Real Madrid vs Barcelona: El Clasico Setengah Hati
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Kekalahan Bayern Munich dari Real Madrid di babak perempat final Liga Champions beberapa hari lalu tak membuat khawatir mantan pemain yang kini menjadi duta klub, Bixente Lizarazu. Menurutnya, kekalahan tersebut merupakan hal yang wajar.
“Klub-klub besar selalu membutuhkan waktu untuk melakukan transisi,” kata Lizarazu dikutip oleh New York Times.
Ya, Bayern memang perlu menyesuaikan diri dengan juru taktik barunya musim ini. Carlo Ancelotti yang dilepas Real Madrid ditunjuk menjadi pelatih tim Bavaria. Pelatih Pelatih asal Italia itu jelas membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan timnya.
Namun, menganggap bahwa proses “transisi” hanya sekedar pembinaan perubahan jelas merupakan upaya penyederhanaan yang serampangan. Pasalnya, Bayern tidak sekadar beradaptasi dengan permainan baru di bawah asuhan Don Carletto. Namun mereka juga menghadapi situasi di mana para pemain utamanya akan segera meninggalkan sepak bola.
Peralihan di tubuh raksasa Jerman itu tak hanya soal Ancelotti. Tapi juga untuk membangun gaya permainan yang jauh lebih baik dengan tim baru yang akan menjadi tulang punggung klub selama satu dekade.
Jika di Bayern transisi terjadi dengan Ancelotti sebagai kaptennya, tidak demikian halnya dengan Barcelona. Di Barca, pintu transisi baru saja terbuka. Dan pemicunya adalah pengumuman pengunduran diri pelatih mereka adalah Luis Enrique.
Pria asal Gijon itu dipastikan akan meninggalkan Camp Nou pada akhir musim. Pasalnya, ia merasa sudah cukup menangani klub Catalan tersebut.
Faktanya, transisi di mana pun selalu ditandai dengan kondisi yang sepenuhnya tidak stabil. Dan mengumumkan pengunduran diri seorang manajer di tengah musim hanya akan memperburuk keadaan.
Marcelo Lippi misalnya. Pelatih Setelah mengawasi kiprah Bianconeri selama lima musim, Juventus mendapati timnya gagal meraih kesuksesan scudetto Di musim yang sama, ia mengumumkan akan hengkang ke Inter Milan.
Begitu pula Pep Guardiola. Mengumumkan pengunduran dirinya di pertengahan musim Barcelona 2011-2012 hanya berarti timnya gagal dalam perburuan gelar Divisi Primera dan melihat Chelsea mengangkat Si Telinga Besar—sebutan trofi Liga Champions—untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Transisi dibutuhkan oleh klub-klub besar. Untuk mengganti pelatih atau mengganti pemain kunci yang masa kejayaannya telah berakhir. Dan Barcelona tidak bisa dikecualikan dari tahapan penting ini. Bahkan, setiap menjalani masa transisi, Blaugrana akan kembali tampil tampil jauh lebih kuat.
Peralihan era Frank Rijkaard ke era Pep Guardiola menjadi salah satu bukti paling sahih. Barcelona asuhan Guardiola adalah salah satu tim terbaik dalam sejarah klub Catalan selama lebih dari satu abad. Bahkan Johan Cruyff, sang legenda yang membawa filosofi permainan—yang lebih sering disapa mendapatkan tiket Itu—di Camp Nou, Pep telah menerapkan pemikirannya dengan sempurna.
Kali ini, suka atau tidak, Barca akan menghadapi salah satu masa transisi terpenting dalam sejarah klub. Sebab, mereka akan benar-benar lepas dari bayang-bayang Guardiola.
Era Luis Enrique masih bisa dianggap sebagai bagian dari era Guardiola. Mantan pelatih Celta Vigo itu masih menggunakan fondasi permainan Guardiola—meski lebih dari itu langsung dan gabungkan dengan bola-bola persimpangan. Ia pun masih mengandalkan hampir seluruh pemain asuhan manajer yang kini menangani Manchester City itu.
Menunggu era baru
Transisi Barca kali ini bukan sekadar memimpin pertandingan. Tapi juga membangun tim utama. Nama juru taktik baru mereka belum dapat dikonfirmasi. Beberapa nama yang dibicarakan antara lain asisten Enrique Juan Carlos Unzur, manajer Everton Ronald Koeman, dan manajer Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino.
