• April 20, 2026
Pengertian ‘Bus Malam’ sebagai adaptasi fiksi konflik Aceh

Pengertian ‘Bus Malam’ sebagai adaptasi fiksi konflik Aceh

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Teuku Rifnu Wikana, produser sekaligus pemeran film ini, mengatakan kisah mengharukan dalam perjalanan bus adalah kisah nyatanya.

BANDA ACEH, Indonesia —Film Malam Bis Sudah dirilis pada bulan April 2017. Pemenang nominasi Film Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2017 Film ini disutradarai oleh Emil Heradi dan diproduseri oleh Teuku Rifnu Wikana dan Darius Sinathrya.

(BACA JUGA: ‘Bus Malam’: Perjalanan Menegangkan ke Sampar)

Pada Sabtu malam, 9 Desember 2017, film ini menjadi salah satu dari sejumlah film yang ditayangkan Festival Film Aceh (AFF) 2017 di Gedung Taman Budaya Banda Aceh. Sutradara dan dua produser juga hadir malam itu.

Teuku Rifnu Wikana, produser sekaligus pemeran film ini, menceritakan kisah perjalanan yang mengharukan bis Ini adalah kisah nyatanya. Pria asal Susoh, Aceh Barat Daya, Aceh ini mengaku mengalami hal tersebut pada tahun 2001 saat konflik terjadi di Aceh. Ia meninggalkan Medan, Sumatera Utara, menuju Aceh.

Rifnu menjelaskan, saat itu dirinya masih kuliah di Institut Teknologi Medan (ITM) dan ingin kembali ke rumah keluarganya yang tinggal di Merduati, Banda Aceh.

“Saya tidak menyangka hal ini terjadi, di tengah perjalanan bis “Orang yang saya tumpangi berhenti karena ada tembakan,” kata Rifnu Wikana, Sabtu malam saat berbicara dengan Rappler. “Aku dengar suaranya, tet, tet, tet,!”

Kemudian, dari pengalamannya, Rifnu menulis cerpen berjudul Senang. Kemudian cerita pendek tersebut dituangkan dalam bentuk film. Ketika diadaptasi menjadi fiksi, nama kota dan lain-lain pun ikut berubah menjadi nama fiksi.

Agar bisa diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahwa konflik tidak pernah memilih siapa korbannya, ujarnya. “Siapapun bisa terjerumus ke dalam konflik.”

Terinspirasi dari konflik Aceh

Film Malam Bis, kata Rifnu Wikana, melalui proses yang sangat panjang. Kisah menegangkan yang dialaminya dituangkan dalam cerita pendek, kemudian diadaptasi menjadi naskah film.

“Inspirasi awal memang datang dari Aceh. “Kami sangat berterima kasih kepada Aceh atas inspirasi yang muncul,” kata pria yang kini tinggal di Jakarta ini.

Konflik Aceh yang berlangsung selama 29 tahun (1976-2005) menewaskan lebih dari 15.000 orang. Konflik bersenjata ini muncul ketika Teungku Hasan Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di pedalaman Kabupaten Pidie pada tanggal 4 Desember 1976. Tuntutan utamanya adalah Aceh ingin merdeka dari Indonesia.

Perang berdarah yang menewaskan ribuan orang ini berakhir pada 15 Agustus 2005 di meja perundingan di kota Helsinki, Finlandia. Saat itu, Aceh baru saja dilanda tsunami pada akhir tahun 2004. Perjanjian damai pun dipercepat. agar bantuan kemanusiaan dapat dengan mudah disalurkan ke Aceh.

Dari perundingan damai tersebut lahirlah kesepakatan yang disebut MoU Helsinki yang ditandatangani oleh pihak-pihak yang berkonflik: GAM dan Republik Indonesia. Oleh karena itu, Aceh kini mempunyai sejumlah kewenangan tersendiri untuk mengatur pemerintahannya.

Muhammad (30), warga Aceh mengaku Malam Bis seperti memutar ulang ingatan akan luka itu. Plot yang muncul dalam film berdurasi 135 menit itu hampir sama persis dengan apa yang dialaminya.

“Saat konflik terjadi, saya beberapa kali dipukul oleh aparat saat penggerebekan. “Di satu sisi, saya juga sering mendapat ancaman dari GAM,” ujarnya.

Mohammed sekarang benar-benar melupakan tragedi luka itu. Namun trauma yang dialaminya tidak mudah dihilangkan. “Lebih banyak film seperti ini harus dibuat. “Ini akan menekankan bahwa konflik bukanlah cara untuk mengatasi suatu masalah,” ujarnya. —Rappler.com

game slot gacor