Jangan sampai generasi muda melupakan Munir
keren989
- 0
Upaya memperjuangkan keadilan Hak Asasi Manusia (HAM) memerlukan regenerasi agar perjuangan tetap hidup dan terus berlanjut
JAKARTA, Indonesia – Hariwi masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) saat pertama kali mendengar nama Munir Said Thalib. Meski tak terlalu peduli, nama itu melekat dalam ingatannya.
Kenangan terpendam tersebut terbangun saat ia menyaksikan demonstrasi buruh besar-besaran pada tahun 2013. “Dari situ saya mulai mencarinya,” ujarnya saat mengikuti diskusi ‘Pekan Peduli Kenangan’ di Kinosaurus Jakarta, Rabu, 7 September.
Ia pun mulai mengumpulkan materi tentang sosok Munir. Penelitiannya ia lakukan dengan membaca artikel tentang aktivis asal Batu, Jawa Timur ini; untuk bertemu keluarga dan teman-teman dari gerakan yang sama.
Setelah proses penelitian selesai, Hariwi merasa sayang jika ilmu itu terhenti begitu saja. Karena itulah ia ingin mendokumentasikannya dalam bentuk film pendek.
Niat tersebut tak hanya mendapat dukungan dari rekan bermainnya, namun orang-orang dekat Munir yang ditemuinya juga sangat antusias dengan idenya. “Sejujurnya saya sendiri belum pernah membuat film, tapi kenyataannya memang demikian mendukung. Pada akhirnya, kami akan menggunakan dana, kru, dan peralatan apa adanya,” katanya.
Hariwi menargetkan proses produksinya selesai dalam waktu satu tahun, sehingga film bertajuk ‘Kisah Cak Munir’ bisa dirilis bertepatan dengan 10 tahun wafatnya. Namun target tersebut meleset karena produksi baru selesai pada bulan Desember. “Akhirnya tayang perdana di Omah Munir,” ujarnya.
Film ini bercerita tentang biografi Munir; seperti apa kehidupannya dan kesan Suciwati terhadap suaminya yang ‘malah sakit kalau tidak membantu orang’. Hariwi yang saat ini masih kuliah berhasil meraih penghargaan khusus untuk kategori film terbaik di Festival Film Indonesia 2015.
Dokumenter percobaan
Hal lainnya adalah Steve Pillar Setiabudi, sutradara film dokumenter Ceritanya menayangkan persidangan terdakwa pembunuh Munir, Pollycarpus Budihari Priyanto. Survei tersebut ia kumpulkan dari dokumentasi media dan teman-temannya.
“Agar penonton paham siapa yang membunuh Munir dan alasannya. “Masih belum jelas penjelasannya, dan pelakunya masih buron,” ujarnya.
Film berdurasi hampir 30 menit ini tidak hanya menampilkan persidangan; terjadi pula pengrusakan harta benda aktivis pembela Munir oleh pihak tak dikenal. Ada pula saat Polly dengan santai berjalan di depan wartawan dan mengajak mereka ke Papua. “Biayanya akan saya tanggung nanti,” ucapnya sambil tersenyum.
Penampilan Polly yang santai seolah menggambarkan keadaan kasus Munir. Aktivis Hak Asasi Manusia sekaligus Sekretaris Tim Pencari Fakta Pembunuhan Munir (TPF) Usman Hamid mengatakan, masih ada pelaku lain yang belum diadili, bahkan dibebaskan.
Kenapa Munir?
Lantas kenapa keduanya begitu getol membuat film tentang Munir, dari dua sudut berbeda? Bagi Hariwi, ia tak ingin generasinya terputus total dari sosok Munir.
“Saat dia meninggal, saya kelas 4 SD, tidak tahu apa-apa. “Tahun 2013 saya hanya kenal Munir, saya tidak tahu nama lengkapnya,” ujarnya. Generasinya, atau yang berusia 20 tahun ke bawah, adalah mereka yang putus dengan suami Suciwati.
Baginya, penting untuk terus menghadirkan sosok Munir, perjuangan dan semangatnya kepada generasi muda.
“Saya dan teman-teman membuat film ini untuk mengenal Munir, karena penting untuk mengetahui sosoknya,” ujarnya.
Sementara itu, Steve juga mencoba melanjutkan advokasinya yang terputus. Seperti hal-hal yang masih belum jelas dan fakta yang ditutup-tutupi oleh pemerintah, hingga keadilan bagi pelaku kejahatan yang masih bebas.
Namun, hal tersebut bukanlah tujuan utama. “Betapa kita mengingat keberanian Munir dapat menginspirasi generasi muda untuk peka dan berani bersuara mengenai ketidakadilan yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.
Saat ini, mereka yang masih memperjuangkan keadilan HAM dari masa lalu sudah semakin menua. Jika tidak ada regenerasi, kemungkinan pertarungan akan berakhir karena para petarung dibungkam oleh usia.
Maria Sumarsih, orang tua siswa yang menjadi korban petugas dalam peristiwa Semanggi I mengatakan, sudah ada bibit-bibit generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan. Harus dimulai, ketika 98 aktivis sudah masuk dan tidak berdaya, masih ada generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan kita, ujarnya saat ditemui terpisah pada aksi Kamisan, Kamis, 8 September di seberang Istana Negara, Jakarta.
Baginya, perjuangan ini tidak hanya mencontohkan semangat menuntut keadilan. Juga cinta untuk mereka yang telah tiada. “Dan cinta itu harus diperjuangkan,” ujarnya.
Kematian tidak serta merta mengakhiri sebuah perjuangan. Munir, serta para pejuang lainnya, tetap tinggal; dan berkembang biak. -Rappler.com
BACA JUGA: