Dokumen rahasia AS mengungkap ‘pembantaian’ pasca G30S
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia – Kali ini, apakah pemerintah akan terus terhindar dari sejarah kelam tragedi Gerakan 30 September (G30S) 1965?
Sebuah dokumen rahasia berisi komunikasi kabel diplomatik AS tentang tragedi berdarah tersebut telah dibuka untuk umum oleh lembaga nirlaba National Security Archive (NSA), National Declassification Center (NDC) dan badan pemerintah National Archives and Records Administration (NARA). Dokumen dibuka pada 17 Oktober 2017.
Ada 39 dokumen rahasia pembantaian tahun 1965 setebal 30.000 halaman yang merupakan catatan Kedutaan Besar Amerika di Indonesia pada tahun 1964 hingga 1968. Dokumen tersebut mengungkap konflik antara militer dan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berujung pada peristiwa yang disebut sebagai “pembantaian”.
Beberapa fakta terkait peristiwa G30S sudah terungkap, antara lain melalui pengakuan saksi mata dan korban. Lainnya terungkap melalui kesaksian orang-orang yang diyakini terlibat dalam peristiwa 1965.
Dokumen rahasia AS ini mengungkap beberapa fakta lain yang selama ini tertutup rapat.
Pada 21 Desember 1965 misalnya, ada kabel diplomatik dari sekretaris pertama Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, Mary Vance Trent, yang ditujukan kepada Departemen Luar Negeri AS. Kabel diplomatik tersebut menggambarkan suasana yang terjadi setelah G30S, “Sebuah perubahan fantastis yang terjadi dalam 10 minggu yang singkat.” Laporan itu juga menyebutkan sekitar 100.000 orang tewas.
Kabel diplomatik juga melaporkan bahwa di Bali saja, hingga pertengahan Desember 1965, 10.000 orang telah terbunuh. Termasuk orang tua dan keluarga besar gubernur saat itu yang dinilai prokomunis. “Pembantaian terus berlanjut,” demikian isi laporan tersebut.
Dua bulan kemudian, laporan lain dari Kedutaan Besar AS memperkirakan bahwa pembunuhan di Bali telah meningkat menjadi 80.000.
Ketika pemerintah mengadakan simposium yang membahas peristiwa tahun 1965, terjadi keributan di kalangan sesama prajurit.
Berikut sejumlah hal yang terungkap dalam dokumen rahasia AS terkait peristiwa 1965.
Tentara ingin menggulingkan Presiden Sukarno
Dalam kabel diplomatik Kedutaan Besar AS untuk Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS di Washington tanggal 12 Oktober 1965 disebutkan bahwa, “Angkatan Bersenjata Indonesia sedang mempertimbangkan untuk menggulingkan Sukarno dan melakukan pendekatan kepada berbagai kedutaan besar negara-negara Barat untuk membicarakan kemungkinan tersebut. “
“Jika terlaksana maka akan dilakukan dengan cepat tanpa peringatan dan Sukarno akan digantikan oleh gabungan junta militer dan sipil,” bunyi dokumen itu. TNI mengharapkan bantuan ekonomi berupa pangan dan lain-lain dari negara-negara Barat.
Disebutkan pula perkembangan pada tanggal 10 Oktober 1965, dimana Sukarno diduga menerima pimpinan Angkatan Darat di Istana yang memberikan laporan mengenai keterlibatan PKI dalam peristiwa 30 September. Sukarno menolak membaca dan memarahi mereka karena menghina PKI. Jendral-jendral yang tidak disebutkan namanya itu lalu meninggalkan Sukarno dengan gemas.
Bung Karno dan Intrik Permainan Istana
Pada tanggal 7 Februari 1966, terdapat kabel dari Kedutaan Besar ke Departemen Luar Negeri AS, yang ditulis satu bulan sebelum penyerahan kekuasaan resmi dari Soekarno ke Soeharto. Laporan ini mengungkap adanya “permainan istana” yang dilakukan oleh Soekarno dan orang-orang terdekatnya.
Mobilisasi massa besar-besaran sebagai cara untuk menggulingkan Sukarno tidak disarankan, dengan alasan bahwa hal itu akan menimbulkan sikap apatis di kalangan massa Indonesia, yang, menurut laporan itu, “menunjukkan keengganan untuk bergerak tanpa dukungan tentara.”
