5 hal tentang Lulu Lutfi Labibi
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Lulu sukses memperkenalkan lurik ke dunia fashion internasional
JAKARTA, Indonesia – Lulu Lutfi Labibi, salah satu desainer kenamaan Yogyakarta berhasil memamerkan karya desainnya di acara tersebut Tahunan ke-8 Pekan Mode Kawasan Museum di Austria, Selasa 13 September.
Itu terjadi di acara Museum Quartier, Wina Pekan Mode MQ Hal ini menjadi kesempatan bagi Lulu untuk memperkenalkan desain khas Indonesia kepada para penggemar fashion di Wina pada khususnya dan Eropa pada umumnya. Lulu mempresentasikan karyanya dengan judul tanah Airku.
Nama Lulu belakangan ini melejit berkat ide kreatifnya yang ‘menyulap’ kain lurik sederhana menjadi pakaian yang berkelas namun sekaligus nyaman. Apa keunikan dan kemajuan Lulu di dunia fashion?
Berikut hal menarik dari Lulu Lutfi Labibi:
Teknik kain
Sebagian besar desain pakaian Lulu fokus pada teknik kain dan estetika Jepang. Lulu memainkan desainnya dengan tali dan bahan yang dibungkus, ditumpuk, dan diikat. Artinya pelanggan label Lulu Lutfi Labibi juga bisa berkreasi sendiri sesuai keinginannya. Kemungkinan besar mereka juga demikian mencampur dan mencocokkan Sendiri.
Inspirasi asing, menggunakan bahan lokal
Diakui Lulu, banyak desainnya yang terinspirasi dari desainer ternama luar negeri, seperti Dries Van Noten. Namun untuk bahan yang digunakan, bahan tradisional masih menjadi pilihan. Lulu juga dikenal sebagai desainer kain lurik ternama di Indonesia.
Batik Belanda
Sebelumnya Lulu juga turut memeriahkan acara tersebut Pekan Mode Jakarta (JFW) selama beberapa tahun. Pada JFW 2013, ia menciptakan karya desain dengan tema Kebangkitan Batik Belanda yang menampilkan batik Belanda yang digunakan di Indonesia pada masa kolonial yang dipengaruhi oleh budaya Eropa. Total ada 24 koleksi yang dipamerkan saat itu.
Pemenang Lomba Desain Fesyen (LPM) 2011.
Selain itu, Lulu juga menjadi juara pertama pada tahun 2011 Kompetisi desain busana (LPM). Kemenangan yang diraihnya merupakan perjuangan panjang sejak ia lulus dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Dengan tekad yang kuat, ia akhirnya memiliki konsep yang matang dengan memadukan batik kontemporer, lurik Yogya, dan sarung goyor Klaten dalam desainnya.
Dengan kemenangan ini, Lulu mendapatkan beasiswa selama 3 bulan untuk belajar di The Fashion Institute of Design & Merchandising, Los Angeles dan uang tunai sebesar USD 4,000.
Mengikuti LPM juga merupakan strategi agar desainnya bisa dikenal masyarakat dan dikenal pasar.
Kerjasama dengan Sekolah Kejuruan
Tak banyak yang tahu, selain merintis karir di dunia fashion, Lulu juga peduli dengan dunia pendidikan. Oleh karena itu, Lulu pun meluangkan waktu setahun terakhir untuk mempersiapkan kerja sama dengan siswa SMKN 2 Gedangsari, Yogyakarta.
Selama satu tahun, Lulu dan murid-muridnya belajar mengembangkan banyak motif batik yang fokus pada ciri khas kawasan Gedangsari, yaitu flora dan fauna. Lulu juga banyak berbagi ilmu tentang lurik dan tenun Kupang.
Awal Agustus lalu, Lulu juga berkesempatan menunjukkan hasil kolaborasinya bersama siswa SMKN 2 Gedangsari melalui fashion show bertajuk Gedangsari Berlari.-Rappler.com