• April 18, 2026
Saksi ahli meragukan sianida menjadi penyebab kematian Mirna

Saksi ahli meragukan sianida menjadi penyebab kematian Mirna

JAKARTA, Indonesia – Sidang kasus dugaan pembunuhan Wayan Mirna Solihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso memasuki “jilid” ke-20 pada Rabu, 14 September 2016.

Dalam persidangan kali ini, tim kuasa hukum Jessica menghadirkan saksi ahli toksikologi dari Universitas Indonesia: Budiawan. Budiawan juga merupakan salah satu perumus RUU Kimia.

Dalam persidangan, Budiawan mempertanyakan cara dan perhitungan yang dilakukan penyidik ​​dalam menghitung kadar sianida dalam kopi yang diminum Mirna.

Budiawan mencontohkan, jika dalam kopi memang terdapat 7.400 mg/I sianida dengan POH 2,67, maka potensi hidrogen (PH) seharusnya 11,33. Namun penyidik ​​dan jaksa penuntut umum (JPU) menuliskan kadar PH-nya adalah 13.

“Apa sebenarnya metode ini, harusnya jelas. “Kalau ada yang menuduh dia menggunakan sianida, cara apa yang Anda gunakan (untuk menentukannya),” kata Budiawan.

Zat beracun lainnya pada kopi Mirna

Budiawan mengatakan, kadar sianida di perut Mirna terlalu sedikit untuk membunuhnya. Karena itu, ia menduga ada zat beracun mematikan lainnya di dalam gelas berisi kopi yang diminum Mirna.

“Bisa banyak, karena banyak mengandung zat beracun,” kata Budiawan menjawab pertanyaan Majelis Hakim.

Sianida masih dapat dideteksi setelah 5 hari

Menurut Budiawan, meski sudah 5 hari setelah kematian, jika ada zat kimia yang masuk ke dalam tubuh, masih bisa terdeteksi di organ seperti hati.

Namun dalam kasus Mirna, sianida hanya ditemukan dalam jumlah kecil di perut. Meski sudah 5 hari, masih bisa ditemukan, kata Budiawan.

Harus ada uji laboratorium pembanding

Menurut Budiawan, pemeriksaan laboratorium biasanya dilakukan di beberapa laboratorium agar hasilnya objektif karena ada perbandingannya. Namun pada kasus Mirna, pengujian hanya dilakukan di satu laboratorium.

“Memang kejadian ini tidak boleh hanya terjadi di satu laboratorium saja. “Harus ada laboratorium pembanding agar kita bisa obyektif,” kata Budiawan.

Para ahli melakukan tes ‘penciptaan ulang’

Pada uji coba sebelumnya, Dr. Djaja Surya Atmaja mengatakan, kadar sianida 7400 mg pada kopi Mirna tidak mungkin terjadi.

Dalam sidang tersebut, kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan membahas bahwa Budiawan melakukan tes kadar sianida seperti yang terjadi pada Mirna.

Dalam pengujiannya, Budiawan menggunakan bahan baku yang sama seperti kasus Mirna, yakni kopi Vietnam yang diminum Mirna dengan kandungan sianida 7400 mg.

“Kami akan buktikan di sana,” kata Budiawan. “Kami ingin menguji apakah nilai 7400mg tidak berbahaya jika memang ada.”

Tes ini diujikan pada 8 orang yang ditempatkan di ruangan khusus. Selang 10 menit, gas sianida mulai keluar, dan 38 detik setelahnya, dilakukan evakuasi segera karena percobaan ini sangat berbahaya.

“Ini sangat berbahaya,” kata Budiawan.

Sianida di perut Mirna merupakan proses alami setelah kematian

Selain menghadirkan Budiawan, tim kuasa hukum Jessica juga menghadirkan ahli patologi Gatot Susilo Lawrence.

Menurut Gatot, sianida 0,2 mg yang ditemukan di perut Mirna bukan berasal dari kopi, melainkan akibat pemeriksaan visum atau proses tubuh setelah meninggal.

Jangan bicara kenapa ada 0,2 mg sianida di perut, seluruh dunia tahu itu visum, kata Gatot. “Sianida hanya bisa menyebabkan kematian jika masuk ke hati, jantung, dan lain-lain. tanggapi,” kata Gatot.

Thiocenate juga harus diperiksa

Gatot menyayangkan penyidik ​​hanya mendalami sianida yang ditemukan di perut Mirna. Mereka juga perlu memeriksa kadar tiosenat dalam tubuh Mirna.

Sebab jika kadar sianida yang masuk ke dalam tubuh tinggi, maka sebagian sianida tersebut harus diubah menjadi tiosenat dan sebagian masih tetap sianida.

Pengumpulan bukti kurang

Gatot juga mengatakan, penyebab meninggalnya Mirna belum bisa dipastikan karena belum dilakukan autopsi menyeluruh. Hal ini senada dengan pendapat para ahli sebelumnya yang disampaikan pihak Jessica. “Penyebab kematiannya belum bisa kami ketahui,” kata Gatot.

Gatot juga menambahkan, pengumpulan bukti yang menunjukkan penyebab kematian masih kurang. Pengumpulan bukti saja tidak cukup, kata Gatot. –Rappler.com

Togel SDY