Waktu yang tepat untuk salat akhir tahun bagi umat Konghucu
keren989
- 0
SURABAYA, Indonesia – Juliman dan ayahnya mengunjungi Pura Sanggar Agung di Jalan Kenjeran Surabaya pada Jumat, 20 Januari tahun lalu. Tujuannya satu, melaksanakan salat akhir tahun sebagai wujud rasa syukur atas kemudahan yang diberikan selama tahun 2016.
“Minggu ini minggu terakhir, saya harus ke vihara untuk berdoa,” kata Juliman.
Dikatakannya, dalam kepercayaan Konghucu, setidaknya dalam setahun, umat harus berdoa di kuil minimal dua kali, yakni di awal dan akhir tahun.
Doa di awal tahun biasanya memohon kepada para dewa untuk kenyamanan, kemakmuran dan kesehatan. Sedangkan doa akhir tahun biasanya dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur atas kemudahan hidup di tahun sebelumnya.
Bahkan salat akhir tahun, kata Juliman, idealnya tidak dilakukan pada hari apa pun. Menurutnya, shalat di akhir tahun sebaiknya disesuaikan dengan perhitungan feng shui dan zodiak.
“Tetapi sekarang banyak anak muda keturunan Tionghoa yang mengabaikannya. Mereka datang ke kuil untuk sembahyang akhir tahun hanya untuk menyesuaikan diri dengan kesibukan mereka. “Itu tidak berdasarkan feng shui atau tanda zodiak,” kata Acin, nama Cina Juliman.
Ia mengatakan, salat akhir tahun ini wajib karena bertepatan dengan seminggu menjelang Tahun Baru Imlek, saat para dewa masuk surga. Dipercaya bahwa para dewa baru akan kembali lima hari setelah Tahun Baru Imlek.
“Itulah sebabnya pembersihan patung para dewa dilakukan seminggu sebelumnya. Karena mereka para dewa telah tiada. “Saat ini tidak diperbolehkan karena kami yakin mereka tinggal di patung-patung tersebut,” ujarnya.
Umat Konghucu bisa berdoa di akhir tahun sebelum Tahun Baru Imlek, namun hal itu dianggap kurang karena yang ada hanya dewa penjaga. Sementara itu para dewa pergi ke surga.
Oleh karena itu, puncak salat Imlek biasanya terjadi pada saat Tahun Baru Imlek. Penganut Konghucu akan berbondong-bondong datang ke kuil untuk memanjatkan doa agar hidup lebih mudah di tahun mendatang.
Sedangkan puncak sembahyang kedua akan dilaksanakan 5 hari setelah Tahun Baru Imlek, dimana para dewa akan kembali bersemayam di dalam patung-patung yang ada di kelenteng.
“Perayaan Tahun Baru Imlek sebenarnya dirayakan selama lima belas hari. “Pada hari kelima belas biasa kita kenal dengan Cap Go Meh,” kata Juliman.
Ia juga mengingatkan, perayaan Imlek berbeda dengan ibadah umat Islam atau Kristen, Idul Fitri atau Natal. Idul Fitri atau Natal merupakan hari raya keagamaan, sedangkan Imlek sebenarnya bukan hari raya keagamaan. Namun Tahun Baru Imlek adalah Tahun Baru berdasarkan penanggalan Tionghoa.
“Jadi siapapun bisa merayakan Imlek, apalagi masyarakat keturunan Tionghoa. “Sama seperti kita merayakan Tahun Baru Masehi,” ujarnya.
Kuil sedang bersiap menyambut Tahun Baru Imlek
Satu lagi Juliman, satu lagi Wahyuni. Meski tidak terlalu ramai pengunjung, Wahyuni harus sigap melayani pelanggan yang membutuhkan perlengkapan salat.
Sore itu, aktivitas kerja Wahyuni dan kedua rekan kerjanya lebih padat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dapat dipahami bahwa minggu-minggu ini adalah minggu-minggu terakhir Bait Suci masih dibuka.
Kelenteng Sanggar Agung yang terletak di Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, ditutup pada 21-25 Januari, menjelang Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 28 Januari.
Selain menjadi pengurus Pura Sanggar Agung, Wahyuni juga kerap terjun langsung melayani umat Konghucu yang membutuhkan perlengkapan salat. Di pura ini selain sebagai tempat sembahyang juga terdapat toko yang menyediakan perlengkapan sembahyang. Berbagai jenis perlengkapan sholat dijual di toko ini seperti joshua, kertas sholat dan lilin.
Letak toko ini satu dengan bangunan candi induk, hanya saja tokonya berada di sayap kiri bangunan candi.
Untuk menyambut datangnya Tahun Baru Imlek, berbagai persiapan dilakukan di Pura Sanggar Agung. Persiapan tersebut antara lain pembuatan pintu masuk baru bagi pengunjung umum di ujung selatan candi. Asal tahu saja, selain sebagai tempat sembahyang bagi umat Khonghucu, Kelenteng Sanggar Agung juga terbuka bagi para jenderal non-Konghucu yang ingin berkunjung. Bedanya hanya pada bagian pintu masuknya saja.
“Sekarang pengunjung umum masuk melalui pintu utara yang masih merupakan bagian dari toko dan perkantoran. Takutnya, kalau ada lagi akan mengganggu masyarakat yang ke toko dan kantor Sanggar saat Imlek, kata Wahyuni.
Selain membuat pintu masuk baru bagi pengunjung umum, Pura Sanggar Agung mempercantik bangunan dengan mengecat ulang.
“Kami menyediakan sekitar lima ribu paket perlengkapan salat. Ada ribuan umat Konghucu yang akan datang berdoa saat Tahun Baru Imlek. “Mereka biasanya lebih memilih berbelanja di sini dibandingkan mampir ke jalan untuk membeli perlengkapan salat. Harga satu paketnya hanya Rp 13.000,” kata Wahyuni.
Klenteng Sanggar Agung atau dikenal juga dengan Klenteng Hong San Tang dibangun sekitar tahun 1999. Pura ini terletak di Pantai Ria Kenjeran, Surabaya.
Untuk memasuki kawasan Pantai Ria Kenjeran pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 15.000 untuk kendaraan roda dua dengan 2 penumpang. Sedangkan tiket Rp 20.000 dikenakan untuk mobil dan 2 penumpang. Sedangkan jika penumpang mobil lebih dari dua orang akan dikenakan tiket tambahan sebesar Rp 5.000 per ekor.
Sembah Dewi Kwan Im
Selain sebagai tempat ibadah umat Konghucu, kelenteng ini juga terbuka untuk pengunjung umum. Tempat ini menjadi tempat yang menarik bagi para penggemar fotografi atau sekedar berfoto selfie bersama pasangan. Pasalnya di pura ini terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter yang menghadap ke pantai timur Surabaya.
Juliman mengatakan, kehadiran patung Dewi Kwan Im di candi ini menjadi tanda bahwa candi ini memang memuja Dewi Kwan Im, karena tidak semua candi di Indonesia memujanya.
Ia mengatakan, banyak penganut Konghucu yang lebih nyaman memuja dewi Kwan Im karena dianggap sebagai dewi yang paling bersedia membantu permasalahan umat manusia.
Menurut kepercayaan Konfusianisme, Dewi Kwan Im sebenarnya bertahta di surga bersama Buddha Gautama, namun ia enggan berada di surga, malah lebih memilih turun ke bumi untuk menolong orang yang kesusahan.
“Saya sendiri merasa lebih nyaman memuja Dewi Kwan Im dibandingkan dewa lainnya. “Tapi bukan berarti saya tidak menyembah dewa lain,” kata Juliman. —Rappler.com