• April 17, 2026
Panggilan terbuka untuk Luhut dari Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta

Panggilan terbuka untuk Luhut dari Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Koalisi yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat meminta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menghentikan proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta.

JAKARTA, Indonesia – Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta meminta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman mencabut pernyataannya bahwa reklamasi Pantai Utara Jakarta bisa dilanjutkan pada Jumat 16 September.

Bertempat di LBH Jakarta, koalisi tersebut terdiri dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Pusat Bantuan Hukum Dompet Dhuafa, Komunitas Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Solidaritas Perempuan, BEM UI, dan BEM Seluruh Indonesia telah memberikan alasannya menolak keputusan Luhut untuk melanjutkan proyek reklamasi Pulau G yang sebelumnya dihentikan berdasarkan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta (PTUN Jakarta) Nomor 193/G/LH/2015/PTUN-JKT, tolak.

“Dengan dilanjutkannya reklamasi Pulau G, maka negara telah menjadi pelaku pelanggaran hukum dan pelanggaran HAM,” kata Farid Ridwanuddin, peneliti KIARA.

Hal itu pun tertulis dalam somasi publik yang dilayangkan kepada Luhut.

“Kami percaya bahwa tindakan Anda dalam memutuskan untuk melanjutkan pemulihan Pulau G adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip supremasi hukum dan tindakan. Penghinaan terhadap pengadilan atau menghina peradilan,” demikian isi surat panggilan tersebut.

Pak Iwan, perwakilan nelayan dari kawasan Muara Angke, Jakarta, mengatakan kelanjutan proyek daur ulang akan berdampak buruk bagi nelayan dan seluruh masyarakat Jakarta.

“Dampaknya ada di mana-mana. PLTU bisa terganggu. “Kalau warga DKI Jakarta ingin menikmati laut harus membayar,” kata Iwan.

Ia juga mengatakan, pendapatan sekitar 16 ribu nelayan di Teluk Jakarta mengalami penurunan drastis sejak proyek reklamasi dilakukan.

“Yang tadinya sekitar 15 kilogram atau 1 kuintal, sekarang paling banyak 10 kilogram atau 5 kilogram,” ujarnya.

Apakah kamu takut

Sebelum surat panggilan dikeluarkan, BEM UI mengaku sempat melakukan audiensi dadakan dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Pemprov DKI Jakarta usai turun ke jalan pada Selasa, 13 September.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit itu, tim peneliti Pemprov DKI menjelaskan mengenai proyek daur ulang.

Banyak pernyataan yang memutarbalikkan fakta, kata Reynaldi Ikhsan, Ketua Departemen Aksi dan Propaganda BEM UI.

Tim kajian Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman juga belum mampu menjawab pertanyaan mahasiswa. Hal ini, menurut Ikhsan, membuat pegawai Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyita telepon genggam salah satu mahasiswa dan menghapus rekaman video yang diambil saat pertemuan tersebut.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan tidak banyak bicara dalam pertemuan tersebut.

“Pak Luhut tidak memberi banyak penyataan. Namun dia berkata: ‘Jangan berpolitik, ayo bermain-main dengan data aha.’ “Iya, kami bermain-main dengan data, tapi Kemenko Maritim tidak bisa membungkam kami,” kata Ikhsan.

BEM UI akan berkoordinasi dengan anggota koalisi lainnya untuk menentukan langkah selanjutnya dalam upaya penyelamatan Teluk Jakarta. —Rappler.com

Live HK