Dalam dokumen tersebut juga disebutkan bahwa pihaknya tidak mengetahui secara pasti bagaimana peralihan kekuasaan itu dilakukan. Ada kekhawatiran bahwa para pemimpin Angkatan Darat juga akan terseret ke dalam intrik istana dan tidak lagi mendukung pengganti Sukarno. Laporan ini memberikan analisis mengenai perimbangan kekuasaan pada saat itu.
Berencana untuk membunuh Omar Dani
Dokumen tersebut juga mengungkapkan bahwa Sutarto, Asisten Menteri Penerangan, Ruslan Abdulgani, menyampaikan kepada diplomat AS perlunya mengeksekusi pimpinan PKI dan Omar Dani, yang saat itu menjabat Panglima TNI Angkatan Udara, dengan cara membunuh. Hal ini tercatat dalam surat kawat KBRI ke Kementerian Luar Negeri tertanggal 18 Oktober 1965.
Sutarto mengatakan, kerusuhan anti PKI sudah meluas di Medan dan Makassar, sedangkan Jawa Tengah dalam situasi kacau. Aksi anti-PKI ini kabarnya dipimpin oleh “Tentara/Kelompok Muslim”.
“Kita harus menggantung Aidit, Nyoto dan Lukman di Lapangan Banteng untuk menunjukkan kepada semua orang siapa mereka sebenarnya,” kata Sutarto seperti dikutip dalam dokumen tersebut.
Sutarto juga mengatakan: “Omar Dani harus mengundurkan diri dari jabatannya atau kita harus membunuhnya.” Ada pejabat AU lainnya yang juga disebut-sebut akan didepak yakni Sri Muljono, Suryadarma, dan Abdoerachmat.
(BACA: Wawancara Omar Dani soal Tuduhan Terlibat G30 S)
Peran Sjarif Thajeb dalam mendiskreditkan Soekarno
Dalam laporan tertanggal 20 Januari 1967, terdapat percakapan antara staf kedutaan dengan Mayjen Sjarif Thajeb. Sharif dikutip mengatakan bahwa meskipun akan memakan waktu lebih lama dari perkiraan Suharto untuk menyingkirkan Sukarno, seperti yang diharapkan oleh Suharto dan kelompok “elang”, Suharto berjanji untuk segera meresmikan transisi tersebut.
Sukarno diperkirakan akan berpidato di sidang MPRS beberapa hari lagi, di mana ia diperkirakan akan menyangkal keterlibatan PKI dalam G30S. Sharif berpendapat bahwa Sukarno sebagian besar disalahkan pada “Nekolim” (artinya termasuk CIA) dan “teman-teman tentara lokalnya”, dalam hal ini termasuk Nasution.
Menurut Sjarif, hal ini akan semakin memperkuat posisi TNI terhadap Sukarno. Sharif berencana menggunakan momentum ini untuk bergerak melawan Sukarno dan memperkirakan akan terjadi pertumpahan darah jika Sukarno melanjutkan.
Adnan Buyung ikut melemahkan PKI dan Sukarno
Laporan diplomatik rahasia juga menyebutkan bahwa jaksa Adnan Buyung Nasution, yang saat itu berusia 31 tahun, membantu menghancurkan PKI. Dalam perbincangannya dengan Robert Rich, Sekretaris Kedua Kedutaan Besar AS, Buyung menyarankan untuk terus melakukan pengejaran terhadap komunis untuk melemahkan kekuatan PKI.
Dokumen tersebut mengungkap, Adnan Buyung juga menyarankan agar fakta pembantaian ribuan komunis disembunyikan dari Sukarno. “Pembantaian yang dilakukan tentara harus tetap dirahasiakan dan represi besar-besaran tentara terhadap PKI harus dijauhkan dari Sukarno,” kata Buyung seperti tertulis dalam telegram Kedutaan Besar AS kepada Kementerian Luar Negeri tertanggal 23 Oktober 1965.
Berdasarkan data laporan, Buyung dua kali mengunjungi KBRI untuk berdiskusi, yakni pada 15 dan 19 Oktober 1965, serta menyampaikan informasi lainnya. “Berbagai unsur militer berencana membebaskan pimpinan Masyumi dan PSI yang ditawan sejak pemberontakan PRRI.”
Dalam biodatanya, Buyung tercatat sebagai asisten pribadi Jaksa Agung sejak 1964 dan sebelumnya bertugas di bidang intelijen di kejaksaan. Pada tahun 1961, Buyung menjadi wakil jaksa yang bertanggung jawab atas perencanaan keamanan Jaksa Agung Robert Kennedy yang akan berkunjung ke Indonesia.
