Tak pernah lelah memperjuangkan hak asasi manusia dalam Aksi Kamisan
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Aktivis sosial dan hak asasi manusia di Indonesia menggelar aksi Kamis ke-517 di depan Istana Merdeka
JAKARTA, Indonesia – Teriknya sinar matahari tak menyurutkan semangat ratusan masyarakat yang berkumpul di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Kamis siang itu, 7 Desember, ratusan aktivis dan simpatisan hak asasi manusia (HAM) menggelar aksi Kamisan ke-517.
Mereka terus berdiri dan melakukan aksi Kamis menunggu keadilan HAM di Indonesia. Salah satu pejuang hak asasi manusia yang setia sejak aksi Kamisan pertama kali digelar pada tahun 2006 adalah Ny. Sumarsih.
Ia rutin berdiri setiap hari Kamis dengan pakaian serba hitam di depan Istana Merdeka, menunggu sikap Presiden RI yang berubah, serta mencari keadilan bagi almarhum. Benardinus Realino “Wawan” Norma Irawan, mahasiswi Universitas Atma Jaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi I tahun 1998.
Sumarsih berharap Presiden Joko “Jokowi” Widodo segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Menurutnya, seluruh keluarga korban pelanggaran HAM tidak akan pernah melupakan kejahatan yang melanggar HAM seperti tragedi Semanggi 1 dan 2 serta tragedi Trisakti.
“Kita melawan kelupaan dan melawan impunitas, sehingga hukum di negara kita tidak melindungi pelaku kejahatan,” kata Sumarsih.
Ingat Munir dan seluruh pejuang hak asasi manusia di negara ini
Aksi Kamisan ke-517 ini cukup istimewa dan ramai dari biasanya karena dilaksanakan beberapa hari sebelum peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia setiap tanggal 10 Desember. Sederet musisi yang memiliki kepedulian sosial seperti Glenn Fredly, Melanie Soebono, Pandai Besi, Danilla Riyadi, dan Ananda Badudu turut hadir dan membawakan lagu-lagu mereka.
Mereka bersama masyarakat yang berkumpul di depan Istana sore itu, mengenakan kaos hitam simbol duka sambil duduk di bawah terik matahari.
Glenn menyanyikan lagu berjudul Terang yang kemudian dinyanyikan oleh seluruh penonton.
Selain itu, Aksi Kamis ini juga memperingati hari ulang tahun pejuang kemanusiaan Munir Said Thalib pada tanggal 8 Desember. Munir adalah salah satu pembela hak asasi manusia Indonesia yang meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Belanda pada tanggal 7 September 2004.
Dia diracuni dengan arsenik dalam minumannya.Hingga saat ini, kasus kematiannya hanya membawa persidangan terhadap pilot maskapai Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto, yang divonis 14 tahun penjara karena terbukti berperan meracuni Munir dalam penerbangan tersebut. Namun banyak pihak yang menilai Polly bukanlah dalang pembunuhan tersebut.
Untuk memperingati hari lahir Munir sekaligus mengenang perjuangannya membela hak asasi manusia di Tanah Air, seluruh aktivis dan pejuang sosial sore itu menggelar doa bersama di depan Istana Merdeka. Mereka berharap hak asasi manusia dan keadilan hukum dapat tetap terjaga di Indonesia sehingga kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.
Para aktivis sosial tak hanya berdoa bersama, namun juga melepaskan balon hitam ke udara. Balon diibaratkan harapan manusia. Dengan melepas balon ke udara, segala harapan para aktivis hak asasi manusia tidak akan pernah pupus. Mereka menaruh harapan besar terhadap keadilan hak asasi manusia di negeri ini. —Rappler.com
BACA JUGA: