Perlukah pendidikan seksualitas dimasukkan dalam kurikulum sekolah?
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Pendidikan seksualitas dapat membantu anak untuk menyadari hak-hak seksual dirinya dan orang lain
JAKARTA, Indonesia – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Proklamasi Anak Indonesia dan Komite Aksi Perempuan mendorong agar pendidikan seksualitas dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional. Terutama setelah meningkatnya laporan pemerkosaan terhadap anak-anak dan perempuan akhir-akhir ini.
Kemendikbud harus mengevaluasi dan mereformasi kurikulum, kata Berkah Gamulya dari Sindikat Musik Penghuni Bumi (SIMPONI) di Jakarta, Senin, 9 Mei 2016. Sistem pendidikan harus memperkuat pengetahuan, kesadaran dan kesiapan terhadap tindakan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.
Bahan ajar
Pendidikan seksualitas komprehensif mencakup pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, kesehatan seksual, gender dan kesetaraan gender. Selain itu, ada juga konten tentang hubungan pribadi dengan orang-orang di sekitar Anda. Termasuk teman dan guru.
“Anak-anak bisa lebih mengenal dirinya sendiri. “Selain itu juga harus menjaga diri sendiri, dan tidak sembarangan terhadap orang lain,” kata Berkah.
Mereka juga mengutip hasil penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia bersama Rutgers WPF Indonesia pada tahun 2011 hingga 2013. Dikatakan bahwa anak yang mendapat pendidikan seksualitas akan mampu mencegah kekerasan. Kesadaran mereka terhadap hak-hak seksual juga lebih tinggi.
Menurutnya, pendidikan seksualitas sama pentingnya dengan matematika dan bahasa Indonesia. “Apa gunanya jadi juara kalau akhirnya mati karena kekerasan. Atau lebih buruk lagi, malah menjadi pelakunya,” kata Berkah. Anak-anak masih memerlukan pendidikan yang paling penting: kemanusiaan dan keadilan.
Metode penyesuaian
Koalisi tersebut menyerahkan modul pendidikan kepada Anies untuk berbagai jenjang mulai dari Taman Kanak-Kanak (K) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Semuanya mempunyai metode dan materi pengajaran yang berbeda-beda.
“Seperti untuk anak TK, kami menggunakan boneka. Bagi pria dewasa terdapat kumis, bulu ketiak, yang memberikan pengetahuan dasar. “Ada juga boneka bayi yang bisa ditarik dari vagina boneka perempuan dewasa,” ujarnya. Semakin tinggi pendidikan maka materi akan semakin bertambah.
Sayangnya, Anies belum memutuskan di tingkat mana Kemendikbud berencana memasukkan pelajaran seksualitas. “Saya belum tahu,” katanya.
Rekomendasi
Koalisi LSM ini merekomendasikan Anies untuk segera menerapkan beberapa hal seperti:
1. Menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang penyelenggaraan pendidikan seksualitas komprehensif di seluruh sekolah di Indonesia. Hal ini mencakup mekanisme kerja dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program, serta mekanisme keterlibatan masyarakat sipil.
2. Memastikan konten pendidikan seksualitas yang komprehensif memiliki pedagogi yang efektif dengan melakukan kurasi konten pembelajaran.
3. Memastikan ketersediaan anggaran penyelenggaraan pendidikan seksualitas komprehensif dalam APBN, termasuk anggaran monitoring dan evaluasi.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyambut positif usulan SIMPONI. Namun, dia menegaskan tidak akan membuat aturan khusus untuk konseling seks.
Namun kurikulumnya akan kami revisi agar ada ruang pendidikan kesehatan reproduksi seksual yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak, ujarnya. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan di dalam atau di luar kelas.
Hal ini juga mempertimbangkan jalur non-kurikulum, seperti kegiatan di luar kelas. Bagi Anies, yang penting bukan hanya ilmu. Ada juga kebutuhan untuk menanamkan perilaku yang akan membentuk budaya sekolah.
Selain itu, Anies juga berencana melibatkan orang tua siswa. Melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Kementerian akan menerbitkan panduan orang tua dan website Sahabat Keluarga yang isinya dapat membantu keluarga dalam memberikan pemahaman kepada anak.-Rappler.com
BACA JUGA: