• April 29, 2026

Upaya pemuda 24 tahun memberikan pendidikan gratis kepada anak jalanan di Samarinda

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Haerdy dan delapan rekannya mendirikan klinik jalanan yang memberikan pengajaran keterampilan membaca, menulis, dan kewirausahaan

SAMARINDA, Indonesia – Haerdy Pratama Wijaya prihatin melihat banyak anak di ibu kota Samarinda yang berada di jalanan dibandingkan di sekolah. Hatinya semakin sedih ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa mereka kecanduan menghirup lem hingga menimbulkan halusinasi.

Hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan anak. Karena tak ingin nasib anak jalanan semakin tidak jelas, pria berusia 24 tahun itu kemudian mendirikan “Klinik Jalanan” bersama delapan rekannya. Di klinik tersebut, anak-anak usia 2-8 tahun bisa mempunyai harapan baru dengan mendapatkan pendidikan gratis.

“Sekitar jam 12 malam tahun 2015 lalu, saya melihat sejumlah anak jalanan ditangkap Satpol PP. “Saya kemudian mendatangi kantor Satpol PP Kota Samarinda dan menanyakan di mana anak-anak jalanan tersebut dititipkan,” kata Haerdy saat menceritakan kisah dimulainya Klinik Jalanan di Rappler, Sabtu 21 Januari.

Sesampainya di kantor Satpol PP kawasan Balai Kota Samarinda, Haerdy kaget karena sebagian besar anak-anak ketagihan menghirup bau lem. Meski terkesan tidak berbahaya, namun kebiasaan menghirup bau lem ternyata berdampak nyata bagi kesehatan. Timbulnya gejala halusinasi, mati rasa, kehilangan koordinasi gerak tubuh hingga kematian.

Ide pembentukan street klinik kemudian diwujudkan dengan mengikuti kompetisi Kebudayaan dan Nasionalisme Indonesia (ICN) 2015 yang diadakan oleh OSIS kampus Sekolah Bisnis dan Ekonomi Prasetya Mulya di Jakarta. Dalam kompetisi tersebut, Haerdy mengajukan konsep klinik jalanan sebagai proyek sosial.

Relawan yang tergabung dalam klinik jalanan Haerdy nantinya akan memberikan bimbingan gratis dalam membaca dan menulis serta keterampilan kewirausahaan. Anak-anak jalanan diajari cara sablon kaos yang nantinya bisa dijual ke masyarakat.

Tak disangka, ide tersebut mengantarkannya memenangkan kompetisi yang diikuti 33 kontestan lain dari seluruh Indonesia.

“The Street Clinic Project terpilih sebagai yang terbaik ketika diselenggarakan pada 27-31 Mei 2016. Kami mendapatkan hadiah sebesar Rp 10 juta yang diberikan secara mencicil. “Inilah yang kami jadikan modal awal dan mampu melaksanakan proyek sosial ini,” kata Haerdy.

Penggemar tinggi

Saat pendaftaran sebagai relawan dibuka, ternyata yang ikut serta sekitar 200 orang. Namun Haerdy dan kawan-kawan hanya meloloskan 63 orang. Ia menjelaskan, proses seleksi tersebut diperlukan untuk mencari relawan yang siap menjalankan visi dan misi proyek sosial tersebut.

“Visi kami adalah memberikan edukasi dan pencegahan kepada anak-anak jalanan yang menggunakan obat-obatan inhalansia atau narkoba,” ujarnya.

Hingga saat ini, Klinik Jalanan telah merawat 86 anak jalanan sejak didirikan pada November 2015. Sayangnya, reaksi negatif dari beberapa pihak mulai bermunculan terkait kegiatan pembinaan di Street Clinic. Mereka menilai, aktivitas di klinik tersebut mengganggu aktivitas perekonomian yang seharusnya dilakukan anak jalanan.

Setiap hari jika mereka tidak mencium bau lem, mereka akan mengantarkan dan mengantarkan koran. Bahkan, banyak juga dari mereka yang mendapat perlakuan kasar dari preman di sepanjang perjalanan.

Perlakuan intimidasi terhadap premen ini juga dirasakan oleh para relawan klinik jalanan.

“Ini adalah salah satu hal yang mengejutkan tim klinik jalanan dan relawan. Ke depan, kami bertujuan untuk mengembangkan klinik ini. “Mudah-mudahan dengan semakin banyak anak-anak yang kita didik, mereka tidak lagi berada di jalanan,” kata Haerdy. –Rappler.com

unitogel