Siapa pun namanya, mereka akan membawa banyak harapan, bukan hanya sebagai pelatih. Namun juga menjadi penjaga era baru Camp Nou di masa depan.
Pada masa transisi ini, Barca akan dihadapkan pada kenyataan bahwa pasukannya mulai menua. Lionel Messi akan berusia 30 tahun pada Juni tahun ini. Sementara itu, pemain seperti Luis Suarez, Gerard Pique, dan Javier Mascherano mulai meninggalkan bintangnya. Sementara itu, tidak ada satupun pemain rugby yang benar-benar bisa menandingi levelnya.
Bagilah klub dengan slogan Lebih dari sebuah klub (lebih dari sekedar klub) seperti Barca, masa transisi ditangani dengan sangat hati-hati. Pelatih tidak bisa ditunjuk sembarangan. Pertimbangannya bukan hanya soal rasio kemenangan sang pelatih, tapi juga bagaimana kemenangan itu diraih.
Kita tentu masih ingat salah satu alasan Jose Mourinho ditolak menjadi pelatih Barca adalah kebiasaannya yang kerap menuai kontroversi. Begitu mudahnya pula dia menuruti kesombongan dan menyebut dirinya sosok yang spesial.
Faktanya, di klub seperti Barcelona, tidak ada yang bisa menganggap dirinya lebih besar dari klub tersebut.
Zlatan Ibrahimovic, eks pemain Barca yang kini membela Manchester United, pernah mengatakan, jenis mobil yang dibawa ke tempat latihan pun diatur. Jangan sampai terlalu mewah sehingga mengganggu kestabilan internal pemain.
Dan para pemain di klub ini menaati aturan-aturan konyol itu seperti anak sekolah yang taat aturan, kata Ibra dalam biografinya.
Transisi di Barca jelas lebih rumit dibandingkan di Real Madrid. Di Real, transisinya lebih praktis. Pelatih baru didatangkan dan dimenangkan. Pemain-pemain hebat dibeli dan biarkan pelatih mengubahnya menjadi trofi.
Jika gagal, mereka tahu pintu klub akan terbuka lebar bagi mereka untuk hengkang.
Maka tak heran jika pelatih yang sudah menganugerahkan gelar Liga Champions kesepuluh itu pun (Kesepuluh) Pemain sekaliber Carlo Ancelotti tetap terpaksa hengkang meski berhasil meraih trofi yang diburunya selama 12 tahun.
Bagi Real, transisinya tidak perlu rumit. Pengukurannya pun mudah: kemenangan dan gelar.
Bagi Barca, situasinya tidak mudah karena angka tersebut pelatih juga merupakan wajah publik klub. Mereka tidak hanya harus mampu memberikan kemenangan, tetapi juga meraihnya dengan cara yang elegan, “mulia” dan tidak “murahan”.
Nah, di tengah masa transisi Barcelona yang sudah dimulai sejak Enrique memutuskan mundur, jangan berharap terlalu banyak agar mereka bisa tampil gemilang seperti biasanya.
Kekalahan melawan Paris Saint-Germain (PSG) 0-4 yang disusul kekalahan melawan Juventus 0-3 di babak perempat final menunjukkan gairah dalam diri para pemain sudah memudar. Mereka tidak memikirkan musim ini lagi.
Mereka memikirkan bagaimana Barca akan membangun kembali tim musim depan dengan pelatih baru yang lebih memahami gaya permainan Azulgrana.
Memang, mereka masih berpeluang menghentikan Real meraih gelar juara divisi Primera. Namun perbedaan 3 angka tidak akan ada artinya. Los Blancs akan tetap dalam performa terbaiknya. Apalagi mereka juga baru lolos ke semifinal Liga Champions setelah mengalahkan Bayern.
Peluang Barca semakin tipis karena pasukan Enrique lebih banyak memainkan satu pertandingan dibandingkan Real.
“Transisi memang sebuah proses yang tidak mudah. Tapi, klub-klub besar selalu bisa melewatinya dengan baik, kata Lizarazu.
Bagi Barca, transisi ini akan menentukan masa depan klub untuk lima musim ke depan—atau bahkan lebih lama lagi. Dan jika mereka mampu melewatinya, klub seperti Real akan kembali menghadapi kekeringan gelar yang panjang seperti era Guardiola.—Rappler.com