Sensasi ‘mencicipi’ seni instalasi di ‘Dialogue with the Senses’
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Pameran seni media instalasi Korea-Indonesia ini berlangsung di Galleria Fatahilah, Kota Tua, Jakarta, 21 Oktober – 3 November
JAKARTA, Indonesia – Di era digital ini, kemampuan menciptakan karya yang lebih dari satu arah semakin berkembang. Hal ini pula yang bertajuk pameran seni media instalasi Dialog dengan indera.
Ide yang disampaikan dalam acara ini adalah media tidak hanya mempengaruhi aspek sensorik saja, namun juga membuka pintu sensasi baru.
Dalam pameran yang terbuka untuk umum dan gratis ini, pengunjung dapat menikmati sensasi mengamati karya seni kontemporer melalui fungsi panca indera.
“Jangan takut untuk berinteraksi langsung dengan karya-karya yang ada di pameran ini. “Kami sengaja mengangkat tema ini agar semua orang dapat berinteraksi dengan karya tersebut,” kata Jeong-ok Jeon, kurator Dialog dengan indra di acara tersebut konferensi persJumat, 22 Oktober di Galleria Fatahilah.
Pameran tahun ini diselenggarakan untuk keempat kalinya sebagai wujud kerja sama di bidang seni dan budaya antara Korea dan Indonesia. Dialog dengan indra juga merupakan bagian dari perayaan K-Fees yang berlangsung selama bulan Oktober.
Ada sembilan seniman yang terlibat dalam pameran ini. Anang Saptoto, Ella Nurvista, Fajar Abadi, Heri Dono dan Ricky ‘Babay’ Janitra dari Indonesia. Sedangkan perwakilan artis Korea adalah Choi Suk Young, Hye Rim Lee, Kim Hyung Joong dan Park Seung Soon.
Dalam pameran ini, pengunjung dapat merasakan langsung sensasi perpaduan panca indera dan karya seni kontemporer.
Misalnya saja pada karya seniman Fajar Abadi yang berjudul Rasarumah. Ini memproses hubungan antara penciuman dan memori. Dilatar belakangi masyarakat yang selalu merasa rindu setiap kali mencium aroma masakan rumah.
Fajar menciptakan lilin beraroma khas Indonesia dan sup ayam doenjang jjigae (rebusan pasta kedelai yang difermentasi) khas Korea. Saat dinyalakan, aroma kedua masakan ini muncul di sekitar area tampilan. Sukses membuatku kangen masakan sop ayam buatan ibuku di rumah.
Ada pula karya seniman Anang Saptoto yang bermain dengan jarak dan perspektif. Anang secara khusus mengangkat kesempatan tersebut Asian Games yang terjadi pada tahun 1962 di Jakarta.
Anang menggambar adegan pertandingan bulutangkis dengan pendekatan proyek perspektif sehingga menimbulkan sensasi tiga dimensi bagi pengunjung yang melihatnya.
Salah satu dari empat seniman asal Korea yang turut terlibat dalam pameran ini, Park Seung Soon yang juga hadir langsung di Galleria Fatahilah menampilkan karya bertajuk Simfoni Akuatik. Karya ini unik karena melibatkan pengunjung secara langsung dalam menciptakan musiknya sendiri.

Sebagai komposer musik elektronik, ia mengembangkan seni menggabungkan air, cahaya, dan suara untuk menciptakan musik. Pengunjung cukup menekan sensor dengan satu tangan dan tangan lainnya menyentuh air dan melakukan gerakan-gerakan kecil maka musik akan langsung tercipta dan terdengar.
Berbeda dengan karya Elia Nurvista. Pameran karya bertajuk Gula ZuckerSeniman asal Yogyakarta ini kerap fokus pada kuliner dan kuliner.
Dalam pameran ini ia tertarik membahas gula dan melihat sejarah penjajahan hingga ekstraksi tenaga kerja dan material dalam konteks kehidupan saat ini.

Elia menciptakan bongkahan gula berbentuk seperti permen kristal raksasa. Pengunjung bisa leluasa ‘mencicipi’ karya Elia. Ia juga menyediakan potongan permen dalam kemasan kecil yang bisa dinikmati pengunjung.
Selain pameran, acara Dialog dengan indera Ia juga menawarkan berbagai kegiatan yang dapat diikuti oleh pengunjung, terutama keluarga. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa pameran ini memilih tempat di Galleria Fatahilah.

“Kami fokus untuk menjangkau audiens yang lebih besar tahun ini. “Dan Kota Tua ini adalah tempat berkumpulnya banyak orang dari berbagai latar belakang dan kelompok umur,” kata Jeong-ok Jeon.
Untuk orang tua dan anak-anak tersedia beragam bengkel yang diprakarsai oleh rurukid. Sedangkan untuk generasi muda terdapat berbagai kegiatan art workshop yang diselenggarakan oleh Serrum En Plus.
Dialog dengan indra akan dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 09:00 hingga 19:00. Akan diadakan tur pameran pada tanggal 29 dan 30 Oktober (11.00-12.00) untuk memudahkan pengunjung memahami keseluruhan rangkaian pameran.
Sedangkan untuk informasi bengkel dan bengkel dapat diperoleh di http://www.arcolabs.org/dialogue-with-the-senses/. -Rappler.com.