Kerusuhan ras menyasar etnis Tionghoa
Pada tahun itu, propaganda anti-PKI dilakukan oleh tentara. Nuansa sentimen anti-Tionghoa juga meluas di Sulawesi, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. WNI keturunan Tionghoa menjadi korban kekerasan dan dituduh sebagai pendukung, bahkan anggota PKI.
Telegram kedutaan kepada Kementerian Luar Negeri tertanggal 12 November 1965 menyatakan, “90% toko milik orang Tionghoa di Makassar dijarah dan dihancurkan pada saat kerusuhan 10 November yang dilakukan oleh hampir seluruh penduduk.” Bahkan alat-alat produksi milik Tiongkok dirampas paksa oleh tentara.
(BACA: Saat Wakil Presiden Jusuf Kalla dituding anti China).
Kabel diplomatik ke Kementerian Luar Negeri pada 7 Desember 1965 berisi informasi bahwa aset Tiongkok telah disita oleh militer. Menteri Pertanian Sudjarwo mengumumkan penggilingan padi dan pabrik tekstil China akan diambil alih militer di setiap daerah.
Permintaan bantuan militer ke AS
Dalam sebuah laporan disebutkan bahwa pada tanggal 23 Oktober 1965, terdapat surat dari Norman Hannah, penasihat politik Komandan Militer AS untuk Asia-Pasifik (CINCPAC), kepada Duta Besar Marsekal Green, yang didalamnya ia ditanya bagaimana CINCPAC dan AS harus menanggapi, “kemungkinan yang masuk akal bahwa militer akan meminta bantuan Indonesia untuk melawan PKI.”
Ia berspekulasi permintaan itu bisa menyangkut apa saja, termasuk transportasi, uang, alat komunikasi, bahkan senjata. Seminggu kemudian, Duta Besar Green meminta pemerintahan Presiden Johnson untuk menjajaki kemungkinan memberikan bantuan jangka pendek secara diam-diam, tanpa pengakuan, sebagai tanda dukungan AS terhadap militer, yang mencakup uang, peralatan komunikasi, dan senjata.
Kader PKI mengaku tak mengetahui apa yang terjadi
Telegram KBRI kepada Departemen Luar Negeri, 20 November 1965, menggambarkan bahwa kader-kader PKI tidak mengerti apa yang terjadi, dan tidak tahu harus berbuat apa. Informasi tersebut diperoleh diplomat Amerika dari jurnalis terpercaya Australia.
Wartawan tersebut disebut-sebut merupakan jurnalis Barat pertama yang berkunjung ke Jawa Tengah, yakni pada 10 Oktober 1965. “Dia berbicara dengan kader PKI di berbagai tempat di Jawa Tengah,” demikian bunyi laporan itu.
Informasi tersebut dibenarkan oleh Konsul Politik Kedutaan Besar Yugoslavia yang mengaku rutin berhubungan dengan aktivis PKI. Para aktivis tidak panik dan tetap yakin bahwa Soekarno akan melindungi mereka. “Mereka tidak akan bertindak tanpa perintah Sukarno,” kata diplomat itu.
Jihad membantai ribuan orang di distrik tersebut
Pada tanggal 26 November 1965, ada laporan dari Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya yang menyebutkan adanya pembantaian di beberapa daerah di Jawa Timur oleh Ansor. Di Tulungagung sedikitnya 15.000 orang komunis dibunuh.
“Pembantaian itu diwarnai dengan Perang Suci (jihad): membunuh orang-orang kafir akan memberikan tiket ke surga dan menyeka darah korban di wajah akan lebih terjamin (masuk surga),” kata laporan itu.
Tentara mempersenjatai Hansip untuk membunuh PKI
Laporan tersebut juga menyebutkan, selain kelompok Islam, militer juga mempersenjatai pertahanan sipil atau hansip sebagai dukungan untuk melawan PKI. Dalam laporan Konsulat Jenderal AS di Medan disebutkan hal itu dilakukan untuk meningkatkan peran pengawasan di kota dan pedesaan.
“Setelah diterapkan, rantai komando militer meluas ke setiap desa di Sumatera,” tulis laporan itu.
Tidak sampai disitu saja, generasi muda berusia 8-13 tahun dipaksa mengikuti Pramuka yang dikendalikan oleh militer. “Singkatnya, Sumatra dengan cepat berubah menjadi negeri tentara.”
Rappler mencoba menghubungi Kepala Penuspen TNI Mayjen Wuryanto pada Rabu pagi, 18 Oktober 2017. Hingga artikel ini diterbitkan, belum ada tanggapan. – Rappler.com