• April 23, 2026

Kisah aktivis muda Muhammad Ahsin: Perkuat pesisir, pemberantasan korupsi

Muhammad Ahsin atau biasa disapa Ahsin bukanlah tipe pemuda masa kini. Ia tidak bermain game online, tidak nongkrong di kedai kopi, dan tidak memiliki klub motor.

Hobinya yang tidak terlalu ‘muda’, yaitu berkelahi dengan lumpur kolam, melawan gerusan dengan hutan bakau, dan tak kenal lelah mendorong warga untuk menyelamatkan lingkungan dari rumah ke rumah.

Ia sering dipandang rendah, sering diejek, bahkan terkadang dihina. Banyak yang menganggap upayanya untuk memperbaiki lingkungan adalah pekerjaan yang sia-sia.

Menjelajahi Desa Purworejo di pesisir utara Kabupaten Demak, tempat Ahsin bertugas saat ini, kita akan disuguhi pemandangan ratusan kapal besar berjejer, tempat pelelangan ikan yang megah, dan berbagai usaha pengelolaan ikan laut.

Namun di sisi lain, ada pemandangan yang memilukan: sampah yang menumpuk di sepanjang sungai, lumbung-lumbung yang semakin mengikis tanah, dan air pasang yang sewaktu-waktu menenggelamkan sebagian kota.

Sore itu, di gubuknya yang sederhana di antara dinding bendungan yang ditumbuhi pohon bakau, saya berkesempatan berbincang dengan Ahsin. Ia berbicara tentang perjuangannya memperbaiki lingkungan yang penuh tantangan.

Antusiasme dan harapan terpancar saat ia menceritakan keberhasilannya menanam mangrove. Pada saat yang sama, saya juga merasakan kekhawatirannya ketika dia bercerita tentang air pasang.

Ia membayangkan desanya akan habis ditelan air pasang dalam sepuluh tahun ke depan. Alam memberikan tanda-tanda ini.

Mulai dari hancurnya usaha bendungan

Tahun 1997 merupakan masa keemasan Desa Purworejo. Saat itu, udang windu menjadi andalan tambak. Udang macan adalah rajanya. Petani tambak akan melakukan apa saja demi raja, termasuk menebang pohon bakau, mengubah sawah menjadi tambak, bahkan menggunakan bahan kimia tanpa pandang bulu. Semua demi hasil instan, demi uang ratusan juta, demi berlomba haji.

Ashin ingat hari-hari ketika peternakan ikan orang tuanya juga menghasilkan berton-ton udang windu dan bandeng, dan uang dapat diperoleh dengan sangat mudah. Masyarakat Purworejo menyebutnya gemah ripa loh jinawi. Saat itu Desa Purworejo merupakan salah satu desa dengan tingkat pendapatan ekonomi tertinggi di Demak.

Namun penggunaan pakan dan bahan kimia telah mengubah pola budidaya petani dari yang alami menjadi intensif. Mereka percaya bahwa semakin banyak makanan dan bahan kimia yang diberikan, maka hasilnya akan semakin melimpah.

Mereka tidak menyadari bahwa di balik kemasan ikan dan bahan kimia terdapat misi tersembunyi dari para pelaku industri tersebut, yakni menciptakan ketergantungan. Misinya berhasil. Tingkat ketergantungan terhadap petani tambak semakin tinggi.

Bukan hanya 3 – 5 karung saja, puluhan ton pakan pabrik dan bahan kimia lainnya masuk ke dalam kolam. Akibatnya alam mulai menunjukkan perlawanannya: tambak mulai bermasalah, air mulai keruh, tanah tidak subur lagi, dan plankton mulai menghilang.

Ahsin pun masih ingat betul kapan bencana mulai melanda. Usaha budidaya perikanan bangkrut, petani tambak jatuh miskin, utang menumpuk, dan pengangguran meningkat. Yang lebih mengerikan lagi adalah dampak bangkrutnya usaha budidaya ikan.

Para petani mulai meninggalkan lahannya tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Tambak yang dulunya dianggap sebagai raja dan mesin penghasil uang, kini menjadi momok menakutkan, mengalami trauma tiada akhir.

