• April 17, 2026
TNI dua kali bentrok soal sepak bola, kali ini seorang bocah lelaki berusia 17 tahun tewas

TNI dua kali bentrok soal sepak bola, kali ini seorang bocah lelaki berusia 17 tahun tewas

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

JAKARTA, Indonesia – Suporter Persita Tangerang Banu Rusman tewas usai bentrok dengan pendukung TNI yang menonton pertandingan PSMS Medan versus Persita di Cibinong, Bogor, Rabu 11 Oktober lalu.

Banu meninggal setelah dipukul dan dipukul secara membabi buta. Terdapat luka di kepala dan lebam di sekujur tubuh. Bahkan beredar video viral suporter PSMS berseragam lengkap khas suporter PS TNI bentrok dengan suporter Persita.

Bentrokan pendukung TNI dengan pendukung sipil bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, pada 22 Mei, suporter tim PS TNI bentrok dengan suporter Persegres Gresik United di Stadion Deltras, Sidoarjo.

Kerusuhan terjadi karena spanduk PS TNI diturunkan oleh kelompok Ultra. Ultras, sebutan pendukung Gresik United, mencopotnya karena spanduk itu adalah wilayah mereka untuk meneriakkan dan meneriakkan slogan-slogan.

Konflik antara kedua kubu pun tak terhindarkan. Suporter Gresik United akhirnya berlarian karena dikejar suporter PS TNI yang merupakan prajurit aktif. Puluhan suporter sepak bola Gresik terluka akibat dipukul anggota TNI.

PS TNI berjanji akan mengembangkan anggotanya. Namun, pembinaan tersebut nampaknya gagal total.

Buktinya mereka masih terlibat keributan. Kali ini dengan Banu Rusman. Suporternya yang masih anak-anak. 17 tahun.

Itu mengejutkan. Suporter anggota TNI kali ini tidak datang untuk menyaksikan pertandingan PS TNI yang tersaji di Liga 1, kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Namun mereka malah datang untuk mendukung PSMS Medan saat bertanding melawan Persita. Tim yang “secara struktural” tidak berada di bawah TNI.

Meninggalnya Banu bermula dari kerusuhan suporter usai laga Persita vs PSMS Medan. Kedua tim bertanding di babak 16 besar Liga 2. Pertandingan digelar di Stadion Mini Persikabo, Bogor.

Saat itu, pendukung Persita turun ke lapangan. Pasalnya, mereka tak terima timnya kalah 0-1. Aksi suporter Persita dibalas sejumlah suporter PSMS yang tampak anggota TNI dengan meninggalkan lapangan. Bentrokan kedua kubu pun tak terelakkan.

Sejumlah massa Persita kemudian berusaha keluar stadion. Tampak anggota TNI lainnya sudah menunggu di luar stadion. Banu yang hendak keluar stadion dipukul kepalanya dengan benda keras. Setelah dilarikan ke rumah sakit, nyawa Banu tak tertolong lagi.

Disesalkan Menpora

Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga, menyayangkan kejadian tersebut. “Saya berduka atas meninggalnya saudara kita Banu. Suporter Persita Tangerang. Saya kecewa. “Lebih pantas untuk marah karena sekali lagi nyawa hilang karena sepak bola,” ujarnya.

Imam menegaskan, kejadian tersebut tidak bisa terjadi begitu saja, lalu hilang begitu saja seolah ditelan bumi setelah hari kejadian tersebut.

“Kepergian Banu, pendukung Persita, harus diusut tuntas. Pelakunya harus diadili, tanpa diskriminasi. Siapapun dia,” ujarnya.

Sebagai perwakilan pemerintah, Kemenpora pun secara serius meminta agar PSSI mengusut tuntas masalah ini. Agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Ia mencatat, dalam enam bulan terakhir, cukup banyak terjadi kekerasan yang mengkhawatirkan di sejumlah pertandingan baik Liga 1 maupun Liga 2.

Apa pun latar belakang terduga pelaku, PSSI harus bertindak tegas, tidak ragu sedikit pun, dan harus obyektif, ujarnya.—Rappler.com