• May 4, 2026
Kebijakan sekolah sehari penuh harus diputuskan melalui ratas

Kebijakan sekolah sehari penuh harus diputuskan melalui ratas

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Menurut JK, Presiden Jokowi meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir menunda kebijakan sekolah sehari penuh

JAKARTA, Indonesia – Wakil Presiden Jusuf “JK” Kalla menilai kebijakan tersebut sekolah sehari penuh (FDS) selama delapan jam tidak bisa begitu saja diputuskan dengan selembar Peraturan Menteri. Karena menyangkut nasib sekitar 50 juta siswa Tanah Air mulai dari tingkat SD hingga SMA, maka persoalan ini harus dibicarakan dalam rapat terbatas.

“Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Rabu pagi diperintahkan untuk menunda kebijakan ini. (Keputusan) seharusnya dibicarakan secara matang di pemerintahan. Mungkinkah keputusan yang menyangkut 50 juta siswa SD, SMP, dan SMA itu hanya diatur dengan keputusan menteri? kata JK saat istirahat pimpinan redaksi, Rabu malam, 14 Juni.

Selain nasib 50 juta siswa sekolah, kebijakan ini juga menyangkut sistem yang akan dibangun. Salah satunya soal logistik untuk mahasiswa.

“Di mana anak-anak ini makan, kan? Di kota besar hal ini normal, tapi di kota mana? Siapa yang membuat dapur di sekolah? Ada TIDAK ruang makan? “Itu yang paling sederhana, selain yang lain,” ujarnya.

JK menilai masih ada sekolah yang belum siap menerapkan kebijakan tersebut. Oleh karena itu, kebijakan FDS tidak dapat dilaksanakan secara umum melainkan bertahap.

Sebelumnya, Muhadjir mengatakan, kebijakan delapan jam sekolah sehari akan mulai diterapkan pada tahun ajaran baru ini. Namun, pihaknya akan menerapkan kebijakan tersebut secara bertahap.

Kebijakan ini tertuang dalam peraturan menteri yang dikeluarkan pada 9 Juni lalu. Permen tersebut merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2017.

“Tahun ajaran baru ini akan kita laksanakan,” kata Muhadjir akhir Mei lalu seperti dikutip berikut ini. media.

Secara teknis, proses belajar mengajar akan dilaksanakan pada hari Senin hingga Jumat dalam satu minggu. Dengan cara ini, sekolah dapat memberikan libur dua hari bagi siswanya. Kebijakan ini akan diterapkan secara nasional baik untuk sekolah negeri maupun swasta.

“Jadi disesuaikan dengan orang tua yang bekerja rata-rata lima hari,” ujarnya.

Muhadjir berharap kebijakan ini memberikan waktu yang cukup bagi anak untuk berkomunikasi dengan orang tuanya. Dalam praktiknya, delapan jam di sekolah tidak hanya diisi dengan pelajaran. Sesi belajar mengajar selesai pada sore hari dan dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler.

“Dengan cara ini siswa dapat membentuk karakter, kepribadian, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya,” kata Muhadjir.

Pertimbangan lain di balik kebijakan ini adalah dapat membantu guru mendapatkan waktu mengajar 24 jam per minggu. Hal ini menjadi salah satu syarat untuk lolos proses sertifikasi guru. – Rappler.com

sbobet