China antusias berinvestasi di Indonesia asalkan 5 hal tersebut terpenuhi
keren989
- 0
Urusan visa kerja berjalan lancar, kereta ekspres Jakarta-Bandung selesai lebih awal
BEIJING, China – Ada 5 hal yang bisa mendorong terwujudnya investasi China di Indonesia. Pertama, hubungan politik yang baik antara kedua negara. Indonesia dan Tiongkok telah menyepakati kemitraan komprehensif.
Kedua, stabilitas lingkungan politik, ekonomi, dan budaya di Indonesia. Ketiga, situasi pasar dengan aturan yang transparan, adil dan terbuka.
Keempat, masyarakat Indonesia menyambut baik investasi dari Tiongkok. Dan kelima, kedua belah pihak menerapkan mekanisme pasar sesuai aturan yang berlaku secara global.
Lima hal tersebut disampaikan Asisten Menteri Luar Negeri China untuk Asia Pasifik, Kong Xuan You kepada sejumlah jurnalis asal Indonesia di kantornya di Beijing, Senin, 12 September.
Menurut Kong Xuan yang pernah menjadi duta besar untuk Vietnam, Tiongkok serius untuk bekerja sama membangun negara-negara di sekitarnya. Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan ASEAN tentu menjadi prioritas.
“Kalau dipikir-pikir, kami banyak berinvestasi di negara-negara di Afrika yang sangat jauh dari Tiongkok. “Kami lebih memilih untuk bisa berinvestasi di Asia, termasuk Indonesia,” kata Kong Xuan.
Tiongkok menekankan pentingnya efisiensi pemerintah dalam menyerap investasi. “Efisiensi yang saya maksud di sini adalah sinkronisasi antar instansi terkait investasi serta regulasi dari pusat hingga daerah,” kata Kong Xuan.
Sementara itu, pengurusan visa kerja bagi pekerja asal Tiongkok masih mengalami kesulitan. Pengusaha masih terbebani retribusi.
(BACA: China Optimistis Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Selesai Tepat Waktu)
Investasi Tiongkok di luar negeri terus meningkat. Pada semester I 2016, Negeri Tirai Bambu menginvestasikan US$130 miliar ke sejumlah negara mitra.
“Tahun depan, kami akan terus meningkatkan investasi asing hingga lebih dari US$500 miliar,” kata Kong Xuan.
Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi Tiongkok di Indonesia meningkat pesat. Pada Semester 1 2016, angkanya mencapai US$1,01 miliar atau meningkat 532% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut belum termasuk investasi pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Meski perekonomian Tiongkok tumbuh pesat, Kong Xuan menjelaskan bahwa Tiongkok saat ini menghadapi kendala yaitu perlunya mengembangkan kawasan barat lebih cepat agar bisa menyamai kawasan timur.
“Di dalam negeri, kita menghadapi masalah pembangunan yang seimbang, sementara situasi global rumit,” kata Kong Xuan. Secara lokal, permasalahan yang dihadapi antara lain kota-kota berkembang.
Keputusan menjadikan Hangzhou, ibu kota provinsi Zhejiang, sebagai tuan rumah KTT G-20 dua pekan lalu, tak lepas dari upaya pemerintahan Presiden Xi Jinping menampilkan kisah sukses Tiongkok dalam pembangunan kawasan.
“Setelah 30 tahun reformasi, keterbukaan terhadap dunia luar, permasalahan kesenjangan ekonomi dan sosial masih terus terjadi. “Ini permasalahan yang sudah kita hadapi selama puluhan, bahkan ratusan tahun,” kata Kong Zuan yang didampingi sejumlah stafnya.
Menurut Kong Xuan, wilayah timur Tiongkok menempati sepertiga dari seluruh wilayah daratan, dengan 2/3 pertumbuhan ekonomi. “Sebaliknya, wilayah barat yang menempati dua pertiganya bertanggung jawab atas sepertiga pertumbuhan ekonomi,” kata Kong Xuan.
Untuk memfasilitasi kerja sama dengan Indonesia, Tiongkok memberi semangat kontak orang-ke-orangtermasuk pertukaran pelajar, kunjungan budaya dan media.
“Kami menyadari ada perbedaan antara Tiongkok dan Indonesia. “Kami mencari titik temu yang dapat mendekatkan segalanya,” kata Kong Xuan.
Sejak pertemuan pertama antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada akhir tahun 2014 saat KTT APEC di Beijing, Tiongkok menilai bahwa visi Jokowi mengenai poros maritim dapat dikaitkan dengan gagasan Presiden Xi tentang ‘sisi abad ke-21. sabuk jalan.
“Kami tidak akan berhenti membangun kereta cepat begitu saja. “Kami ingin mendukung Indonesia dalam membangun jalan tol, pelabuhan, dan proyek infrastruktur lainnya,” kata Kong Xuan. —Rappler.com