Tak ada lagi petani-petani yang berkeliaran di tambak, tak ada lagi pemandangan memanen berton-ton ikan dan udang, tak ada lagi sepeda motor atau mobil baru yang bergesekan saat panen, dan tak ada lagi kabar para petani berbondong-bondong berziarah.

Kini mereka menjadi buruh pabrik, bekerja serabutan di kapal penangkap ikan, dan menjadi nelayan kecil tanpa akses terhadap modal.

‘Orang gila’ yang mencintai lingkungan

Bendungan yang terbengkalai, kemiskinan dan ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan menjadi pemandangan pasca runtuhnya usaha bendungan di Desa Purworejo. Bencana yang semakin menggerogoti pesisir kota dan menenggelamkan sebagian bendungan tak mampu menyadarkan mereka dari tidur panjang masa lalu.

Ahsin tergerak untuk membangunkan para petani dari tidur panjangnya, dengan keberanian dan keyakinan bahwa lingkungan harus segera diperbaiki. Dari rumah ke rumah, dari warung ke warung, ia mulai mengajak masyarakat untuk bergerak menyelamatkan lingkungan. Ia menawarkan penanaman mangrove menjadi salah satu solusinya.

Hasil? Ahsin baru dianggap anak-anak kemarin sore oleh petani tambak yang didominasi lansia. Tak sedikit orang yang menyebutnya gila. Mereka mencemooh dan menganggap menanam mangrove adalah pekerjaan menganggur yang sia-sia.

Namun Ahsin muda tidak menyerah. Saat ajakannya dijawab dengan satu tangan, bukannya melambat, Ahsin malah semakin mantap. Dia mulai menanam bakau sendiri. “Jika bukan aku yang memulainya, siapa lagi?” dia berkata.

Apa yang dilakukan Ahsin saat itu sederhana saja. Menurut dia, salah satu penyebab bangkrutnya usaha budidaya perikanan adalah kurangnya tanaman mangrove. Sepuluh hektar hutan bakau ditebang tanpa ampun hanya untuk memperluas bendungan. Padahal, saat itu tanaman bakau sebenarnya berfungsi sebagai penyaring air yang masuk ke bendungan. Mangrove merupakan pertahanan alami bendungan terhadap gerusan.

Ia mulai menanami wilayah pesisir dan bekas bendungan yang hancur akibat gerusan. Tentu saja tidak semudah yang dia bayangkan. Usahanya menanam mangrove beberapa kali gagal. Ribuan bibit mangrove mati dan banyak uang yang keluar dari kantong pribadinya.

Namun Ahsin tidak menyerah. Dia sebenarnya belajar dari kegagalan tersebut. Antusiasmenya semakin besar ketika pemerintah setempat dan berbagai masyarakat di Desa Purworejo mulai bersimpati dan membantu kegiatan penanaman yang dilakukannya.

Masih ada harapan di Purworejo

Lima belas tahun berlalu, perjuangan Ahsin mulai membuahkan hasil. Tepian dan bendungan kota, setelah hancur, mulai ditumbuhi pohon bakau yang kokoh. Mangrove merupakan sabuk pengaman yang melindungi sebagian pesisir Desa Purworejo.

Ahsin tidak berhenti sampai di situ. Ia mulai mengerahkan para nelayan, petambak, dan tokoh masyarakat yang peduli lingkungan untuk membentuk kelompok pelestarian lingkungan di tingkat desa. Ahsin sadar betul bahwa untuk melakukan perubahan tidak bisa sendirian, harus bersatu.

Pilihannya tepat, kelompok yang dibentuknya mulai mempunyai pengaruh tidak hanya dalam bidang sosial masyarakat, namun juga dalam tataran kebijakan pemerintahan desa.

Beliau juga membuka ilmu sebagai pintu perubahan. Ahsin membuat rumah belajar mangrove di kolam miliknya. Ahsin berharap rumah belajar mangrove yang dibuatnya bisa menjadi tempat bertanya dan berdiskusi berbagai hal terkait lingkungan.

Ia juga membangun pembibitan mangrove yang hasilnya ia sumbangkan secara gratis untuk kegiatan reboisasi. Kegiatan penelitian dan studi banding berbagai universitas juga sering dilakukan di lokasi ini.

Ia menghidupkan kembali bendungan sebagai sumber ekonomi yang sempat terbengkalai. Kebangkrutan yang dialaminya beberapa tahun lalu tak membuatnya putus asa. Ia belajar di berbagai tempat untuk belajar tentang pengelolaan bendungan.

