telah menerima vaksinasi pada tahun 2012-2013. Anak keduanya, kini berusia 1,5 tahun, telah divaksinasi pada tahun 2015.
Imunisasi dasar lengkap meliputi vaksin hepatitis B, polio, BCG, DPT dan campak; dan setiap vaksin berharga 400 hingga 700 ribu rupiah.
Cerita lainnya adalah Wusi (31 tahun) yang telah melakukan vaksinasi terhadap anaknya sejak Januari 2016 di RS Sayang Bunda, Bekasi.
Putranya yang kini berusia sembilan bulan telah beberapa kali menerima vaksinasi di RSSB, dan pada 29 Mei 2016, ia menerima vaksin palsu.
“Kami terkena dampaknya Mei karena Pediacel,” kata Wusi saat dihubungi Rappler melalui telepon.
Wusi menyatakan, pihak rumah sakit membenarkan vaksin Pediacel itu palsu. Berdasarkan bukti pembayaran, vaksin palsu tersebut dibanderol Rp870.000 dan Wusi membayar total Rp1.010.000 untuk pendaftaran, konsultasi dokter, layanan imunisasi dokter, dan vaksin Pediacel.
“Saya tidak membayar kwitansi resmi dari kasir oleh dokter atau perawat seperti (beberapa kasus) di rumah sakit lain,” kata Wusi.
Ibu satu anak ini mengatakan, meski mendapat vaksin palsu, hingga saat ini anaknya belum menunjukkan gejala apa pun.
“Sama seperti orang tua, kami tetap khawatir, padahal menurut dokter anak tidak berbahaya, karena kami tidak tahu cairan apa itu. Konon bayi diberi cairan yang belum jelas keindahannya, kita khawatir asal usulnya. Oleh karena itu kami tetap menuntut pihak rumah sakit, pihak rumah sakit atau siapa pun yang mau bertanggung jawab, memberikan keterangan tertulis dan bukti bahwa vaksin palsu itu juga aman dalam jangka panjang, kata Wusi.
Ia menegaskan, sebagai orang tua memerlukan bukti dan pernyataan tertulis, bukan sekedar pernyataan tertulis bahwa vaksin palsu tidak berbahaya bagi anaknya. —Rappler.com
BACA JUGA: