‘Possessive’ bukan sekadar film remaja
keren989
- 0
Jakarta, Indonesia – Posesif Baru akan dirilis pada 26 Oktober, namun film ini sudah meraih 10 nominasi Festival Film Indonesia (FFI) Tahun 2017. Fakta tersebut tentunya membuat para pecinta film tanah air bertanya-tanya karena jika dilihat sekilas film ini terlihat seperti film remaja pada umumnya.
Namun ternyata lebih dari itu, film ini membahas tentang sisi gelap hubungan remaja yang sebenarnya banyak terjadi, namun seringkali tidak dibicarakan. Maka tak heran jika film ini menjadi film remaja Indonesia pertama.genre romantis-suspense.
Jika biasanya premis film percintaan remaja adalah betapa sulitnya sepasang anak perempuan dan laki-laki bersatu meski dengan segala permasalahan yang ada, film ini justru menceritakan kisah Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken) yang bertemu, langsung jatuh cinta, dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bersatu. Merasa nyaman dan mengungkapkan perasaannya.
Lala merupakan seorang atlet selam yang sangat sibuk dengan aktivitasnya sebagai atlet. Di sekolah ia tidak banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya, namun Lala berteman dengan Ega (Gritte Agatha) dan Gino (Chicco Kurniawan).
Tak disangka, saat Lala kembali ke sekolah setelah menyelesaikan lomba, ia bertemu dengan Yudhis, anak baru di sekolah yang terkenal tampan. Tanpa alur cerita yang rumit, mereka akhirnya tertarik satu sama lain ditemukan.
Sisi gelap dari hubungan remaja
Setelah berpacaran, Yudhis ternyata terlalu posesif. Ia selalu ingin bersama Lala, meski sebenarnya Lala sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Lalu Yudhis berhasil “menarik” Lala dari rutinitasnya dan menjadikan hubungan mereka sebagai prioritas Lala.
Tak hanya itu, Yudhis juga banyak memaksakan kehendaknya pada Lala. Mulai dari melarang Lala bermain bersama teman-temannya, tidak suka Lala ditemani orang lain, hingga memaksakan kontak fisik yang membuat Lala tidak nyaman.
Berkali-kali Lala ingin putus dengan Yudhis, namun dengan berbagai cara Yudhis berhasil meluluhkan hati Lala berkali-kali.
Siklus kekerasan
Di babak pertama, Yudhis terkesan sebagai sosok psikopat yang kejam terhadap Lala. Itu benar. Namun sepertinya ada alasan di balik alam obsesif apa yang dia miliki
Bu Yudhis (Cut Mini) adalah orang tua tunggal yang ditinggal suaminya ketika Yudhis masih kecil. Kesedihan ini kemudian membekas dan ia melampiaskannya pada Yudhis. Ia ingin Yudhis mengikuti semua keinginannya, bahkan ia tak segan-segan melakukan kekerasan fisik terhadap anak semata wayangnya.
Dihadapan ibunya, Yudhis sangat minder, tidak berani membantah dan tidak berdaya. Di sisi lain, ibunya tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun dan akan berusaha sekuat tenaga agar Yudhis menuruti perintahnya, seperti halnya Yudhis yang selalu memaksakan keinginannya pada Lala apapun yang terjadi.
Di sisi lain, ayah Lala (Yayu Unru) adalah seorang pelatih selam yang terobsesi untuk memastikan anaknya bisa menyamai prestasi mendiang ibunya. Saat mengetahui Lala sebenarnya tidak suka menyelam, ia pun frustasi. Namun berbeda dengan ibu Yudhi, ia tetap menunjukkan rasa sayang pada Lala dan selalu menerima anaknya dalam keadaan apapun.
Pelajaran yang menghibur
Film ini berhasil membuka mata penonton bahwa masa remaja merupakan usia yang sangat rentan dan tidak mudah diprediksi. Sebagian orang dewasa mungkin menganggap cinta Lala dan Yudhis berlebihan, namun jika dilihat dari kacamata remaja, hubungan romantis tersebut terasa sangat serius dan permasalahan disekitarnya sangat serius.
Film ini juga menunjukkan bahwa peran orang tua sangat besar dalam tumbuh kembang anak, terutama pada masa remaja, ketika emosi dan pikiran anak berada pada masa rentan. Posesif juga mengingatkan pentingnya peran orang tua untuk mau mendengarkan anaknya. Meskipun masalah tersebut tampak sepele, namun bagi mereka bisa menjadi masalah yang sangat besar.
Apakah mendapatkan 10 nominasi FFI sepadan?

Pertanyaan selanjutnya dari film ini adalah, apa Posesif dapatkan 10 nominasi FFI 2017 bahkan sebelum filmnya resmi dirilis? Jawabannya, setidaknya menurut saya, sangat tepat.
Posesif Meraih 10 nominasi kategori bergengsi: Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Edwin), Pemeran Utama Pria Terbaik (Adipati Dolken), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Putri Marino), Pemeran Pendukung Terbaik (Yayu Unru), Aktris Pendukung Terbaik (Mini Cut), Original Terbaik penulis skenario, sutradara sinematografi terbaik, editor gambar terbaik, dan penata rias terbaik.
Meskipun Posesif merupakan karya perdana Palari Films, namun kualitas sineas di baliknya tidak bisa dipungkiri. Film ini diproduseri oleh Muhammad Zaidy (Athirah) dan Meiske Taurisia (Kartu pos dari kebun binatang dengan Edwin, 2012). Naskahnya ditulis oleh Gina S. Noer yang terkenal dengan naskah film dramanya Film laris menyukai Frase cinta, Wanita mengenakan kalung sorbanDan Habibie Ainun. Sementara itu, sang sutradara, Edwin, tampil di beberapa festival film internasional dengan karya-karyanya seperti Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008), Kartu pos dari kebun binatang (2012), dan Percakapan yang sangat membosankan (2006).
Dengan sineas yang sudah terbukti kualitasnya, serta aktor pendukungnya, film ini terasa begitu lengkap.
Emosi penonton berhasil dibuat naik turun seolah menyatu dengan Yudhis, Lala, dan karakter lainnya. Adipati Dolken dan Cut Mini berhasil menghadirkan suasana mencekam di bioskop, hingga penonton terkadang lupa bahwa sebenarnya mereka sedang menonton film roman remaja. Tapi tentu saja kimia Duke dan Putri Marino yang berpenampilan asli juga berhasil memberikan drama romantis yang cukup untuk membuat film ini bisa dinikmati.
Kolaborasi produser, sutradara, dan penulis skenario dalam film ini memang patut mendapat tepuk tangan. Kemampuan Gina dan Edwin yang mampu memaksa para aktornya keluar dari zona nyaman dan mengeluarkan segala kemampuan aktingnya menjadi alasannya Posesif meraih nominasi, bahkan menjadi juara di FFI 2017.
Dan tentunya film ini layak menjadi salah satu film Indonesia yang patut ditonton oleh para remaja dan mantan remaja, serta para orang tua dan calon orang tua. —Rappler.com