Beruntung, ia bertemu dengan orang-orang dari Balai Besar Budidaya Perikanan Air Payau (BBPBAP) di Jepara yang ahli dalam budidaya dan pengelolaan tambak.

Pilihan menjalankan bendungan ramah lingkungan bukan tanpa alasan. Trauma penggunaan bahan kimia yang menyebabkan hancurnya usaha budidaya ikan terus berlanjut. Menurut Ahsin, orientasinya dalam pengelolaan bendungan bukan pada produksi berton-ton produk, melainkan pada pengelolaan bendungan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Menurut Ahsin, sudah saatnya petani tambak harus memutus rantai ketergantungan terhadap bahan kimia, Petani harus berdaulat dan mampu memproduksi sendiri kebutuhannya dalam pengelolaan tambak.

Kata-katanya bukan omong kosong. Ahsin dan kelompoknya sudah mampu membuat kompos dan prebiotik sendiri untuk budidaya ikan dan udang selama hampir lima tahun terakhir. Selain itu, bersama kelompoknya, mereka juga memperbaiki sistem saluran air di bendungan dan memanfaatkan tanaman bakau sebagai penyaring air di satu kawasan.

Hasilnya cukup menggembirakan, dalam tiga tahun terakhir hasil panen bandeng melimpah dan udang tidak terkena stres.

Korupsi dan ketulusan

Saat ini, Muhammad Ahsin mulai menikmati hasil perjuangannya: puluhan hektar tanaman bakau tumbuh di tepi pantai desa dan kolam-kolam ramah lingkungan. Namun ia tidak berpuas diri, menurut Ahsin masih ada permasalahan lain yang perlu diselesaikan yakni meningkatnya air pasang, sampah di sepanjang sungai, dan perahu nelayan yang tidak ramah lingkungan.

Tak bisa dimungkiri, kesuksesan Ahsin saat ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah. Sayangnya, dukungan pemerintah seringkali tidak berkelanjutan dan hanya berorientasi pada proyek.

Misalnya pada proyek rehabilitasi mangrove, kelompok tersebut hanya dijadikan buruh penanaman tanpa ada pemberdayaan. Bibit mangrove untuk kegiatan rehabilitasi juga didatangkan dari luar kota melalui kontraktor, padahal kelompok tersebut sudah mempunyai kapasitas untuk membuat pembibitan.

Lain halnya ketika ia ditunjuk sebagai pengawas kegiatan rehabilitasi mangrove oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Demak, selama delapan bulan bekerja ia hanya dimanfaatkan tenaga kerjanya tanpa imbalan apa pun.

Meski harus bepergian dari kota ke kota dengan sepeda motor untuk pekerjaan ini, ia harus mengeluarkan uangnya sendiri. Anehnya, ia harus membuat laporan dan dokumentasi kegiatan setiap tiga bulan sekali.

Menurut Ahsin, salah satu penyebab kegagalan kegiatan pelestarian lingkungan hidup adalah adanya perilaku koruptif dan tidak jujur ​​di kalangan masyarakat dan pemerintah. Bukan hanya uang yang dikorupsi, alam yang bukan haknya seringkali diambil tanpa ampun.

Penggunaan kapal yang menggunakan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti garu, jaring ring, dan garu samping merupakan contoh nyata betapa praktik ilegal masih terus terjadi hingga saat ini.

Pemilik kapal rakus mengambil isi laut, akibatnya ekosistem pesisir rusak parah. Seolah membenarkan praktik tak bermoral ini, pemerintah mengabaikannya, tidak ada aturan yang ditegakkan!

Muhammad Ahsin adalah seorang pemuda yang tidak biasa. Ia berani berpartisipasi dalam perubahan. Bukan melalui partai politik atau menjadi pendakwah, melainkan jalan santai bersama alam pilihannya.

Meski banyak tantangan dan pengorbanan, ia yakin dengan keikhlasan dan kerja keras, alam semesta akan mendukungnya untuk terus berupaya menyelamatkan lingkungan. –Rappler.com

Didik Fitrianto bekerja di Wetlands International Indonesia. Beliau dapat dihubungi di @didik_ftr