Sudah waktunya bagi ‘yang normal’ untuk mengambil alih panggung
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Jose Mourinho dan Juergen Klopp sebenarnya adalah dua pelatih yang sangat kontras. Terutama dalam cara mereka memandang diri mereka sendiri. Mourinho, seperti yang kita ketahui bersama, adalah seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi dan menuntut loyalitas yang hampir tak terbatas dari timnya.
Mourinho juga sosok yang menuntut dominasi, hampir bertangan besi, dan membangun tembok otoritas setinggi menara jam Big Ben. Tidak seorang pun dapat mencampuri pendapatnya kecuali dia sendiri yang menginginkannya.
Karena dia adalah sosok yang istimewa, yang khusus-sebuah gelar yang dia ciptakan sendiri dan gunakan sendiri. Betapa dia mengagumi dirinya sendiri.
Di sisi lain, Klopp merupakan antitesis dari manajer berpaspor Portugal tersebut. Klopp datang ke Inggris tanpa embel-embel apa pun untuk membuat orang menghormatinya.
Ia mengaku melatih klub sepak bola dari sudut pandang penggemar. Semangati pasukannya dan tenggelam dalam gelombang emosi di setiap pertandingan.
Dia menyebut dirinya dengan sederhana: yang biasa.
Namun, rakyat jelata ini sebenarnya mulai mencontoh fondasi yang dibangunnya musim lalu di Liverpool. Melawan tekanan Banyak peningkatan yang dialami Jordan Henderson dan kawan-kawan: lebih cepat, lebih agresif, dan lebih tangguh dalam merebut bola di area lawan.
Strategi membanjiri kotak penalti lawan dengan banyak pemain membuahkan hasil. Produktivitas gol mereka berada di urutan ketiga tertinggi di Premier League dengan 18 gol, di bawah Arsenal dan Manchester City yang masing-masing mencetak 19 gol.
Liverpool pun mulai membenahi salah satu kekurangannya musim lalu: jumlah tembakan tepat sasaran yang tinggi, namun akurasi rendah alias konversi gol. Hingga pekan ketujuh, klub di Anfield itu menghasilkan tembakan terbanyak kedua di Inggris, 47 tembakan.
Jumlah upaya itu diikuti tingkat konversi yang cukup tinggi. Sebanyak 22,5 persen atau setara dengan 18 tembakan membuahkan gol. Faktanya, rasio konversi tersebut tidak bisa disusul Manchester City (19 persen), Chelsea (16,7 persen), dan Manchester United (15,3 persen).
Faktanya, pasukan Jose Mourinho kalah agresif dibandingkan Liverpool. Sebagai Orang Komunis punya 47 tembakan, United hanya 41 upaya.
Namun permasalahan khas gaya permainan Liverpool masih sering muncul. Misalnya saja pendatang baru—khususnya sektor sayap. Tapi itu tidak masalah. Pasalnya musim ini berjalan mulus bagi mereka setelah awal musim yang kurang meyakinkan.
Usai kalah 0-2 dari Burnley dan ditahan 1-1 Tottenham Hotspur, pasukan Klopp terus mencatatkan rekor garis yaitu kemenangan beruntun hingga 4 pertandingan.
Situasi ini jelas berbahaya bagi United yang akan menghadapi mereka pada Selasa 18 Oktober pukul 02:00 WIB dini hari. Apalagi pertandingan digelar di Anfield, kandang Liverpool.
Peluang United akan semakin sulit karena Liverpool semakin semangat menghadapi tim-tim besar. Sudah 3 tim favorit juara yang menjadi korbannya. Arsenal dikalahkan 4-3, Chelsea 2-1 dan juara bertahan Leicester City dikalahkan 4-1.
“Kami harus melakukan banyak persiapan. Tapi kami akan siap. “Kami akan mencoba segalanya dan saya sangat optimis dengan peluang besar ini,” kata Klopp seperti dikutip Olahraga Mol.
Klopp ceroboh terhadap Mourinho
Beban manajer asal Jerman itu akan jauh lebih ringan dibandingkan beban United. Mantan manajer Borussia Dortmund itu juga tidak punya rekor buruk melawan Mourinho. Dalam lima pertemuannya dengan mantan manajer Real Madrid itu, Klopp sebenarnya menang 3 kali dan hanya sekali seri.
Bersama Liverpool dia mengalahkan Chelsea 3-1. Saat dia menangani Dortmund, dia mengalahkannya Orang kulit putih 3-2 dan 2-1, sekali kalah 2-3 dan imbang 2-2. Itu sebabnya Mourinho bukanlah mimpi buruk baginya. Begitu juga dengan United. Kejayaan mereka yang hilang tidak membuat manajer dan pasukannya patah semangat.
“Kami tidak terlalu memikirkan United,” kata Klopp.
Hal sebaliknya justru terjadi pada United. Mourinho masih “dibebani” dengan performa meyakinkan tim berjuluk Setan Merah itu. Hingga Liga Inggris memasuki pekan ketujuh, ia belum menemukan formasi tim yang ideal.
Wayne Rooney adalah pemain reguler starter di awal musim kini telah tergeser. Paul Pogba yang sebelumnya “hanya” berstatus gelandang bertahan, kini mulai terbebas dari perannya. Mendorong lebih jauh ke depan dan membangun inisiatif serangan.
Posisi sayap pada format 4-2-3-1 juga mengalami perubahan. Terkadang Juan Mata menjadi orang kepercayaan Mourinho di sektor kanan, namun beberapa kali Henrikh Mkhitaryan menempati posisi tersebut. Begitu pula dengan Anthony Martial dan Marcus Rashford yang sering digunakan secara bergantian.
Satu-satunya pemain yang tak tergantikan hanyalah striker Zlatan Ibrahimovic dan tentu saja kiper David De Gea.
Situasi tersebut jelas menunjukkan bahwa Mourinho belum menemukannya tim pemenang serikat Dia masih mencari format terbaik.
Masalahnya, sepak bola tidak bisa menunggu terlalu lama. Manchester City “menghukum” lambatnya proses transisi Mourinho dengan kemenangan 2-1 di Old Trafford. Watford mengikuti minggu berikutnya dengan skor besar 3-1.
Situasi ini pun membuat legenda United Paul Scholes berkomentar. Menurutnya, Mourinho bingung berdiri dalam barisan tim. Nyatanya, bukan pemain murahan yang dibeli juara bertahan Liga Inggris musim ini.
Ada ketidakpastian dalam menentukan komposisi pemain, kata Scholes dikutip oleh BBC.
Mourinho jelas tidak terima dengan tudingan tersebut. Ia menyadari, dengan rekam jejak yang bagus (juara di 4 negara berbeda), performa United bisa membuatnya semakin mendapat tekanan. Kapasitasnya perlahan mulai diragukan karena unsur “ajaib” yang dimilikinya mulai habis. Para penggemar mulai diam-diam memohon hasil yang lebih baik.
Pria kelahiran Setubal itu masih berusaha meredakan tekanan yang menimpanya. Menurutnya, proses pencarian game yang dilakukan United merupakan hal yang wajar.
“Dalam sepak bola terkadang kita menghadapi tragedi. Yakni dalam pertandingan besar anda mengalami kekalahan. “Biasa saja kalau dianggap bercanda,” ucapnya dikutip oleh BBC.
Lantas, apakah tragedi tersebut akan terulang kembali saat United menghadapi Liverpool? Tentu saja para penggemar tidak akan setuju jika kekalahan dari musuh bebuyutannya itu dianggap biasa saja. Bahkan lelucon. —Rappler.com