• April 17, 2026
Solidaritas musisi mendukung perjuangan masyarakat Bali menolak daur ulang

Solidaritas musisi mendukung perjuangan masyarakat Bali menolak daur ulang

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Para musisi meminta agar perlawanan masyarakat Bali terhadap reklamasi Teluk Benoa tidak surut.

DENPASAR, Indonesia – Dua musisi asal Jakarta datang ke Bali sebagai bentuk aksi solidaritas untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang menentang reklamasi Teluk Benoa. Aksi solidaritas tersebut dikemas dalam bentuk mini konser yang digelar Desa Adat Kepaon dan Pemogan, Denpasar di Wisata Budaya Wantilan Sari Barong dan Tari Keris.

Musisi pertama yang hadir, band punk Marjinal, mengobarkan semangat generasi muda Bali untuk terus menyuarakan penolakan daur ulang sebagai suara perjuangan nasional. Penyanyi Mike di atas panggung mengaku salut dengan semakin besarnya gelombang perlawanan masyarakat Bali terhadap upaya reklamasi di Teluk Benoa.

“Semangat juang sahabat terpanggil untuk mempertahankan Ibu Pertiwi, tanah dan airnya. Masih merinding,” kata Mike, Minggu malam, 23 Oktober, di hadapan ribuan penonton.

Ia meminta perjuangan yang dilakukan masyarakat Bali tidak berubah. Sebab pertempuran tersebut menjadi pengaruh yang besar di seluruh alam semesta.

“Ini adalah pertempuran kemanusiaan bagi kita semua,” katanya.

Marjinal membawakan 10 lagu dan menjadi grup terakhir setelah penampilan pembawa acara, The Djihard, Relung Kaca, Rawback, Racun Timur Menggoda, Sick Bastard dan Rockabisul. Sementara drummer band Superman Is Dead (SID), Jerinx, tampil solo, bernyanyi, dan bermain gitar akustik.

Jerink mengapresiasi desa adat di Bali yang menggelar konser mini penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Pasubayan (perkumpulan desa adat) berani, saya paham tekanannya juga besar. Butuh kedewasaan dan mereka punya nyali, kata Jerinx.

Sementara itu, artis Melanie Subono yang hadir dalam mini konser tersebut mengaku sejak awal sudah terlibat dalam gerakan masyarakat Bali menentang daur ulang.

“Jika (tindakan menentang daur ulang) TIDAK di Bali, ya di Jakarta. “Satu benang merah, satu tujuan, satu masalah sama, yaitu penguasa yang serakah,” kata putri promotor kondang, Adrie Subono ini.

Melanie mengaku selalu ingin terlibat dalam setiap gerakan perlawanan masyarakat di berbagai daerah. Dengan aktif menentang reklamasi Teluk Benoa, kata dia, ia sadar bahwa dirinya adalah warga negara yang mempunyai hak penuh untuk melawan berbagai bentuk penindasan.

SAYA meyakini apa yang diajarkan kepada mereka sejak kecil, bahwa tanah, air dan isinya adalah milik rakyat dan untuk kemaslahatan rakyat. Cukup SAYA hak kalau memang (tanah dan air) itu milik kita,” ujarnya lagi.

Kebohongan pengembang

Di tempat yang sama, Koordinator Forum Rakyat Bali Menentang Reklamasi (ForBALI), I Wayan ‘Gendo’ Suardana dalam sambutannya mengatakan, perjuangan melalui seni akan terus berlanjut di setiap desa adat.

“Sebelumnya dipusatkan oleh ForBALI, sekarang kami akan melakukannya dari kota ke kota. “Kami akan terus mengepung aparat,” kata Gendo mengingatkan Teluk Benoa harus dikelola negara untuk masyarakat Bali.

Negara, kata Gendo, seharusnya memberikan dana pengelolaan mangrove dan Teluk Benoa. Pengelolaannya tidak boleh diserahkan kepada PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI).

Aktivis asal Ubud ini menegaskan, uang triliunan PT TWBI untuk daur ulang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat Bali.

“Sekarang PT TWBI dengan bangga hadir di Teluk Benoa dan memiliki uang tunai Rp 30-60 triliun, tidak ada apa-apanya dibandingkan nenek moyang kita yang sudah berabad-abad menjadi investor untuk menjaga Teluk Benoa,” ujarnya lagi.

Dia mengatakan, PT TWBI menyembunyikan kebohongan besar lewat rencana reklamasi seluas 700 hektare di perairan Teluk Benoa.

“Kalau mereka menimbun 700 hektar untuk membuat pulau baru, 500 hektar akan dijual sebagai real estate. “Hal itu tertuang dalam dokumen AMDAL investor,” kata Gendo. – Rappler.com

Data HK Hari Ini